[A story about the past]
"Sebentar Neil, aku harus mengecek mutan-mutan kita di belakang."
"Semoga kau menemukan petunjuk dari pengacau ini, Rose." Jawab Neil sambil menyinari hewan pipih yang bergerak liat di kaca objek mikroskopnya. Hewan itu ditemukannya tadi pagi di rumah kaca penyimpanan tanaman-tanaman mutan penelitian mereka. Bentuknya pipih sepanjang 8 cm, seperti seekor lintah, tapi anehnya tubuhnya dilengkapi dua kaki di depan, ditambah kepalanya seperti anak burung pipit tak berbulu yang tidak berparuh, menjijikan.
Neil meyakini bahwa homunculus ini adalah hasil mutasi genetik yang sangat ceroboh. Dilihat dari anatomi dan struktur tubuhnya yang tak seimbang sangat tidak mungkin dia bisa beradaptasi di tempat yang memerlukan daya adaptasi termudah sekalipun. Bagaimana dia akan mencari makan ketika kepalanya yang kelewat besar itu saja sangat sulit untuk ditegakan. Paling-paling dia akan mati beberapa menit dari sekarang. Siapapun orangnya, untung saja kau tidak mencoba ini pada manusia.
Rose mencari-cari makhluk aneh yang lain di rumah kaca itu. Tapi Ia tak menemukan apapun selain tumbuhan mutan dan peralatan berkebunnya. Tak ada tanda-tanda kerusakan juga yang bisa merugikan penelitian mereka. Hanya saja, tunggu "bercak apa ini?"
Mungkin tak ada tanda kerusakan besar yang terlihat sekilas, tapi dengan ketelitiannya, Rose menemukan bercak-bercak kuning di bawah permukaan daun tanaman mutan tersebut. Tidak salah lagi ini pasti ulah dari makhluk yang ditemukan Neil. Rose mengikuti jejak bercak itu sampai beberapa meter menyusuri berpetak-petak tumbuhan mutan yang baru mencapai ukuran kecambah. Bercak itu membawanya ke suatu lubang kecil di bawah pohon elm di dekat saluran irigasi yang berasal dari luar.
Rose terdiam sejenak, berpikir.
Tidak salah lagi, gumamnya dalam hati.
Ia bergegas keluar untuk memastikan saluran airnya tidak bocor.
[A story about the future]
"Kalian bisa mencobanya di rumah, tapi ingat kau tidak boleh mengambil sperma sembarangan," terang Mr. Ashley menutup pembahasan tentang homunculus hari ini.
Liburan musim dingin sudah usai dan hari ini adalah hari pertama masuk sekolah.
Lion melihat keluar kaca jendela, langit sudah menguning tanda matahari akan terbenam, inilah resiko mengambil jam pelajaran saat menghindari bertemu Orion.
"Lion apa kau berencana membuat homunculus bersama ayahmu?" Tanya gadis berkacamata tebal pada Lion. Ya, Dia Seraphin, satu dari lima teman yang berhasil Lion ajak bicara.
"Tidak tahu, aku sudah pernah membuatnya. Jadi kupikir tidak," jawab Lion sambil membereskan alat tulis di meja.
"Tadinya aku bersama Yve ingin meminta bantuan pada Mr. Anderson. Tapi tak apa jika tidak bisa."
"Maaf Seraphin mungkin lain kali, aku pergi duluan," Lion memukul halus pundak Seraphin, tanda perpisahan.
Aku tidak ingin diganggu dulu, maaf Seraphin.
Seraphin tak bisa berbuat banyak jika Lion menolak, ia tak begitu berani memaksanya. Tadinya ia kira bisa mendapatkan bahan baku penting secara legal dan cuma-cuma dalam pembuatan homunculus di laboratorium ayah Lion. Tapi apa boleh buat.
Lion bergegas pulang sebelum senja berubah menjadi gelap dan udara semakin dingin. Masa bodo dengan homunculus yang selalu membuatnya bersemangat, kali ini ia sama sekali tidak tertarik. Lagipula ia pikir sekaranglah waktu yang tepat untuk tidak perlu memikirkan hal yang sudah dipelajari, lebih tepatnya sedikit berbangga diri karena memiliki ayah seorang ilmuwan.
