Bolehlah...yang baik ditekan dulu bintangnya:o) Comment jg boleh, haha
"Gua lagi meriang nih" sambil mengeratkan jaket kulit yang membalutku, aku berbicara.
"Merindukan kasih sayang, aku meriang...aku meriang...aku meriang, merindukan kasih sayang...
Jari jempolnya mengacung kedepan, tubuhnya mulai bergoyang seiring lirik yang dinyanyikannya.Sungguh menyebalkan Tono, tubuhku yang meriang karena perjalanan kerumahnya malam-malam demi dia, malah diledeknya.
"Berisik Toa!" aku berteriak sambil menutup rapat telinga dengan telapak tangan.
Tubuhnya segera berhenti, lirik yang tadinya dinyanyikan seketika tak bersuara.
"Et dah! emang ngapa sih, kan gua pengen nyanyi Tir! kok jadi lu yang repot".Omelnya yang malah membuat kepalaku makin pusing.
Tanganku memegang erat kepala yang dilanda pusing karena Tono si pembuat berisik bernyanyi.Kali ini aku tidak berbohong, suara Tono bagaikan suara tikus menjerit kejepit jebakan tikus.Sangat ancur dan tak bernada.
"Gak usah nyanyi lu, bikin gua tambah puyeng!"
"Tadi meriang, sekarang puyeng entar apa? naber? hahaha" Tawanya pecah diruang tamu.Aku hanya bisa memaklumi prilaku kawanku ini.
"Tawa terus mumpung gak ada dendanya kalo ketawa, gua serius Ton".
"Gua engga lagi serius, gimana dong?".Wajahnya maju kearahku, raut wajahnya sangatlah meledek kesakitan yang kurasakan.
Bukan karena sakit penyakit, melainkan sakit mendengar Tono bernyanyi.
"Au ah..." itu kataku, namun bibir ini langsung berucap menyebut nama orang didepanku.
Kami duduk dengan posisi dan formasi hadap-hadapan.
"Ton" Panggilku pelan, tapi masih didengarnya.
"Ha?" mulutnya terbuka lebar, menandakan kebingungannya dengan aku memanggil namanya.
"Lu ngerasa haus ga?".
Tanyaku, tenggorokan seperti dipadang pasir saat ini,kering.Dirumah tadi, aku belum sempat minum, makanya sekarang kehausan melanda.
"Hm...enggak tuh".Dilihat dari wajahnya Tono sedikit berpikir, apakah dia haus atau tidak.Mungkin, dia belum peka dengan kodeku.
"Gua haus banget gila".Aku menambahkan keterangan bahwa aku sedang haus berat, akan tetapi masih belum sadar juga Tono, kalau aku meng-kodenya agar diambilkan air.
"Oh...".Simpel saja jawaban Tono.
"Ton! kok lu gak peka sih, kan gua udah kasih kode...".Mulai amarah membuat kode tak terlaksana kuluncurkan untuk Tono.Cowok didepanku memasang wajah tak bersalah.
Kalau kalian jadi aku, pasti sudah pusing dan bosan berteman dengan Tono, anak kurang kepekaan dan kekonekan.Masih tepikirkan diotakku adalah, Tono konek saat pelajaran yang dia sukai, namun tidak saat pelajaran yang dia tidak sukai.
Tapi, apakah rumus pemahaman pelajaran Tono, berlaku disaat peretemanan? masa iya, Tono konek bila berbicara dengan teman yang dia sukai, dan tidak bila berbicara dengan teman yang tidak dia sukai?.
"Kode? kode apaan? lu engga ngasih apaan-apaan ke gua".Terlihat sekali wajah polos dipancarkan olehnya.Kukira dia hanya bercanda dan memainkanku saja, tapi kurasa tidak.
Memang polos sekali cowok yang satu ini.Dari dulu, aku suka dengan teman yang polos dan jujur, bukan yang baik didepan, jahat dibelakang.
"Aduh, begini nih nasib punya temen yang gak peka, gak tau dah nih peka atau lola".
KAMU SEDANG MEMBACA
The story about us
Teen FictionKisah gadis yang hidup dengan kehangatan keluarga harus hilang begitu saja karena keegoisan Ayahnya. Kehidupannya dimulai dari dia menempati sebuah kos-kosan yang sederhana. Pertemuan dua gadis yang saling bertolak belakang.Mampukah mereka be...
