Sudah lima hari ini Julia selalu terlambat datang, ke sekolah. Lupakan perjanjian dengan Gozali yang tak akan mengulanginya lagi. Julia selalu megulanginya sampau Gozali heran.
"Apa kamu bermaksud memcahkan rekor empat anak ini?" tanya Gozali di hari ke lima keterlambatan Julia.
"Wah, itu sih ga mungkin, Pak," kata Julia, sudah tak tahu harus menghadapi kemarahan Gozali dengan cara apa.
"Tapi, Pak, saya nggak bermaksud terlambat."
"Jadi maksud kamu apa?" tanya Gozali, menahan amarahnya.
"Maksud saya.... em.... apa ya, Pak? Saya kok jadi bingung," kata Julia membuat Cokie, Rama, Sid, dan Lando mendengus.
"kayaknya sih gak ada maksud apa apa."
Gozali menatp gadis itu geram. Sudah lima haridia datang terlambat. Selama itu juga dia tertidur di sela sela hukumannya. Lima hari ini menjadi hari yang ekstra berat bagi Gozali.
"Baik," kata Gozali, berusaha sabar.
"Rupanya kamu tidak menghargai kebaikan saya yang dulu itu. Kalau begit, ucapkan halo pada teman teman seperjuangan kamu mulai sekarang."
"Hallo," kata Julia lirih, di sambut kekehan Cokie,dan Rama.
"Yak, mulai saaat ini, hukuman yang saya berikan kepada kalian sama. Tidak ada keringanan lagi," kata Gozali sambil melirik Julia yang tertuduk lesu.
"Sekarang hukmannya agak berbeda. Kalian berjemur dulu di lapangan bola basket. Tidak boleh duduk atau tiarap. Setelah itu, lari keliling lapangan. Biar ada variasi sedikit."
Sebenarnya Gozali sedang ada urusan mendesak soal seorang muridnya sehingga tak bisa memikirkan hukuman yang lebih kreatif. Tapi, dia menolak untuk membaginya dengan kelima anak bengal ini.
Kelima anak iitu berjalan gontai menuju tengah lapangan dan berdiri di sana. Gozali segera bergegas ke ruang guru. Julia mengeluarkan desahan berat. Rama menatapnya ingin tahu.
"Jules, sebenernya ada apaan sih? Udah lima hari lo telat," kata Rama menarik perhatian tiga cowok yang lain. Julia menatap Rama ragu.
"Nggak ada apa apa. Akhir akhir ini gue agak.... ng.... sibuk" dalih Julia
"Sibuk belajar buat masuk kelas khusus?" kata Sid seperti menohok jantung Julia.
"Ya ampun... sebegitu pengennya masuk kelas khusus? Susah, lho. Masuk ke sana harus siap bekal diikutin sejibun lomba. Belum lagi olimpiade. Dan kalau nilainya turun, lo bisa masuk kelas reguler."
Bukannya Julia tidak tahu soal hal itu. Tapi, Julia sudah bertekad mendapatkan beasiswannya, apa pun resikonnya.
"Nggak kenapa napa," kata Julia sambil memijat dahinya. Kepalanya sudah terasa pusing ketika dia bagun tidur tadi.
"Kalian nggak usah cerewet."
"Heh, jarang jarang kita peduli sama orang!" sahut Sid mengamuk.
"Bukannya berterima kasih, dasar cewek bego."
Julia menelan bulat bulat kekesalannya. Kemarin, dia baru mendapat nilai fisika merah. Jelas jelas julia tidak bisa mengejar ketrtinggalannya dalam waktu dua pekan . Pekerjaannya hampir membunuhnya. Semalam, usaha untuk Julia belajar sama sekali nihil. Dia masih mengalami kebuntuan.
Rasanya Julia mau menangis. Tapi, itu di tahannya. Julia tidak bisa menangis di depan empat anak yang hampir hampir tidak di kenalnya. Kecuali memori memori menyedihkan semasa di hukum selama lima hari ini. Dia juga tidak mau menyusahkan orang lain.
"Heh? kok tumben diem aja?" tanya Sid bingung ketika Julia bergeming. Dia lantas mengetuk ngetuk kepala Julia.
"Woi. Halo? Apa masih ada penunggunya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
High School Paradise (END)
Teen FictionSurganya anak SMA • • • SMA Athens memang sekolah elite. Tapi,masih ada satu yang kurang. Athens nggak punya ekskul sepakbola. Ini yang membuat Lando, Rama, Sid, dan Cokie selama dua tahun selalu datang terlambat. Empat siswa paling top dan keren di...
