Aku sangat suka dengan hujan, jika datangnya tepat waktu.
Aku sangat tenang jika turun hujan, karena hujan mampu menyembunyikan air mataku.
Aku sangat senang terhadap hujan, karena hujan selalu mengingat kenangan kita, dulu.
Aku sangat bahagia saat hujan turun, karena ketika hujan turun hatiku terasa bersamamu.
Di sela-sela hujan selalu ada pengharapan yang aku lontarkan. Aku menginginkan dirimu hadir kembali menikmati hujan bersamaku. Berjalan di derasnya hujan kala itu, tidak memedulikan dingin yang menempel di tubuh kita, walaupun dingin kita masih bisa menghangatkan satu sama lainnya.
Entah mengapa kau menjadi kejam seperti ini; seperti hujan yang turun, menghantam atap rumah dan jalanan yang tidak bersalah. Aku tidak bersalah, bahkan dalam mencintaimu aku bisa di bilang sangat. Namun, mengapa kau menghancurkan hati ini layaknya jalanan di hantam gerombolan hujan. Membuat luka hingga menimbulkan tangis yang tidak terduga.
Padahal cintaku sudah sederas hujan kepadamu. Bahkan aku tidak pernah memedulikan akan hadirnya petir kala mencintaimu. Namun tetap saja dirimu bersifat langit, yang terus menerus menganggap diriku rendah.
Sekarang aku berjalan sendiri di bawah hujan, dengan keadaan hati yang teramat hancur. Bersama air mata, aku mengarunginya. Untung saja hujan selalu bisa menyembunyikan air mataku. Hujan menjadi tempat pelarianku saat ini. Tempat di mana aku merasa sedikit tenang saat kau berteduh dan membuatku terasing.
Hujan pun reda. Aku bingung mencari pelangi ke mana. Karena yang aku tahu, pelangi itu hanyalah dirimu. Warna-warna yang di hadirkan selalu kuanggap sepertimu. Keindahan yang terpancar selalu tentang wajahmu. Lantas, tidak ada pelangi kali ini. Mungkin hujan pun mengetahuinya, bahwa kau telah menjadi pergi yang tidak bisa aku tahan lagi.
Tentang hujan,
Selepas hujan membawamu pergi.
Kau seperti orang yang tidak memiliki empati.
Menghanyutkanku pada mentari.
Meredakan hujan yang aku tangisi.
Rintik hujan terakhir tadi.
Menandakan duniaku denganmu terhenti.
Ingin aku membujukmu kembali.
Tapi kau terus menerus
menganggapku sepi.
Mungkin nanti, saat hujan turun kembali. Aku tidak akan sepi lagi. Semoga ada pelangi baru yang mengisi hati ini, meski tidak seindah warna-warna yang ada di dirimu. Tapi aku yakin, bahwa dia bisa menjadi pelangi yang utuh, yang senantiasa setia menunggu hujan reda. Dan tidak sepertimu, tentunya."Hujan itu baik. Akan tetapi, aku tidak pernah ingin melihat dirimu kehujanan"
***
Sore ini hujan gaesss, jadi aku buat part8 tentang hujan saja.
Karena aku juga pernah patah hati kala hujan ;)

KAMU SEDANG MEMBACA
IKHLAS
NonfiksiBukan novel. Aku menulis catatan ini, hanya untuk mengutarakan isi hati. Mengingat kejadian-kejadian yang enggan untuk Aku lakukan kembali. Atau bisa jadi catatan ini mengutarakan juga isi hati kalian yang membacanya, bahkan ada kejadian yang sama p...