Suara bel yang sudah tidak terdengar lagi disini, hanya tertinggal gerbang yang tertutup rapat menyambut wajah muramku.Kelelahan mengejar waktu tidak pernah ada dalam sejarah yang dilewati dikehidupanku.Seakan waktu berlari sedangkan aku berjalan santai dibelakang.Kesan hidup tentang keterlambatan memasuki sekolah sudah terulang tak terhitung, mungkin sebuku sudah terpampang namaku dengan besar.Bagai tinta permanent yang sudah menyatu dibuku kehadiran siswa.Telat sudah menyatu diragaku, tak ada kesesalan didada.Namun, aku tak tega menatap keluh kesah Meli dengan keterlambatan seperti hantu yang mengganggu hidupnya.Hati yang terasa berat untuk menerima kesalahan bersangkut dengan Meli.Murid kebanggaan sekolah, ketua osis, cantik, mandiri, pintar disegala bidang mengikuti bayangan yang mengejar mimpi tingginya.Seperti permata disekolah kami, sangatlah berharga.Jikalau keburukan membuntuti, Meli menganggap itu hal yang dapat membuat citra dirinya yang kian melejit, dapat menurunkan dan menjerumusi.
Terdengar suara angin melantuni kegelisahan dirinya.Seragam yang membasahi tubuh dengan jatuhan hujan keringat menjadikan risi didirinya.Terasa sangat menyesal dalam dirinya untuk menunggu kebangunanku yang tertunda.Dapat dilihat sorotan mata yang kian merintih dengan situasi.
"Gimana nih Rah, gue telat".Kepanikkan mengguyur ucapannya.Dengusan nafasku menjawab.Keringat berkuasa diwilayah panas ini.Inginku membuka seragam dan menggantinya dengan kaos oblong, pikiran itu tak bisa terjadi sekarang.
Satpam yang membuat seram dijadikan kumis lebatnya.Bayangan yang semakin dekat dengan tubuh kami.Kuharap kami dibebaskan dari ketelatan yang dirasa menjadi rutinitasku.Terlontar sebuah nama yang sangat membuat hati remuk dan sejuta pertanyaan menyeka gorden otak.Hati terasa diperlakukan tak adil, tapi apa boleh buat.Aku hanyalah siswa pembuat onar yang tidak melakukan tindakan kriminal, namun dagelan berlanjut dikelas.
"Me...meliana, ada yang namanya Meliana?".Sesekali lirikkannya melihat sebuah kertas yang digenggam satu tangannya.Pertanyaan yang menyebut nama diantara kami.Hanya ada kami, tak ada siswa lain yang telat.Sesuai dengan pesan Pak Wijoyo kemarin, akan ada penyampaian pidato dari ketos.Hal itu baru terlewat dipikiran, pekikku sedikit karena kesendirian yang akan terasa setelah Meli pergi kelapangan.
"Saya Pak, saya Meliana.Memangnya kenapa Pak?".
"Oh, iya dek.Disuruh masuk kelapangan, adek dipanggil buat pidato didepan".Panggilan digunakan dengan sesopan mungkin terucap dari bibirnya yang tertutup oleh kumis.
Loncatan Meli menggambarkan kesenangan waktu yang tepat, waktu yang menolongnya dari tindak yang dipikirkannya kriminal.Padahal, ketelatan sudah menjadi sarapanku tiap hari.Satpam saja sudah kenal, tapi mengapa dia masih menanyakan nama seorang Meliana, sudah terlihat kalau disana hanya ada dua cewek yang telat.Aku dan Meli.Terkesan formalitas satpam itu menyebutnya.
Sangat tepat.Desahku didalam dada.
Tangan mungil Meli menyambar tali tas pink yang tergeletak ditanah.Seulas senyum tergambar nyata disana.Tatapan malas mampu menjawab kesenangan Meli, aku sekarang sendirian diluar sekolah.Ditemani gerbang kekar dan angin luar yang dingin.Hariku kini serasa membedakan diri sendiri.Gerakan tubuhnya menghilang begitu saja, punggung yang lama kelamaan menghilang dibawanya sempurna.Satpam yang menutup kembali gerbang yang tadinya dibuka untuk mempersilahkan cewek emas itu.Alis satpam yang satu naik seperti gunung menjulang.
"Nah, kamu tunggu disini aja ya.Temenin saya, entar baru masuk pas Pak Gery datang, Oke".Jarinya mengikuti gerakan iklan yang menjadikan tangan membentuk posisi jempol dan telunjuk menempel.Jengah sekali aku melewati keadaan seperti sekarang.Otakku mulai mencari cara untuk berusaha lari dari waktu yang mencekang.Sepintas cara cermat nan brilian melewati satpam konyol ini.Kutuntun tubuh mendekati bapak tua.Terlihat menyadari hal itu, dia segera bertanya maksud dan tujuan raut wajahku.Segaja, aku memasang chanel wajah yang memelas, guna melunakkan kerasnya hati batu tua ini.Sangat durhaka aku menganggap bapak yang seharusnya ditakuti dan dihormati, ternyata dinodai namanya olehku.
Guru piket hari ini Pak Gery, bisa mati aku dibuatnya.Maka dari itu aku mencari celah, dan ada cara mengelabui satpam tua itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The story about us
Teen FictionKisah gadis yang hidup dengan kehangatan keluarga harus hilang begitu saja karena keegoisan Ayahnya. Kehidupannya dimulai dari dia menempati sebuah kos-kosan yang sederhana. Pertemuan dua gadis yang saling bertolak belakang.Mampukah mereka be...
