[A story about the past]
"Mr. Anderson, kau perlu istirahat. Jangan memaksakan tubuhmu." Olivia membujuk profesor Albert agar segera memakan roti baguette di depannya.
"Tidak Olivia, aku harus menemukan Rosy." Matanya tetap fokus ke layar komputer seraya jari jemarinya menari-nari di atas papan keyboard.
Sudah dua hari sejak kejadian di sungai itu. Rose tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya disana. Jas lab, buku-buku, alat tulis, kartu nama, semuanya ia tinggalkan di laboratorium, flatnya pun terlihat kosong tak berpenghuni. Meski ia pergi meninggalkan banyak jejak, tapi tak ada apapun yang bisa menunjukkan keberadaannya sekarang.
Segala cara telah dilakukan Ricci, Neil, Olivia dan profesor Albert untuk mencari Rose, tapi hasilnya nihil. Entah kemana perginya anak buah kesayangan sang profesor itu. Mereka sangat mengkhawatirkannya.
Berbagai macam spekulasi pun muncul terkait alasan Rose yang pergi begitu saja. Neil sudah menduganya dari awal, tapi ia tak ingin menceritakannya pada siapapun. Sedang Ricci berpikir bahwa Rose telah dijodohkan oleh ibunya dan segera memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya tanpa mengabari apapun pada mereka. Pendapat Ricci didukung dengan pihak keluarga Rose yang sulit untuk dihubungi sampai saat ini.
Olivia hanya bisa membantu sebisanya, ia terlihat kasihan pada profesor karena mengorbankan banyak waktunya demi mencari Rose. Dari bagaimana profesor mengkhawatirkannya, Olivia yakin Rose adalah seseorang yang penting bagi hidup profesor.
"Aku akan membuatkanmu teh. Tunggu sebentar." Olivia tak menyerah dengan bertumpuk roti yang tak profesor makan dua hari ke belakang. Ia harus tetap membujuk profesor untuk mengisi energinya.
Besok adalah hari dimana senior laboratorium dari pemerintahan mengecek laboratorium mereka. Jika semuanya berjalan seperti ini, bagaimana mereka akan mempresentasikannya pada senior lab. Olivia tak ingin hal buruk terjadi pada mereka.
"Ricci, Neil, apa kalian sudah mempersiapkan presentasi untuk besok?" Tanya Olivia.
Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan,"biasanya Rose yang menyiapkannya dan kami membantunya. Aku merindukan Rose," jawab Neil jujur.
"Aku tidak bersemangat, Rose selalu membuatkanku roti selai setiap pagi," jawab Ricci melengkapi jawaban Neil.
"Baiklah, aku akan membantu menyiapkan presentasinya. Dan nanti setelah itu, aku akan membuatkanmu roti selai. Ayo, semuanya harus semangat untuk pemeriksaan besok!" Olivia berusaha memacu semangat mereka agar kembali bergairah. Tak ada perubahan signifikan, tapi setidaknya meski terlihat lemas, mereka mau membuat presentasi untuk besok, kecuali profesor.
Ia masih berkutat dengan komputernya, melacak keberadaan Rose.
Akhirnya esok hari tiba. Sesuai jadwal, para peneliti senior mendatangi laboratorium mereka dengan membawa segudang pertanyaan. Untung saja kemarin Olivia membantu Neil dan Ricci agar tersadar kembali tentang hari ini. Alhasil, mereka dengan lancarnya mampu mengutarakan sejauh mana penelitian mereka tadi.
Setelah presentasi, para senior lab mengecek eksperimen mereka. Tanaman mutan, anggrek Amerika, serum-serum, dan lainnya. Penggeledahan pun dimulai agar tidak ada penyalahan etika ataupun sesuatu yang berbahaya yang akan merugikan orang banyak.
Laci-laci, lemari dan bunker-bunker larutan di cek satu persatu. Tak ada hal yang mencurigakan. Namun, semuanya tercengang saat senior lab menemukan sebuah dokumen di atas lemari peralatan. Mereka terlihat bingung, karena tidak ada yang merasa menaruh dokumen itu disana.
"Pembuatan Hama Pertanian Anti Cuaca, siapa pemilik dokumen ini?" Teriak kepala senior lab sambil mengacungkan dokumennya.
Semuanya terdiam, tak ada yang tahu.
