16. Tak Ada yang Spesial Hari Ini.

97 3 2
                                    

Tidak ada yang spesial hari ini, kau tetap cantik namun hatimu milik orang lain. Malahan aku sangat merasa sedih melihat wajahmu, kau tidak menyapaku, bahkan untuk tersenyum pun kau terlihat kaku. Apa daya hari ini aku berpapasan wajah denganmu, jika hanya menimbulkan perih di relung jantung bagian kanan.

Aku sudah lupa caranya membuat hariku spesial setelah kau beranjak pergi dari kehidupanku. Mungkin aku bukan lupa akan membuat hariku spesial. Tapi, tanpa kehadiranmu lah yang membuat hari-hariku menjadi sebuah awan hitam.

Mungkin, hari ini adalah sebagian hari-hari spesial yang pernah kau alami dalam hidupmu. Kau bertatap denganku sedang bergandengan tangan dengannya. Kau sudah merasa menang, kau sudah merasa spesial hari ini tatkala kau memamerkan kemesraanmu di hadapanku. Aku tidak iri, aku tidak benci denganmu, tenang saja. Aku malahan senang kau berbuat begitu padaku. Kau membuat semangatku bangkit kembali, kau memotivasiku agar aku bisa lebih dari dirimu.

Seketika hujan tiba, hari ini sedikit spesial namun tidak sespesial saat aku menjalani hari bersamamu. Bulir-bulir air hujan menggenangi pipiku. Hati meronta selalu ingin berteriak namamu. Spesialnya adalah hujan selalu menahan tangisku. Diriku pergi berkencan dengan air hujan yang terasa dingin hingga membasahi seluruh tubuh yang panas melihat dirimu digandeng oleh tangannya.

Malam-malamku pun sama, tidak seperti biasa. Malam-malamku terasa tidak spesial. Aku tahu, kini semuanya tidak sespesial bersamamu. Aku tahu, hidupku akan sepi saat kau menghunus jantungku pada waktu itu. Saat malam mulai menampakkan gelap gulita pekatnya aku membayangkan kau sedang kesepian tanpa hadirnya dia di malammu. Aku sangat ingin menemuimu, meskipun hanya lewat mimpi. Memang, sekarang aku bukan siapa-siapa untukmu. Tapi hati tidak bisa lebih lama menahan perasaan yang harus di obati ini. Aku berharap suatu saat hariku spesial kembali, namun bukan melihat kau bersanding bersamanya nanti.

Secarik puisi dimalam ini hancur, dan kanvasku mulai tidak berwarna putih. Aku sudah gagal menjadi penyair hebat, diriku sudah tidak spesial lagi untuk menjadi seorang penulis puisi. Alasannya adalah kau masih tetap menjadi kamu yang indah, cantik nan anggun di dalam puisi-puisiku. Dan aku tidak bisa menggantikan dirimu dengan orang yang lain.

“Aku tidak iri ketika kau bergandengan tangan dengannya. Aku hanya iri kepada angin malam, yang senantiasa bisa menyentuhmu ketika kau sedang kesepian”
-Elgi Rizkiansyah

IKHLASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang