Separuh memori yang hilang membuat Kinar tak pernah mengenal sosok itu. Ia bahkan tak lagi bisa merasakan hangatnya ikatan itu. Mungkin waktu yang dapat mengungkapnya. Atau mungkin Arka, matahari yang tanpa sengaja mengembalikan semuanya.
Kemarahan...
"Mungkin iya, dia memang menangis, tapi matanya memang tak sembab. Tipe orang seperti itu memang ada, Kin." ujar Arka seraya merapikan sisi samping maketnya.
"Benarkah? Aku baru lihat yang seperti itu. Dia sangat sulit dipahami." balasku, Arka hanya berdeham.
"Kalau kamu?" tanyaku.
"Aku? Kenapa?" Arka tampak kebingungan.
"Bagaimana wajahmu jika menangis?" Arka yang sedari tadi membelakangiku berbalik melihat ke arahku.
"Ummmm.. Ntahlah. Tapi, jika aku menangis di hadapanmu, aku jadi merasa tak pantas untuk bisa melindungimu. Maka, jika aku menangis biarkan aku menangis sendirian." katanya, tatapannya sangat serius dan dalam.
Ucapannya itu membuatku mematung sesaat, dan selanjutnya aku jadi salah tingkah dibuatnya. Maksudku, dalam tanda kutip aku merasa diistimewakan? Ah, aku pasti berlebihan. Ku palingkan pandanganku kembali sibuk merapikan maketku yang sudah hampir selesai.
Ketika kami berdua tengah sibuk dengan pekerjaan masing - masing, tiba - tiba Nenek datang membawakan camilan. Mungkin kalian yang membaca ini sudah bosan, tapi tidak denganku, Nenek meletakkan sepiring ontbijtkoek dan dua cangkir teh panas di atas meja.
"Waahh.. Sepertinya pekerjaan kalian berdua sudah hampir rampung ya." kata Nenek yang kini ikut duduk di antara aku dan Arka.
"Hehe, begitulah Nek. Tinggal merapikannya sedikit lagi." ucapku.
"Arka, ayo ontbijtkoek-nya dimakan dulu. Ini kesukaannya Kinar." tawar Nenek pada Arka.
"Oh,iya Nek. Nanti Arka coba."
"Jangan nanti, sekarang saja." Nenek lalu mengambil sepotong ontbijtkoek dan memberinya kepada Arka.
Arka terlihat menyukainya. Dia terus tersenyum ke arahku ketika mengunyah kue itu. Ah manisnya dia.
"Enak kan?" tanya Nenek. Arka tersenyum dan mengangguk.
"Nenek ke belakang dulu ya, tadi Kakek minta bantuan panen kentang di halaman belakang." jelas Nenek. Kami berdua mengangguk serentak.
"Kinar, kamu ingat Paman Badar?" tanya Arka setelah Nenek pergi.
"Ya, tentu. Kenapa dengannya?" tanyaku seraya ikut mengambil sepotong kue dan memakannya.
"Jika dia ke rumahku untuk menemui Papa, dia selalu membawakan kami kue ini. Dan aku baru tahu ternyata namanya agak sulit." jelas Arka.
"Benarkah? Tapi setahuku toko - toko kue di kota ini tak ada yang menjual ontbijtkoek." kini tanganku meraih cangkir teh dan mulai menyeruputnya pelan.
"Memang tidak. Dia membuatnya. Dan rasanya sama persis dengan buatan Nenekmu."
"Bukan Nenek yang membuatnya. Tapi Kakek." ucapku.
Aku kembali memperhatikan detail maketku, memeriksa apakah ada bagian yang masih belum rapi. Hari ini aku bisa mengerjakan maket dengan perasaan tenang setelah melihat keadaan Riksa kemarin. Ku harap anggapanku benar, seperti yang kulihat dia sudah baik - baik saja.
Tiruan bangunan yang ada di tanganku kini sudah terlihat sempurna bagiku. Begitu pula dengan punya Arka. Maket yang dibuat Arka adalah tiruan dari rumah dengan desain modern yang populer pada zaman sekarang. Berbeda denganku yang masih sangat mencintai gaya tradisional, dan tentunya berbau negeri kincir.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.