I won't cry for you, my masscara is too expensive - Ellen
---
"My Bae, i miiiissss youuu!" Soojung berseru dengan riang saat melihat Ellen dengan jaket suede menggantung di bahu.
Kedua tangan Soojung merentang dengan senang saat Ellen sudah berjalan mendekat kearah mereka dengan langkah elegan. Kedua tangan Ellen ikut terentang, langkah kakinya kian mendekat dan ketika yang dituju sudah sampai jangkauannya. Ellen memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu, sayang!" Ellen melingkarkan kedua tangannya di leher Minho dengan erat. Menyalurkan kerinduannya kepada sang kekasih, lalu menciumnya.
"Sialan. Kau lebih memilih memeluk Choi Minho duluan daripada memelukku atau Suzy?" Soojung berdecak kesal. Kedua tangannya yang sempat terentang itu langsung di turunkannya dengan cepat.
Ellen sedikit menjauh dari sang kekasih, menoleh dengan alis terangkat kearah Soojung, "He is my love, Jung."
"And i'm your bestfriend, right?"
Ellen mengangguk, "You know the answer, Bitch."
"Bahasamu, sayang." Minho menyela.
Ellen kembali menatap sang kekasih dengan raut wajah senang, lalu kembali menciumnya. "Sorry," ucapnya.
Suzy mengedipkan mata dua kali ketika melihat siaran langsung didepannya. Gadis itu tidak habis fikir mengapa Ellen dengan sembarang mencium Minho di airport seperti sekarang. Tatapannya masih tertuju pada Ellen, saat kembarannya itu menolehkan kepalanya sehingga pandangan mereka beradu. Ellen berjalan mendekat kearah Suzy dengan kerutan di dahinya, lalu memeluk sang adik dengan erat, "Kau tidak pa-pa?"
Alih-alih memarahinya dengan kata-kata kasar, Ellen malah menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal. Suzy mengangguk dalam pelukan itu, "I'm fine, Leen."
Ellen tersenyum. Gadis itu mundur dua langkah untuk memberikan jarak antara dia dan sang adik, kedua mata Ellen masih menatap sang adik dengan pandangan yang sama sekali bukan dirinya. Membuat Soojung tidak bisa menahan dirinya untuk berkomentar, "Berhenti memberikan tatapan seperti itu, Bae. Seperti bukan kau saja."
Ellen tersenyum mendengarnya, "Aku tetap best-bitch mu, Jung. Kau takut sekali aku berubah menjadi kalem dan lebih manusiawi."
Soojung mengedikkan bahunya, "Tentu saja! Aku tidak siap bergabung dengan kelompok pirang." Gadis itu terkekeh.
Mendengar nama kelompok pirang disebut-sebut membuat Ellen tersenyum miring, "Mereka masih mengikuti gaya kita?"
"Tentu saja."
Ellen mendengus, "Mau sampai kapanpun, Myungsoo dan Kai dan Max tidak akan menoleh kepada mereka. Yah, walaupun salah dua diantara mereka sudah memiliki bibir yang tidak perawan karena kelicikan anggota kelompok pirang itu." Ellen menolehkan kepalanya kembali menatap Suzy dan menyadari ekspresi sang adik yang berubah, "Aku akan menjamin Kim Myungsoo tidak akan menyentuhmu lagi, Suzy. Tenanglah." Ujarnya.
***
Myungsoo berjalan bolak-balik dengan gusar. Fokus kedua matanya terus tertuju pada gedung parkir, menunggu mobil yang di maksudnya sampai datang. Dia mendesah, sudah berapa kali sejak tadi Myungsoo menghela napas nya. Namun, mobil yang dimaksudnya belum juga menampakan body nya.
"Oy, Kim Myungsoo! Berhentilah mondar-mandir. Kepalaku pusing mengikutimu." Kai mendesah dengan tangan kanannya yang mengurut kening.
Myungsoo kembali menghela napas, kakinya yang sejak tadi terus bergerak itu berhenti. Tubuhnya menghadap kearah Kai sambil bertanya, "Kai, kenapa kau tidak hubungi Soojung, uh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Spring Blooming #1
Fanfiction×series pertama dari novel "One day in summer"× [PRIVATE PUBLISH] Suzy dan Ellen merupakan kembar identik yang terpaksa berpisah ketika kedua orang tua mereka bercerai. Namun, hubungan keduanya masih terjalin erat hingga sekarang walaupun jarak dan...
