Tugas bulan hari ini selesai digantikan dengan matahari yang kali ini bertugas menyinari bumi. Kali ini Senja datang ke sekolah diantar oleh kakaknya. Ia berjalan menyusuri koridor untuk mencapai lantai tiga. Lantai dimana tempat kels XII berada.
Headset terpasang jelas ditelinganya. Mengalunkan berbagai melody yang Senja hafal dan ia suka. Kepalanya mengangguk-ngangguk mengikuti alunan musik.
Tak lama ia sudah sampai di kelasnya. Sudah banyak yang datang. Terutama para sahabat laki-lakinya sudah datang dan sedang bermain game online di bangkunya.
Ia menghampiri gerombolan laki-laki tersebut. terlihat Raka yang sedang bermain game online dan kakinya yang ia naikkan di bangku milik Senja. Sedangkan teman-teman lainnya duduk di lantai belakang Raka yang kebetulan cukup luas.
Dean tiduran di paha Andrew. Sedangkan Bryan dan Gerald bersandar pada tembok yang ada di belakang mereka. Mata mereka semuamasih terfokus pada game online yang belakangan ini sedang booming. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaan Senja yang sudah datang.
"Goblok Dean serang towernya bege" seru Raka.
"Ini gue lagi diserang tolol. Bantuin kek" Dean semakin kencang menekan tombol yang ada di hpya.
"Drew bantuin gue nyerang tower terakhir cepetan"seru Gerald.
"OTW"
Mereka semua masih tidak menyadari keberadaan Senja. Senja yang kelewat kesal langsung mencopot headsetnya dan menggebrak meja. Gebrakan yang Senja timbulkan cukup membuat Raka dan yang lain kalah sampai handphone Raka terlempar.
"Anjing bangsat siapa sih yang gang—" Raka mendongakkan kepalanya dan mendapati Senja yang sudah melotot kearahnya.
"Eh Senja udah dateng? Tadi gue ke rumah tapi kata pembatu lo, lo dianter sama bang Surya" Raka menurunkan kakinya dari bangku Senja.
"Bersihin bangku gue. Kotor tuh kena sepatu jelek lo" Senja memberengut.
"Iya iya" Raka meniup-niup bangku Senja dan membersihkannya dengan telapak tangannya.
"Udah selesai. Silahkan duduk tuan putri" Raka menarik bangku Senja dan mempersilahkan Senja untuk duduk layaknya tuan putri.
"Prett" Andrew,Bryan,Dean dan Gerald berseru dengan kompak.
Senja tengah menunggu Nean yang sedang mengambil gitar yang ada di panggung cafenya. Ia menunggu di ruangan Nean. Ruangannya memang tidak terlalu luas. Hanya terdapat meja dan sofa serta laptop yang ada di meja Nean. Tetapi untuk ukuran pelajar hal tersebut sudah cukup. Ditambah lagi cafe ini adalah hasil kerja keras dari Nean sendiri.
Tak lama pintu yang ada di ruangan Nean terbuka. Datanglah Nean dengan gitar acoustik berwarna hitam yang berada di tangannya. Ia menyerahkan gitar tersebut dan langsung diterima oleh Senja. Nean mengambil kursi yang berada di samping mejanya. Ia membawa kursi tersebut tepat di depan Senja untuk memudahkan dia untuk mengajari Senja.
Nean mulai mengajari Senja. Ia menyerahkan gambar kunci-kunci dasar dalam bermain gitar yang tadi ia bawa. Ia membawa gambar tersebut agar Senja dapat dengan mudah menghafal kunci-kunci gitar tersebut.
Senja mengamati gambar kunci-kunci gitar tersebut. Ia mencoba untuk menghafal berbagai kunci dasar tersebut. Berbeda dengan Senja yang sedang berjuang keras untuk menghafalkan, Nean justru tengah sibuk mengotak-atik laptopnya. Entahlah apa yang sedang ia kerjakan.
Tiga puluh menit sudah waktu yang sudah terbuang. Senja menyerahkan kertas-kertas tersebut kepada Nean.
"Udah hafal?" Nean mematikan lappnya dan beranjak untuk meletakkan kembali laptpnya ke meja.
"Lumayan. Kalo nanti ada yang salah lo benerin ya?" Senja mengambil gitar yang bersender pada sofa. Nean kembali duduk di tempatnya tadi.
"Iya. Coba sekarang lo praktekin"
Senja mengarahkan tangan kirinya untuk mempraktekan kunci-kunci dasar yang ia pelajari tadi. Sesekali Nean membetulkan letak jari Senja agar melody yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan.
Satu jam sudah Senja belajar bermain gitar. Tangannya mulai sakit karena tidak terbiasa dengan senar gitar yang keras membuat tangannya memerah. Ia meletakkan kembali gitar tersebut. tanganya ia kibas-kibaskan agar rasa pegal pada jari-jari tanganya sedikit menghilang.
"Itu belum seberapa. Orang main gitar itu harus ngrasain yang namanya kapalan. Kalo nggak kapalan tangannya itu kayak ada yang kurang"
"Ini aja udah sakit sama pegel banget apalagi kalau nunggu kapalan"gerutu Senja.
"Itu namanya pengorbanan"
Senja mengangguk setuju.
"Oh iya yan. Gue mau minta pendapat lo'' Senja menegakkan tubuhnya yang tadiya bersandar di sofa.
"Pendapat soal apa?"
"Menurut lo gue harus ngehapus perasaan gue ke Raka nggak sih?"
Nean menghela nafas panjang. Lagi-lagi tentang Raka. Apa Senja tidak bisa melihat kepada orang lain?. Apa Senja tidak melihat bahwa ada dia yang setiap siap untuk Senja? Apa Senja tahu bahwa Nean menyayangi Senja? Apa Senja tahu bahwa Nean mencintainya?
Nean rasa Senja tidak akan pernah menyadari kaena selama ini yang ada di pandangan Senja adalah Raka. Hanya Raka.
"Kalo menurut gue perlu nja. Lo nggak boleh mertaruhin persahabat lo sendiri. Lo sama Raka itu sahabatan dari kecil. Lagi pula nggak ada salahnya kalau lo buka hati lo buat orang baru. Biar hidup lo nggak melulu tentang Raka"
Senja mempertimbangkan omongan Nean. Ada benarnya memang. Sebodoh-bodohnya orang ia akan memilih pergi bila perasaannya sama sekali tidak ditanggapi. Sedangkan Senja, ia malah stuck dengan Raka. Terlihat bodoh memang. Tapi mau bagimana lagi? Hatinya sudah stuck dengan Raka.
"Kalau gitu gimana caranya?" Senja menatap Nean dalam. Ia bingung harus bagaimana bertindak menghilangkan perasaannya terhadap Raka.
"Sedikit menjauh mungkin?"
***
TBC :)
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA (COMPLETED)
Teenfikce(Beberapa chapter di privat! Follow dulu sebelum baca!)❤ "Bagaimana rasanya jika kalian menyukai sahabat kalian sendiri??" -Senja Adisinta Natanegara "Sahabat ya sahabat pacar ya pacar. yang namanya sahabat gak akan pernah bisa jadi pacar!" -Raka Ju...
