[A story about the past]
"Rosy, apa kau sudah selesai?" tanya seorang lelaki kepada rekan kerjanya yang sama-sama tengah fokus ke satu hal.
"Mmm... ya aku hampir selesai, sedikit lagi," jawab seorang wanita yang tengah menggoyang-goyangkan tabung reaksi berisi larutan campuran asam sulfat. Sebentar lagi larutan yang ia buat akan selesai.
Wanita itu Rosalina Whitewood atau Rosy, panggilan keakraban yang diberikan oleh lelaki tadi. Ia adalah seorang junior sekaligus rekan kerja yang setia mendampingi kemanapun lelaki itu pergi, ia sudah seperti tanaman epifit hutan hujan tropis.
Seniornya hanya mengangguk menanggapi jawaban Rosy, matanya tetap fokus ke preparat tak berdosa yang tergeletak di bawah lensa mikroskop miliknya. Maklum saja, ia harus segera mendapatkan hasil riset yang sudah ia lakukan selama delapan bulan lima belas hari tersebut. Jika tidak, ia tidak bisa mewujudkan impiannya.
"Larutannya sudah kubuat, ini di—" saat akan berbalik ke arahnya, Rosy tak sengaja menumpahkan larutan yang ia pegang ke tangannya sendiri.
Sontak saja ia berteriak "Aaaa!."
Lelaki itu menoleh dan melihat rekannya tersebut kesakitan. Tangan putihnya menampakan perbedaan yang sangat signifikan setelah sebagian kulitnya terkena larutan asam sulfat.
"Astaga!"
Ia segera menghampiri Rosy dan membawanya ke wastafel. Rosy meringis kesakitan saat tangannya di basuh oleh air keran. Sebagian kulit punggung tangan kanannya melepuh, entah mengapa hari ini ia ceroboh dengan tidak mengenakan sarung tangan karetnya.
"Kemarilah Rosy," lelaki itu menyuruhnya duduk di kursi sementara ia mengambil kotak obat di lemari.
"Kau sebaiknya beristirahat, biar aku saja yang menyelesaikannya," ucap lelaki itu sambil mengeringkan luka lepuh yang mulai tampak.
Rosy hanya terdiam memandangi wajah seniornya. Ia memikirkan orang disampingnya yang dari raut wajahnya saja terlihat sangat pintar, namun kepintarannya tak berarti apapun jika tubuhnya sendiri merasa kelelahan. Keambisiusannya justru akan membawa petaka jika ia memaksakan diri seperti ini. Ia tidak bisa melakukan semuanya sendiri, ia harus diawasi, apalagi selarut ini.
"Tidak profesor, aku akan tetap disini," ya, dia memang seorang profesor di usia mudanya. Berkat kepintarannya di dunia biologi khususnya zoologi dan botani, di usianya yang ke duapuluh tahun ia mendapatkan gelar tersebut setelah menyusun sebuah disertasi yang sangat brilian.
"Bagaimana jika kau terluka lagi, aku akan merasa sangat bersalah," ucapnya sambil mengoleskan salep ke punggung tangan Rosy.
"Sshh ... " ringisnya menahan perih.
"Tapi aku harus membuat lagi larutannya. Jika tidak, waktumu akan terpangkas oleh pekerjaanku," sesal Rosy. Demi apapun ia sangat merasa bersalah telah berbuat ceroboh.
"Sudah selesai, kau bisa istirahat sekarang," ucap seniornya tidak mengindahkan perkataan Rosy. Ia memasukkan kembali salepnya ke dalam kotak.
"Tidak profesor aku har—" Baru saja Rosy bangkit dan melangkah ke meja kerja, lelaki itu sudah menahannya.
"Ini sudah larut, sebaiknya kau beristirahat. Besok kita akan mendapatkan tugas yang lebih berat," potongnya yang membuat Rosy tidak berkutik.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Bukan hal yang baru bagi seorang peneliti untuk bekerja terus menerus hingga ribuan jam. Mereka memang begitu. Tapi Rosy merasa lelaki itu berjuang lebih banyak daripada yang lain. Bahkan ia menyuruh Rosy dan kedua rekannya untuk mengambil jatah istirahat lebih awal pada pukul 22:00 tadi.
