Stories 16

27 1 0
                                        

Pagi hari, saat di meja makan...

"Kenapa Nara dan Novan diam saja?" tanya Cyzo. Aku menoleh.

"Tak apa..." ucapku bersamaan dengan Novan. Semua yang tengah makan langsung mendongak.

"Waahhh, kalian makin kompak...!!" ucap Dio. Aku mengumpat. "Tidak juga..." kami mengatakannya bersamaan lagi.

"Kami kan berteman lama." Ucap kami bersamaan lagi. "Wooaaa..." Yura tiba-tiba bertepuk tangan. Aku akhirnya diam melanjutkan makanku.

"Kalian lucu..." ucap Yura. "Kembalilah makan, lalu bersiap latihan." Ucap Khyo. Kami kembali melanjutkan makan.

Kami harus segera berlatih lagi. Novan benar-benar marah? Dia tak pernah marah padaku. "Ayo, Ra..." ajak Mey.

"Aaah?? A-ayo..." ucapku beranjak meninggalkan meja makan. Aku berjalan ditemani Mey.

"Kau sedang bertengkar dengan Novan?" Tanya Mey. "Ti-tidak...." ucapku.

"Kami sering seperti ini, tiba-tiba saling diam. Itu biasa." Ucapku. "Aaahhh, begitu ya..." ucap Mey menganggukkan kepala.

***

"Bagus nak teruskan..." ucap Dyro mengarahkan Mey. Seharian ini aku merasakan gempa bumi beberapa kali karena Mey beberapa kali pula menghantamkan batu-batu untuk menyerang Dyro.

"Kau makin baik, Mey..." ucap Dyro menyudahi latihannya. "Huhhhhh..." Mey langsung membiarkan tubuhnya ambruk ke rerumputan.

"Aku lelah..." ucap Mey. Dyro hanya tertawa, "Earth adalah marga yang bermanfaat..." ucap Dyro.

"Bagaimana bisa?" tanya Mey masih mengatur nafas. "Ya, setelah kau berlatih kau bisa bertanam di taman belakang tanpa harus berkotor-kotor." Ucap Dyro.

"Benar juga, kau pernah melakukannya?" tanya Mey. "Kau pikir yang merawat taman belakang itu siapa?" tanya Dyro.

"Apa itu kau!?" tanya Mey takjub karena taman belakang begitu indah. "Tentu saja tukang kebun kerajaan..." "Yaaakkk!!? Dyro?!!" teriak Mey.

"Aku bercanda... Aku hanya menanami di kebun buah sebelah sana itu. Tapi burung hantu Nara beberapa kali memetik buahnya dan diberikan pada Nara..." ucap Dyro.

Mey hanya tertawa. "Burung itu pintar sekali." Ucap Mey.

"Selain itu, Earth lah yang dahulu membentuk Ercha hingga jadi seperti sekarang." Ucap Dyro.

"Be-benarkah?" Tanya Mey. Dyro mengangguk. "Earth juga yang menyelamatkan bumi dari hujan meteor. Itu melelahkan dan aku melakukannya sendiri." Ungkap Dyro.

"Begitukah? Hebat..." ucap Mey berbinar. "Earth adalah marga paling dihormati di seluruh planet. Percayalah." Ucap Dyro.

Mey mengangguk, ternyata Earth tak seburuk itu. "Istirahatlah." Ucap Dyro. "Sudah?" tanya Mey. "Sudah." Ucap Dyro.

Mey menatap langit. "Dyro, apa kami akan selamanya disini?" tanya Mey.

"Kalian punya akses bebas ke bumi." Ucap Dyro. "Benarkah?" tanya Mey. "Ya, kalian bisa lewat portal lagi." Ucap Dyro.

"Bagaimana jika kami tak bisa?" tanya Mey khawatir. "Aku yang akan membantumu..." lelaki itu mengelus kepala Mey pelan lalu beranjak pergi.

"Aku ingin segera menyudahi semua." Batin Mey.

***

Tanganku mengusap peluh yang mendanau di keningku. "Bagus, Nara... Kau sempurna." Ucap Seza. "Terimakasih." Ucapku lemas.

Wind of ErchaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang