***
"Kenapa?" Helaan napas Ale terdengar menguat di indera pendengaran Ami. Sejak tadi, mereka berdua hanya duduk diam, tanpa percapakan yang berarti."Kau kenapa, Le?" ulang Ami lagi melihat wajah murung Ale.
"Gak papa, Mi. Aku hanya kepikiran Ayah dan Ibuku, juga adikku. Mereka apa kabar, ya?"
Ale sampai kini belum mau berbagi cerita kehidupannya dengan siapapun, termasuk Ami. Wajar, karena Ami masih tergolong orang baru. Tapi, Ami berpikir positif. Dia berpikir bahwa Ale adalah anak rantau yang rindu keluarga.
"Le, kalau kau rindu mereka, kenapa kau sekolah di sini? Di Palembang kan masih banyak sekolah yang bagus, aku rasa sama saja dengan sekolah ini," ujar Ami pelan, takut Ale tersinggung.
Tiba-tiba saja air mata Ale terjatuh. Ale menunduk untuk menutupi air matanya yang sudah tumpah ke tanah taman itu.
Dengan gerakan cepat, Ale menyeka air matanya dan mencoba untuk tersenyum, menggeleng menghadap Ami, sambil berkata, "Kau gak mau berbagi denganku? Ya sudah, tak apa. Aku menghargai privasimu." Ami mengelus lengan Ale dengan lembut. Sejujurnya Ami sama sekali tak tau sebab Ale menangis. Yang Ami tau, Ale adalah sosok perempuan yang selalu semangat dan aktif berorganisasi.
"Gak apa-apa, Mi. Aku setiap malam selalu memikirkan ini. Kadang, aku merasa anak durhaka yang meninggalkan keluargaku hanya demi sekolah di sini," balas Ale dengan hidung yang memerah dan cairan kental yang hampir jatuh membasahi seragam sekolahnya.
"Hei, jangan begitu. Kau begini kan juga demi mereka. Harusnya kau semangat di tanah rantau, bukan sedih." Ami langsung merangkul Ale gemas sambil tersenyum kaku, bingung harus bertindak seperti apa lagi.
Melihat Ami tetap mendukungnya, Ale tersenyum miris. Bahkan, baru saja Ale telah menipu satu-satunya orang yang menjadi temannya di sekolah.
Maafkan aku, Mi. Aku berbohong.
Kalimat itu hanya mampu diucapkan Ale dalam hati. Dia memang belum bisa berbagi dengan siapa pun saat ini.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Omong-omong, bagaimana ekskul PKS mu?" Ami mengganti topik pembicaraan untuk membuat Ale kembali bersemangat.
"Menyenangkan. Tapi, ada seorang siswa yang tak bisa kutertibkan waktu itu," ujar Ale sambil membetulkan posisi duduknya lebih tegak dan menggeser bokongnya, sehingga menghadap Ami, pas.
"Siapa?" tanya Ami dengan kening berkerut.
***
Jangan lupa nanti kumpul untuk pertemuan perdana kita. Salam IlmiahAle mengehela napasnya membaca pesan group di whatsappnya. Sejak tadi pagi, Ale sudah ditambahkan di group itu.
Ale membuka nama-nama peserta dalam group itu dan Ale melihat, group itu dibuat oleh Kak Santi.
Sebentar-- Ale semakin ingin tau, dia terus mengscroll peserta yang ada, hingga akhirnya dia memperhatikan nama-nama peserta dengan teliti.
Maxime.
Nama itu yang sejak kemarin membuat Ale penasaran. Ale mengklik profil Maxime dan yang keluar hanya helaan napas.
"Ahh.. dia secret sekali. Foto saja tidak ada. Dia yang mana ya?" gumam Ale sambil tiduran di atas karpet, di rumah Kiki.
"Kenapa? Dari tadi kau berisik sekali, Le," seru Kiki tiba-tiba yang muncul dari dapur. Kepalanya menyembul ke pintu perbatasan dapur dan ruang tengah.
"Gak papa, hanya soal ekskul sekolah. Menurutmu kalau aku ikut dua ekskul, gimana?" tanya Ale pada Kiki yang sedang meletakkan gelas berisi minuman ke atas meja belajar.

KAMU SEDANG MEMBACA
She Is My Shinning Angel
General FictionBerawal dari kehidupan keluarga yang terlilit hutang, Aleza Davina minggat dari rumah. Pergi dengan membawa segala berkas beserta baju yang pas-pasan, ia berniat memulai hidup baru. Bertemu dengan Maxime Geodeva yang memiliki wajah tampan, nan dingi...