2- Aku tidak mau!

182 32 44
                                    

Flasback On.

"Maaf, Aku belum bisa menggantinya. Tapi, aku akan bayar." Ayah Aleza memelas memohon pada kedua pria itu.

"Maaf mu tidak ada artinya apapun!" bentak pria itu semakin keras.

"Maaf, tuan. Aku akan menyerahkan apapun demi hutang itu. Tetapi, jangan ganggu keluargaku." Ayahnya memohon demgan tangan yang dilipan sambil menatap nanar ke arah pemuda itu.

Bugh!

Pria yang satu memukul Ayah Ale tanpa ampun. Mereka menyeringai dan menarik kerah kemejanya.

"Dasar tak berguna! Jika kau tidak bisa bayar, makanya tak usah mengutang!"

Kemudian pria yang satunya menyeringai.

"Aku punya ide padamu. Bagaimana pinjamkan kami putrimu yang ada di luar. Aku akan menganggapnya lunas."

Ayah dan Ibunya Ale mulai menangis.

"Tidak!! Aku takkan menjadikan putriku korban atas diriku. Aku akan berusaha mengumpulkannya, tolong beri Aku waktu, Aku janji pasti akan menepatinya." Ayah Ale sudah memohon mengatupkan kedua tangannya seperti sedang berdoa.

"Baik!! Jika itu pilihanmu, kami akan datang seminggu lagi. Dan kau harus ingat, kembalikan Rp. 20.000.000! Belum lagi bunganya, Kau mengerti?!" Ia membentak
Ayah Aleza dengan nada yang sangat keras.

"Kalau kau tak bisa? Maka... Putrimu akan kami ambil sebagai gantinya. Mengenai hal apa yang akan kami lakukan, itu terserah dan sebebas kami. Tapi, tenang saja, kami tidak sebejat pikiran kalian. Kami hanya akan menjual satu dari sepasang organ tubuhnya. Bisa ginjal, atau mata, atau bisa juga keduanya. Kalau kau tak mau anakmu yang ini berkorban, maka mungkin kami akan menindas dan melukai kalian semua. Mengerti?!" bentakan pria itu kembali menggelegar.

Dasar! Lagi-lagi mereka mengancam dengan nada tinggi dan nada tak sopannya pada orang tua. Kalau saja Aleza ada di situ sebagai seorang anak laki-laki, mungkin Aleza akan melawannya dan menutup mulut mereka hingga tak bisa berbicara sepatah kata lagi.

Flasback Off

Deg!!

Aleza sangat terkejut. Ia menangis kencang setelah mendengar ini. Ia ingin berteriak. Bagaimana mungkin orang kecil seperti mereka membayar hutang sebanyak itu?

Mereka adalah keluarga sederhana. Ale sangat bingung, untuk apa Ayahnya mengutang sebanyak itu?
Padahal, selama ini tidak ada perubahan yang ada dalam rumah. Sekolah? Ale dan kedua adiknya hanya bersekolah di sekolah negeri yang notabenenya  tidak banyak pengeluaran. Perabotan rumah pun tak ada yang bertambah. Bahkan, jika kalian mau tahu, kursi tamu yang dulu kami miliki sudah lapuk dan tak tergantikan hingga saat ini.

Kini berbalik, Ibunya yang memeluk Aleza erat. Ibu bisa merasakan tubuhnya Ale bergetar hebat. Bayangkan saja, siapa yang tidak bergetar menghadapinya? Siapa yang tak takut, bahwa dirinya akan menjadi tumbal atas hutang yang ia tidak tahu-menahu.

Persetan dengan itu, Ale  tidak terima. Meski Ia tahu Ayahnya pekerja keras, tapi mana mungkin Ayahnya akan mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam kurun waktu seminggu.

Bahkan untuk tahun ini saja, rumah kontrakkan yang mereka tempati belum dibayar.

Aleza tak terima! Ia tak mau! Siapa yang akan terima bila organ tubuhnya diambil? Secara langsung, Ale akan menjadi cacat. Apa mereka gila? Mereka melakukan pemaksaan pengambilan organ. Aleza tau Ayah yang salah sampai berhutang. Tapi, bukan dengan cara pembayaran dengan organ seperti ini. Ia masih hidup. Tidak bisakah mereka mencari donor dari orang yang sudah tiada? Mengapa harus kepada orang yang masih hidup? Segera Ale pergi menuju kamarnya dan membanting pintu. Dikuncinya pintu rapat-rapat agar tak ada yang bisa masuk.

Terdengar ibu semakin menagis. Tetapi, Ale bisa apa? Bahkan, ia tak mengerti mengapa ayahnya mengutang sebanyak itu.

Setibanya di kamar, ditenggelamkan kepalanya ke dalam bantal. Rasanya Ia ingin berteriak.

AH!!! Bagaimana bisa?!

Tapi ia batalkan. Ia mengingat waktu yang sudah larut dan tak mungkin baginya untuk berteriak.

Aleza ingin pergi? Tetapi, bukankah itu sama saja dengan menyerahkan keluarganya? Apa Ia tega? Tapi, apa mungkin Ia menyerahkan diri sendiri? Apa Ia egois jika memilih menyelamatkan hidupnya dan masa depannya?

Lalu, apa yang Aleza harus pilih?!

Aleza semakin frustrasi, sampai akhirnya Ia tertidur dengan air mata yang mengering.

***
Malamnya, Aleza terbangun, sepertinya cacing-cacing di perutnya sudah berdemo.

Ale berniat ke dapur, namun  dibatalkannya. Bisa-bisa dia akan bertemu Ayah dan Ibunya. Aleza belum siap.

Akhirnya Ale kembali ke kasur kecilnya. Dia mulai merenung lagi atas jalan keluar terbaik.

Kruuuukkk!

Terdengar suara yang sangat dekat dengan dirinya. Aleza meringis teenyata bunyi itu berasal dari perutnya. Ia tak bisa kenal waktu. Padahal, Ale sangat sedih. Tetapi, namanya juga perut, tidak bisa diajak berkompromi dan tak kenal waktu. Sepertinya Aleza memang harus makan untuk menjernihkan pikiran dan menemukan jalan terbaik.

Tetapi, tak mungkin Aleza keluar. Akhirnya Dia memilih untuk merogoh tas sekolahnya. Beruntung, dia memiliki sebuah roti kecil dengan minuman gelas yang tinggal. Segera dimakannya perlahan. Meski tak cukup, setidaknya itu cukup membantunya untuk membuatnya tidur nyaman hingga besok pagi.

Setelah selesai, Aleza kembali berpikir.

"Bodoh!!" rutuknya pada diri sendiri.

Kenapa Aku tak mendengar kelanjutan cerita itu?! Bagaimana mungkin aku tak bertanya untuk apa uang itu dipergunakan? Dan pada siapa ayah menghutang?

kata hati Aleza terus berkata seperti itu.

"Akhh!!!" Aleza berteriak sambil menarik rambutnya agak kasar. Merutuki kebodohan fatalnya karena tersulut emosi yang menggebu-gebu.

Akhirnya setelah selesai, Aleza kelelahan lagi. Dia kembali tertidur di kasur kecilnya, berharap esok pagi masalah ini tidak pernah menghampirinya dan hanya sebatas mimpi belaka, meski mustahil rasanya.

 Dia kembali tertidur di kasur kecilnya, berharap esok pagi masalah ini tidak pernah menghampirinya dan hanya sebatas mimpi belaka, meski mustahil rasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


TBC

She Is My Shinning AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang