Hari ini pun aku tidak melihat Anindya sejak hari itu. Apakah dia marah padaku? Ah tentu saja. Aku mengajaknya menikah namun menerima ciuman dari gadis lain setelah itupun aku malah memojokannya seperti itu. Pantas jika dia sangat marah padaku sekarang. Aku kini berdiri di depan pintu rumahnya memijit bel rumah. Namun sedari tadi tidak ada yang keluar membukakan pintu."Eh orangtua Anindya kan belum pulang. " ucapku pada diriku sendiri.
Aku langsung masuk ke dalam rumah Anindya yang ternyata tidak di kunci.
"Dia pasti di kamar. " ucapku melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Anindya apa kamu di dalam? " ucapku sambil beberapa kali mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban dan ternyata pintunya juga tidak di kunci. Aku memberanikan diri masuk ke kamarnya. Aku sangat terkejut saat melihat Anindya tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa.
"Anindya, bangun Anindya apa yang terjadi?! " ucapku sambil membangunkan Anindya.
Aku segera membawanya kerumah sakit. Dengan perasaan yang campur aduk aku menunggu Anindya yang sedang di tangani Dokter di luar UGD.
"bagaimana Dokter? " tanyaku saat Dokter keluar dari ruang UGD.
"Mari ke ruangan saya. "
Aku mengikuti Dokter itu menuju ruangannya. Ada apa sebenarnya?
"Jadi bagaimana keadaan teman saya Dokter? " tanyaku.
"Apakah pasien memiliki riwayat Depresi sebelumnya? "
"I.. Iya Dokter. Tapi itu sudah lama sekali dan dia sudah sembuh sejak lama Dokter. "
"Tetapi dia mengalami overdosis karena terlalu banyak meminum obat anti depresi, badannya juga sangat lemah karena beberapa hari ini sepertinya tidak menerima asupan makanan. Oleh karena itu, pasien harus di rawat beberapa hari sampai keadaannya membaik. " jelas Dokter.
"Apa dia sudah siuman dokter? "
"Sebentar lagi juga dia pasti siuman jadi tenang saja. Untung saja anda membawanya dengan cepat. "
"Oh ya, sebaiknya pasien harus ada yang menemani. Saya takut jika sendirian dia malah nekat melakukan sesuatu dan jangan buat dia setres. " lanjut Dokter.
"Baik Dok, terimakasih. Kalau begitu saya akan segera menebus obatnya. "
Semua ini pasti karna aku. Aku yang sudah membuatnya seperti ini. Aku yang selalu membuatnya menangis. Bisakah sedikit saja aku membuatnya bahagia? Aku menangis menatapnya terbaring tidak sadarkan diri. Aku sedih melihatnya seperti itu. Padahal ku kira dia telah tumbuh menjadi wanita yang kuat, ku kira dia sudah baik-baik saja.
*****
Anindya sadar dari pingsannya. Dia membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan dan dia tersentak saat melihat seorang pria duduk tertidur di sebelahnya. Rasa benci dan sedih menyelimuti perasaannya.
"Kenapa aku disini? Kenapa ada dia? Kenapa bukan orang lain? Aku tidak ingin melihatnya. Aku benci dia yang begitu egois. Ku kira dia berbeda, ku kira dia menerimaku apa adanya. Aku kira... " ucap Anindya menangis.
Suara tangisan Anindya membangunkan Riki yang tertidur di sampingnya.
"Anindya kamu sudah sadar? " ucap Riki.
"Kamu menangis? Maaf Anindya, maafkan aku. " ucap Riki.
"Keluar. " ucap Anindya memalingkan wajahnya.
"Tidak Anindya.. Aku. "
Sebelum Riki menyelesaikan bicaranya Anindya menatapnya dengan tajam.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah mendengarku? Kenapa kamu selalu egois? Kenapa kamu tidak pernah sedikitpun mengerti aku? Kenapa harus aku terus yang mengerti kamu? Dan kenapa kamu bohong kenapa?!!! Kamu bilang, kamu pernah bilang jika tidak ada pria yang mau menikahiku karena alasan itu maka kamu pria satu-satunya yang akan menikahiku. Tapi sekarang apa?! Kamu dengan mudahnya berbicara aku gadis yang so suci padahal... " ucap Anindya berteriak sambil menangis.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Do'a AND
RomansNamaku Nana Anindya. Sejak dulu aku mencintai Riki Darmantio sahabatku sejak kecil. Tetapi dia menyukai gadis lain. Alissa Putri gadis yang cantik dan lembut. semua orang bilang wajah mereka sangat mirip. bukankah jika memiliki wajah yang mirip kata...