Chapter 15 : Hidden problem

10 1 0
                                        

[A story about the past]

"Hari yang pas untuk menikmati espresso hangat."

Baru saja, Rose membeli dua cup espresso kesukannya dari kedai langganan di seberang sana. Satu cup untuknya dan satu lagi untuk Neil. Tidak, bukan untuk profesor itu. Karena sang profesor sedang dalam penelitiannya di Amerika.

Rose sangat menantikan kedatangan mereka beberapa hari lagi. Ia ingin sekali mendengar kabar keberhasilan misinya yang tentu akan membantu penelitian mereka. Dan lagi tak kalah penting, Rose ingin mengetahui keadaan profesor Albert.

Apa Dia baik-baik saja, apa Dia makan dengan teratur, bagaimana dengan porsi tidurnya, itulah segelintir pertanyaan yang terus melintas di pikirannya selama menunggu kedatangan mereka.

Rose selalu terlihat melamun saat memikirkan hal itu, seperti saat ini. Meski kakinya tetap berjalan menyusuri aspal, namun matanya tak bisa berbohong. Pandangannya nyalang ke depan, dengan pikiran yang terus tertuju pada profesor Albert.

Sepertinya aku harus membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan mereka. Kira-kira sup ikan tuna pasti terlihat mewah di tengah perayaan yang kecil.

Sebuah ide penyambutan terlintas di kepalanya. Tubuhnya menjadi bersemangat lagi.

"Aku harus bergegas," ucapnya sambil sedikit berlari dengan sepatu kets-nya.

Namun tiba-tiba ...

"Aaaaaa!!!!!"

"Tolonggg."

Seketika dunia terasa gelap.

[A story about the future]

Ekor bintang perlahan menjauhi matahari, keindahan langit hitam tergantikan fajar yang kian membiru.  Tanah tetap putih seperti kemarin dan pohon, tetap belum berdaun. Namun yang terlihat berbeda hari ini adalah karena memiliki perasaan yang baru, setelah Orion berkata jujur.

Sangat melegakan sekali.

Aku bangun di pagi hari seperti biasanya dan kembali sangat bersemangat untuk melakukan aktifitas, mungkin ini, tidak, haruskah aku mengatakannya. Kurasa itu memalukan, lupakan saja.

Sayangnya, ketika semangatku seakan mengalir di setiap pembuluh darah, sekolah ternyata diliburkan. Semalam ada badai es yang menghantam pepohonan di sekitaran halaman sekolah dan telah berhasil memporak-porandakan tempat tervital yang dijadikan sebagai pusat peradaban satu-satunya disana, yaitu perpustakaan. Hari ini kepala sekolah mungkin akan sangat sibuk untuk menyelamatkan dokumen-dokumen penting.

"Ahhh," aku menghela napas, merasakan udara dingin pagi ini dari jendela atap laboratorium. Sang matahari terasa bersinar lebih terang sehabis badai datang, kurasa musim semi akan segera tiba beberapa hari lagi.

Aku tak boleh menyia-nyiakan semangat menyongsong musim semi ini. Sepertinya mencurahkan seluruh tenagaku untuk membersihkan laboratorium bawah tanah ayah bisa dikatakan sebagai persiapan musim semi yang bersih dan rapi.

"Hmmm...hmmm...hmmm," sambil membersihkan meja-meja kerja ayah yang debunya sudah mencapai empat senti, kurasa, aku menggumamkan sebuah lagu yang sedang tren akhir-akhir ini di radio. Lagu dari sebuah film romantis asal Italia karya Garisha Ferucii. Walaupun sebenarnya aku belum sempat menonton filmnya saat penayangan pertamanyanya sebulan yang lalu, tapi lagu ini seakan sudah menumpahkan semua isi cerita dari film tersebut, liriknya yang menceritakan sebuah perasaan rumit dari seorang perempuan kepada sahabat kecilnya yang telah tumbuh dewasa dikemas secara indah dan mendalam.

Aku terhenyak sejenak.

"Selalu saja menyimpan dokumen penting sembarangan," kertas, amplop-amplop, jurnal dan buku-buku berserakan di mana-mana.

Dandelion's promiseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang