Sudah hampir dua jam Senja berada di rooftop. sebentar lagi waktunya istirahat. ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan rooftop.
Ia mengayunkan kakinya menuju ke kantin. Ia malas jika harus datang dulu ke kelas. Ia malas jika untuk saat ini bertemu dengan Raka. Ia duduk disalah satu bangku setelah membeli bakso dengan tingkat kepedasan yang tinggi.
Sebenarnya Senja tidak diperbolehkan untuk memakan makanan dengan tingkat pedas yang tinggi. Ia bisa langsung sakit perut jika memakannya. Tapi ia tak menghiraukannya.
Kring... kring...
Bel istirahat berbunyi. Seketika kantin menjadi ramai. senja melepas ikatan rambutnya. Sekarang rambut panjangnya sudah menjuntai bebas. Ia melahap bakso tersebut, sesekali ia tersedak karna bakso tersebut sangat pedas dan masih panas.
Prang..
Mangkok yang tadi ada dihadapannya kini telah berpindah ke lantai. Senja mendongakkan kepalanya. Raka. Lelaki yang tadi membuatnya menangis kini berada di depannya dengan mata tajam menatap ke arahnya.
"APA-APAAN SIH?!" teriak Senja tepat di depan wajah Raka.
Brak
Raka menggebrak meja kantin membuat Senja tersentak kaget. Seketika kantin terasa sunyi. Dada Raka naik turun menahan kejolak emosi.
"LO TUH YANG APA-APAAN. UDAH TAU GAK BISA MAKAN PEDES MASIH AJA DIMAKAN. MAU MATI LO?!!" bentak Raka.
Senja kaget dengan bentakan Raka. Ia tak menyangka jika ia akan dibentak seperti itu.
"lebay" gumam Senja kembali duduk dan tak menghiraukan Senja.
Tak lama teman-teman Raka dan Senja datang. Mereka bingung dengan apa yang terjadi barusan. Respon yang diberikan oleh Raka diluar pikiran mereka semua. Ia tidak menyangka jika ia sampai menggebrak meja dan membentak Senja seperti tadi.
"Udah-udah semua bubar" teriak Gerald.
Tasya dan tema-temannya duduk disebelah Senja sambil mengelus punggung Senja.
Mereka tau jika Senja tidak suka dibentak. Apalagi berlaku kasar seperti tadi. Senja masih terus menyibukan diri dengan handphonenya sambil sesekali mengusap air matanya yang jatuh.
Sedangkan Gerald sedang menepuk-nepuk pundak Raka agar menenagkan emosinya.
"Udah emosinya kendaliin dulu. lo tau sendiri Senja gak bisa dibentak" jelas Gerald.
Raka menghela nafas panjang. Ia menyuruh Tasya untuk pindah tempat. Tasya yang mengerti kode yang diberikan oleh Raka segera menggeser duduknya. Raka duduk di samping Senja.
Tangannya terulur untuk mengelus rambut
Senja namun tertahan oleh cekalan seseorang. Dia adalah Sisi.
"Kakak ngapain mau ngelus kepala dia?" tanya Sisi dengan melirik ke arah Senja sekilas.
"Mau nenangin aja" jawab Raka.
"Emang dia siapa kakak?" tanya Sisi dengan mata yang menajam ke arah Senja.
"Dia cuman sahabat"balasnya dengan enteng.
Senja tersenyum getir. Ia beranjak dari duduknya.
"Iya gue cuman sahabatnya. Lo tenang aja gue gak bakal rebut Raka. Yakali gua suka sama sahabat gue sendiri" tutur Senja lalu berjalan meninggalkan teman-temannya. Namun baru beberapa langkah ia berhenti lagi.
"Oh iya satu lagi. Rak lo gak perlu capek-capek buat anter jemput gue lagi. Besok gue bawa mobil sendiri" lanjutnya kemudian meninggalkan area kantin.
Tasya, Widya, dan Lawren saling tatap.
"Kita duluan ya" pamit Lawren kemudian beranjak dari duduknya disusul oleh kedua temannya.
"Oh iya gue juga mau ke perpus mau ambil buku buat bahan tugas" tiba-tiba saja Andrew juga pamit meninggalkan Raka.
"Gue juga mau ke sanggar basket dulu" pamit Bryan.
"Gue ikut" ucap Gerald dan Dean.
"Loh gue sendiri dong"ujar Raka ingin beranjak namun tanganya dicekal oleh Sisi.
"Kakak disini aja nemenin aku"tutur Sisi. Raka pun menghela nafas panjang dan kembali duduk.
"Gak papa rak lo disini aja" ujar Andrew.
Akhirnya, Raka tetap menemani Sisi. Tak jarang mereka saling melempar lelucon yang membuat keduanya tertawa bersama.
Dilain tempat Senja melihat pantulan dirinya di cermin yang berada di dalam toilet.
"Lemah banget gitu aja nangis" Senja terkekeh miris. Diremasnya perutnya yang mulai merasa sakit.
Ceklek
Suara pintu salah satu bilik di kamar mandi terbuka dan terlihatlah Maudy, salah satu primadona sekolah. Maudy melangkahkan kakinya ke arah wastafel yang ada di samping Senja.
"Ada yang kehilangan sahabat kesayangannya nih" sindir Maudy.
"Siapa?gue?"
"Ya mungkin"
"Gue gak kehilangan dia tuh. Dia masih ada cuman dia lagi sibuk aja sama pacar barunya"elak Senja.
"Oh ya? Kan biasanya dia nenangin lo kalau lagi nangis. Kok ini nggak? Oh atau mungkin emang lo udah gak ada artinya lagi buat Raka" ujar Maudy sambil terkekeh sinis.
"Jaga ya ucapan lo" teriak Senja tepat di depan wajah Maudy.
"Emang bener kan? Dan lo udah gak ada artinya lagi buat Raka" Maudy melenggang meninggalkan toilet tersebut.
Setetes cairan kristal jatuh dari mata Senja. Tangannya terus mencengkram perutnya yang terasa sakit. Inilah akibatnya jika ia memakan makanan dengan tingkat kepedasan yang tinggi.
Tubuhnya melorot jatuh ke lantai. Perutnya semakin sakit. Semakin lama pandangan Senja semakin buram dan menggelap. Senja pingsan.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA (COMPLETED)
टीन फिक्शन(Beberapa chapter di privat! Follow dulu sebelum baca!)❤ "Bagaimana rasanya jika kalian menyukai sahabat kalian sendiri??" -Senja Adisinta Natanegara "Sahabat ya sahabat pacar ya pacar. yang namanya sahabat gak akan pernah bisa jadi pacar!" -Raka Ju...
