ENTSCHULDIGUNG

2.4K 143 0
                                        

Sudah seminggu Senja tidak bertegur sapa dengan Raka. Raka juga tidak lagi
Menjemput Senja atau mengantar Senja ke sekolah.

Bahkan saat mereka berpapasan tidak ada yang berbicara diantara mereka. Meskipun Raka satu bangku dengan Senja tetapi ia juga tetap membisu.

Berbeda dengan Raka, Nean justru semakin dekat dengan Senja. Nean mengabil alih posisi Raka yang biasanya mengantar dan menjemputnya kesekolah. Bahkan sudah beberapa kali Nean mampir ke rumah Senja.

Ceklek

Pintu kamar Senja terbuka. Nampak laki-laki dewasa dengan celana jeans selutut dan kaos hitam polos yang melekat di tubuhnya.

Laki-laki itu tersenyum melihat Senja yang masih meringkuk dengan piyama bergambar Doraemon yang membuatnya nampak begitu lucu. Laki-laki tersebut mengayunkan kakinya menuju ranjang Senja. Ia duduk di samping Senja. Tangannya mengusap pelan rambut Senja.

"Dek bangun.." Surya tersebut menepuk pelan pipi Senja. Namun , Senja sama sekali tidak terganggu membuat Surya mendengus kasar.

Terbesit ide di kepalanya.
Ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Senja.tak lama kemudian, Surya kembali dengan tangan kanan menggenggam gayung yang berisi air.

Byur

Senja terlonjak kaget. Ia menyibak selimutnya dan langsung melompat berdiri.

"Banjir woy banjir" teriak Senja.

Senja mendengar suara orang tertawa lantas membalikkan tubuhnya. Betapa kagetnya dia saat menyadari bahwa yang sedang tertawa itu adalah Surya.

Senja mendengus kasar dan berlari ke arah Surya dan langsung memeluk tubuh kakaknya yang jangkung tersebut.

"Woi nyet baju lo basah tuh" Surya mendorong tubuh Senja supaya menjauh agar tubuhnya tidak ikut basah. Namun Senja justru mempererat pelukannya.

"Bodo siapa suruh bangunin gue"
Surya mendorong kembali tubuh Senja agar terlepas dari badannya.

"Sana mandi. Gue ajakin jalan nanti" ucap Surya sambil mengusap rambut adiknya yang basah akibatnya.

Mata Senja berbinar.

"Beneran ya?"

"Iya. Udah sana mandi bau tau. Cewek kok minggu minggu masih bau" Surya menutup hidungnya.

"Iya iya mandi ini" Senja menyambar handuk yang tergantung di samping pintu dan berjalan menuju kamar mandi.

Butuh waktu 20 menit bagi Senja untuk menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar kamar mandi dengan hot pants dan kaos hitam kebesaran dengan tulisan "touch" dibagian depan.

Begitu terkejutnya Senja saat melihat Raka berada di meja belajarnya. Senja mendengus kasar. Raka selalu terbiasa masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.

"Ngapain disini?" tanya Senja dengan nada suara ketus.

"Main" jawab Raka dengan enteng.

"Emang gue bolehin lo ke sini?! gak kan?"

Senja berjalan menuju balkon kamarnya meninggalkan Raka yang masih ada di kamarnya. Udara Minggu memang sangat berbeda. Senja membiarkan wajahnya diterpa angin.

Tuk

Kepala Senja dijitak oleh Raka menbuat Senja mendengus kasar.

"Apaan sih lo ganggu aja" sentak Senja dengan tatapan tajam ke arah Raka.

Raka menghela nafas pendek.

"Lo kenapa sih nja? Lo marah sama gue? Gue salah apa?" tanya Raka dengan nada yang merendah.

"Salah lo karna lo gak pernah ngerti sama perasaan gue"

Ingin sekali Senja meneriaki Raka tepat di depan wajahnya. Namun ia berusaha memendap amarahnya. Senja memalingkan wajahnya menatap ke langit.

"Lo mau gue maafin?" Senja kembali memalingkan wajahnya dan mengulas setitik senyum tipis ke arah Raka. Raka dengan semangat menganggukkan kepalanya.

"Ada syaratnya " Senja membalik badannya menghadap ke Raka.

"Apa? Gue turutin semuanya deh" ucapnya dengan mantap.

"Gue pengen ke lapangan basket. Terus lo temenin gue basket" ucap Senja.

"Itu mah gampang"balas Raka.

"Gue belum selesai ngomong petak" Senja menjitak kepala Raka. Membuat Raka menjadi jengkel.

"Apa lagi sih Senja?"

"Lo harus nemenin gue waktu pensi ulang tahun sekolah buat ngiringin gue nyanyi pake gitar kesayangan lo itu gimana?" Senja menaikan sebelah alisnya.

"Deal?" Senja mengulurkan tanganya.

"Deal"

🐆🐆🐆

Senja mendrible bola dengan lihai, sama sekali tidak terlihat kesusahan.

Dak

Senja memasukan bola basket tersebut tepat ke ring. Senja bersorak riang.

"Gitu aja seneng" sindir Raka.

Raka yang tadinya duduk di gubuk kini berjalan menghampiri bola yang terpantul tadi. Ia mengambil bola tersebut dan memasukan bola tersebut dengan satu tangan.

"Sombong" ledek Senja.

"Biarin yang penting gue mah ganteng. Banyak yang suka nggak kayak lo" balas Raka.

"Bodo amat Rak" Senja mengayunkan kaki jenjangnya ke arah gubuk yang berada di tepi lapangan.

Ia mengambil air mineral yang ia beli sebelum ke lapangan tersebut. diteguknya air mineral tersebut hingga tak tersisa.

"Rak ke tokonya Pak Daus yuk" teriak Senja kepada Raka yang sedang memainkan bola basket di lapangan tersebut.

Raka kembali memasukan bola tersebut ke ring.
Ia berjalan ke arah Senja dengan keringat yang membanjiiri wajahnya.

"Mau ngapain?" tanya Raka yang kini sudah mengambil tempat duduk yang ada di samping Senja.

"Mau es krim cofee"jawab Senja dengan cengiran di wajahnya.

"Baru juga olah raga udah mau es krim aja. Gendut baru tahu rasa lo"

"Bodo yang penting gue gak kenak busung lapar. Udah ayo cepet keburu sore nanti gue mau keluar" Senja menarik tangan Raka untuk berjalan dengan cepat ke arah motor Raka yang tidak jauh dari lapangan tersebut.

"Sama siapa?" tanya Raka sebelum memakai helmnya.

Senja tidak menjawab pertanyaan Raka dan langsung naik ke motor Raka membuat Raka kesal.

*****

SENJA (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang