(Beberapa chapter di privat! Follow dulu sebelum baca!)❤
"Bagaimana rasanya jika kalian menyukai sahabat kalian sendiri??"
-Senja Adisinta Natanegara
"Sahabat ya sahabat pacar ya pacar. yang namanya sahabat gak akan pernah bisa jadi pacar!"
-Raka Ju...
Hari ini adalah hari terakhir liburan sekolah. Minggu. Hari yang biasanya digunakan untuk Senja dan Raka bermain bola basket.
Mereka berdua mempunyai tempat khusus untuk bermain bola basket. Tempat tersebut berada di tengah hutan yang ada di pinggiran kota. Lapangan tersebut adalah pemberian ayah Senja, untuk hadiah ulang tahunnya.
Raka keluar dari rumahnya dengan menggunakan celana basket dan kaos hitam polos. Ia menghidupkan motor sport hitam miliknya. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. 06.00 .
Raka melajukan motornya untuk menyebrangi jalan. Lebih tepatnya untuk menuju ke rumah Senja. Benar. Rumah Senja berada tepat di seberang jalan.
Setibanya di depan rumah Senja. Raka langsung masuk ke dalam rumah Senja. Sudah biasa jika Raka masuk ke dalam rumah Senja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Orang tua Senja menyuruh Raka untuk menganggapnya seperti rumah sendiri.
Setibanya di ruang tamu, Raka mengedarkan pandangannya. Sepi. Ayah Senja disibukkan dengan perusahaan batu baranya, Ibu Senja juga mengurus butik yang ada di luar kota. Sedangkan kakak Senja sedang kuliah di luar negeri. Senja hanya berdua dengan Bi.Surti asisten rumah tangganya. tetapi, Bi Surti tidak bersama Senja 24 jam. Biasanya Bi Surti datang pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00. Terkadang, Raka juga sering menginap di rumah Senja.
Raka menghela nafas pendek, ia menaiki tangga yang tertuju pada lantai 2. Di lantai dua hanya ada 2 kamar. Kamar Senja dan kamar Surya.
Raka mengentikan langkahnya saat sampai di depan pintu bercat biru tersebut. Diputarnya kenop pintu tersebut sehingga memperlihatkan isi dari ruangan tersebut. Ruangan yang didominasi dengan warna biru dengan berbagai hiasan yang menghiasi ruangan tersebut.
Mata Raka tertuju pada gadis yang tengah tertidur di atas ranjang dengan posisi memunggungi Raka. Gadis tersebut terlihat sedang memeluk boneka beruang. Raka tersenyum. Boneka itu yang dulunya diberikan oleh Raka saat ulang tahunnya. Seulas senyum terbit dari wajah Raka.
Raka mendekat ke arah jendela dan menyibak gorden yang menutupi cahaya matahari pagi. Senja merasa terganggu dengan cahaya yang silau tersebut membuatnya mengeryit.
Senja mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, yang terlihat adalah siluet laki-laki yang sangat ia kenal.
"Rak.. lo tu ganggu aja sih" Senja menutupi wajahnya dengan selimut.
Raka berdecak kesal dan menarik selimut yang menutupi wajah Senja.
"Heh kebo!! Bangun, udah jam enam lebih. Lo gak basket apa?" tanya Raka dengan nada suara kesal.
"Ih bawel lo ya" Senja beranjak dari ranjangnya dan berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi.
Raka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini. Bagaimana rasanya jika kalian mempunyai lapangan basket sendiri di tengah hutan? Pasti sangat menyenangkan.
Begitu juga dengan Senja. Lapangan basket tersebut terlihat sangat asri, karna disampingnya banyak terdapat pepohonan.
Setibanya dilapangan basket Senja masih duduk di gubuk yang berada ditepi lapangan basket tersebut. Matanya tertuju pada sosok laki-laki yang tengah mendrible bola basket ditangannya. Raka. Sahabat masa kecilnya hingga sekarang.
Raka berjalan ke arah Senja.
"Nja.. besok udah masuk sekolah. Bangun pagi jangan ngebo mulu kerjaan lo"
"Iya iya bawel lo"
Raka mengambil botol minum yang tengah dibawa Senja lalu meneguknya sampai hanya tersisa seperempat.
"Eh badak.. itu minuman udah gue minum"
"Bodo amat"
Senja mendengus lalu memalingkan wajahnya ke segala arah. Kini dirinya dan Raka sudah kelas XII. Senja memikirkan kehidupannya setelah SMA. Apakah Raka akan tetap bersamanya untuk menjaganya atau tidak. Karna ia tahu ada saatnya Raka akan pergi darinya.
"Rak habis SMA lanjutin dimana?"
"Di Harvard mungkin. Mau ambil arsitektur gue"
Senja mengangguk paham.
"Kalo lo mau lanjut dimana?"
"Yale. Mau ambil bisnis management"
"Berarti abis SMA sibuk sendiri sendiri dong?" tanya Raka dengan menunjukan wajah sedihnya.
"Hehe namanya buat ngejar cita-cita Rak" Senja terkekeh canggung.
"Kalo ngejar cinta boleh ngga?" tanya Raka dengan menunjukan deretan giginya.
"Ada-ada aja lo" Senja menyikut perut Raka membuat cowok tersebut terkekeh.