"Mm... Ajhumma!" Yun Mi memekik kesakitan.
"Kalau kau mau tetap disini, hati-hati dengan sikap dan ucapanmu. Kau tidak harus menghakimi apa yang dilakukan majikan kita. Kita hanya perlu bekerja dengan baik. Arrayo?"
"Nde." Yun Mi cemberut.
Tapi bayi cantik itu tersenyum padanya, seperti yang meminta Yun Mi jangan kesal dengan sikap ibunya. Pelayan itu pun tersenyum gemas kepada sang bayi.
"Untung kau mewarisi kebaikan hati dan keramahan ayahmu, Sayang. Yun Mi Ajhumma jadi tidak kesal padamu." ucap Yun Mi mengajak bicara Shin Bi membuat senyum bayi itu melebar dan berbunyi. Amat menggemaskan. Dia jadi menciuminya gemas.
Shin Hye membawa mobilnya ke klub malam, teman-temannya sudah menunggu disana.
"Aigo... buteki apa kabar? Kau semakin cantik saja, Shin?" sapa Woo Bin menatapnya dari atas ke bawah, lalu ke dada Shin Hye, dengan sorot nakal.
"Jaga matamu, mata keranjang!" hardik Shin Hye memalingkan wajah pria itu dengan tangannya.
"Pernah ada yang bilang kau semakin semok?" lanjutnya.
"Tutup mulutmu atau aku pukul kau." belalaknya galak.
Pria itu malah tertawa lebar. Senyum menawan dari parasnya yang memang tampan itu tetap tidak membuat kemarahan Shin Hye luluh. Tetap seperti ketika kuliah dulu, Shin Hye selalu tidak suka diusili olehnya.
"Anakmu tidak rewel? Kau selalu meninggalkannya setiap malam?" tanya Jong Suk kalem.
"Ada ayahnya, dia yang mengelonnya tidur setiap hari." tukas Shin Hye cuwek. Tidak seperti menjawab terhadap Woo Bin saat menjawab kepada Jong Suk. Lembut tanpa amarah.
"Kau ini benar-benar teledor membiarkan suamimu hanya dengan ajhumma setiap malam. Bagaimana kalau mereka memanfaatkan keadaan? Pura-pura mengurusi anakmu, padahal mereka bermain." duga Woo Bin konyol.
"Silakan saja kalau memang suka ajhumma, aku tidak akan keberatan. Akan aku restui mereka." tandas Shin Hye.
"Aigo... bicaramu seringan itu. Baru nangis kalau apa yang kukatakan betul-betul terjadi." cibir Woo Bin. Sedang Jong Suk mengulum senyum manis menatap Shin Hye.
Siapa pun tahu, api asmara diantara keduanya kembali berkobar setelah Shin Hye melahirkan. Dan Jong Suk yang mendambakan Shin Hye sejak masa kuliah tidak masalah dengan kondisi Shin Hye sekarang. Jong Suk bersedia menerima Shin Hye apa adanya. Dan setiap malam mereka menghabiskan waktu bersama. Shin Hye benar-benar mabuk kepayang. Dulu, ia tidak merasa Jong Suk menarik. Meski tahu Jong Suk menaruh hati padanya, ia tidak pernah ingin membalas. Tetapi entah kenapa sekarang ia melihat pria ini sangat mempesona. Sehingga hatinya merasakan getaran-getaran indah saat bersamanya.
Pasti karena Jong Suk telah menjadi tempatnya berbagi selama ini. Saat ia sangat membutuhkan seseorang untuk bercurah segala kesesakan hatinya, Jong Suk ada di tempat itu. Memberikan perhatian serta empati. Shin Hye terpesona karenanya.
"Berapa bulan bayimu sekarang, Shin-ah?" tatap So Ra.
"4 bulan. Sedang lucu-lucunya." jawabnya bangga.
"Lelaki atau perempuan?" tanya Woo Bin lagi.
"Perempuan."
"Aku akan tunggui dia. Kalau tidak mendapatkanmu, anakmu pun tak apa. Aku tunggu dia gede." canda Woo Bin yang seketika mendapat lemparan tissue dari tangan Shin Hye.
Mereka adalah teman-temannya masa kuliah. Kim Woo Bin, Lee Jong Suk, Park Seo Jun-pemilik klub itu serta Kang So Ra dan Kwon Yu Ri. Nama-nama itu tidak akrab dengannya kala kuliah dulu selain Yu Ri. Sebab Shin Hye saat menjadi mahasiswa tidak buaya klub. Dia tidak suka main ke klub. Klub malam menjadi akrab dengannya setelah dirinya menikah. Justru ketika dirinya tengah berbadan dua menjadi akrab dengan dunia malam.
Suatu malam saat ia sangat membutuhkan Yu Ri untuk mengadu, gadis itu mengajaknya ke klub. Sejak itulah ia selalu pergi ke klub. Bahkan ketika perutnya tengah buncit besar. Ia tidak peduli. Sebab ia perlu tetap hidup di tengah kesesakannya bernapas.
Dan saat itulah ia menjadi sangat dekat dengan Jong Suk. Woo Bin hanya sekali-kali saja, begitu juga So Ra.
Kemudian sekarang, dirinya yang jadi buaya klub. Anak-anak itu selain Jong Suk hanya sekali-kali saja karena mereka sibuk dengan pekerjaan kantor. Sedangkan Jong Suk, demi tetap bisa bertemu dengannya, setiap malam pergi ke klub meski siang hari harus pergi bekerja. Bagaimana ia bisa mengabaikan perhatian sebesar itu dari lelaki yang telah memikat hatinya tersebut.
"Ah, aku ingin sekali bertemu dengan anakmu. Apa ada fotonya, Shin Hye-ya?" Yu Ri gregetan.
"Ada di ponselku. Tunggu..." Shin Hye merogoh tasnya.
"Sayangnya kau tidak bisa membawanya kesini." sahut So Ra.
"Dia masih sangat kecil. Ini lihat!" Shin Hye menunjukan ponselnya. Yu Ri mengambilnya.
"Aigo... lucu sekali. Aku jadi ingin punya bayi." rengeknya.
"Apa kau tidak merindukannya?" tanya So Ra yang kegiliran melihat ponsel Shin Hye.
"Aku bisa bertemu dengannya sepanjang siang. Sekarang giliran ayahnya."
Jong Suk dan Woo Bin pun turut melihatnya. Mereka tidak memberi komentar. Tapi pasti sepakat jika bayi perempuan itu sangat cantik. Bodoh ibunya tega meninggalkannya setiap malam.
Namun Jong Suk mengerti alasan Shin Hye meninggalkannya. Bagaimana pun Shin Hye harus tetap merasa hidup. Bersamanya Shin Hye memiliki semangat untuk hidup 100 tahun. Walau begitu tetap tidak mudah membuat Shin Hye meninggalkan pernikahannya untuk berpaling padanya, sebab terikat perjanjian bisnis antara orang tua Shin Hye dan orang tua Yong Hwa. Maka lebih baik Shin Hye bertingkah laku seperti itu asal tetap bersama Yong Hwa, ketimbang tetap menjadi anak manis namun meninggalkan Yong Hwa. Keputusan yang sungguh egois.
🌹
Di rumah, Yong Hwa seperti biasa sejak memiliki buah hati. Ketika ia menginjakan kaki di rumah sore hari, adalah waktunya untuk menjadi superdad. Shin Bi akan bersamanya hingga besok pagi. Tidur dengannya di tempat tidurnya. Membuat susu sendiri di tengah malam bila bayi itu lapar, mengganti celana bila ngompol. Dan bermain-main saat dia belum ngantuk. Terasa berat memang namun teramat menyenangkan. Ia tidak peduli dengan ibunya yang entah berada dimana. Biarkan saja.
Ketika ia mengatakan bahwa ia mengakui bayi itu sebagai anaknya, ia harus siap melakukan apa pun untuknya. Kala itu pilihannya hanya 2 : dirinya mengakui bayi itu adalah anaknya atau kehilangan anak dan istrinya dengan resiko dirinya turut kehilangan orang tua dan masa depannya. Yaitu perusahaan.
Pernikahannya dengan Shin Hye atas dasar perjodohan orang tua mereka. Yang lalu mengikatkan pernikahan itu dengan kerjasama bisnis perusahaan keduanya. Jika kemudian Yong Hwa dengan Shin Hye bercerai, maka akan mengacaukan sejumlah kesepakatan yang telah orang tua mereka tandatangani sebagai pemilik perusahaan.
Orang tua mereka adalah teman lama, kerjasama yang mereka sepakati bernilai nyaris separuh dari seluruh aset perusahaan masing-masing. Dengan berlandaskan saling percaya sebagai teman dan lalu diperkuat dengan pernikahan putra putri mereka. Kedua perusahaan itu berkolaborasi dan semakin kokoh. Jika lantas terdengar putra putri yang menjembatani terjadinya kolaborasi itu akan berpisah, alamat goyahnya kepercayaan para pemegang saham, dan berimbas kepada keberlangsungan perusahaan itu sendiri. Ini fatal. Tidak boleh terjadi. Maka ketika tercium kisruh rumah tangga pasangan muda itu oleh orang tua Yong Hwa, funishment yang diberikan Tn Jung kepada putranya tidak main-main. Tidak lagi dianggap anak dan tinggalkan perusahaan.
Disisi lain, Yong Hwa tidak berkeras dengan keinginannya menceraikan Shin Hye dan menerima ancaman itu, karena akhirnya ia menerima pengkhianatan. Itu alasannya tidak berdaya dengan semua keputusan ayahnya. Dan inilah ia sekarang. Sebagai seorang kepala rumah tangga yang sama sekali tidak dihargai oleh istrinya sendiri, ditambah dengan keharusan memomong buah hati. Bagai harimau ompong. Sebagai suami dan kepala rumah tangga dirinya tidak memiliki kekuatan, gelar suami atau kepala rumah tangga hanya supremasi saja. Sebab istri yang dimilikinya bertingkah semaunya sendiri. Seakan tidak ada aturan yang diberlakukan di dalam rumah tangga mereka. Namun ia lumpuh dan tak berdaya. Membuat Shin Hye sangat berkuasa.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
SESAL
CintaWarning!!! 21+ Ketika penyesalan datang maka semua hal menjadi terlambat kita lakukan. Sakit hati terkadang mampu membuat orang hidup layaknya orang mati. Tidak memiliki asa dan hampa. Dan penyesalan terasa jauh sangat menyakitkan. Meski air mata da...
