"Mau sampai kapan, kamu menganggap pekerjaan ini seenaknya Dafa!,"
"Kamu gak kasihan sama pasien-pasien kamu,"
"Om Yudha sudah beberapa kali complain sama papa tentang sikap kamu ini,"
"Jangan mentang-mentang kamu anak papa, kamu jadi seenaknya .."
"Kalau kamu salah, papa pasti tak segan untuk tegur kamu, dan kamu juga di sama ratakan jika di rumah sakit dengan pegawai-pegawai lain sama papa,"
"Tak ada yang membedakan!"
"Mau kamu anak papa, ataupun siapa,"
"Daf!..,"
"Denger papa gak?"
"Dafa!!.. " Bapak beranak dua itu menoleh ke samping demi melihat keberadaan anak bungsunya yang sedari tadi diam tak menghiraukan ucapannya. Kejengkelan Pak Amar memuncak karena Dafa anaknya ternyata sama sekali tak mendengarkan ocehannya sedari tadi, malah sibuk sendiri dengan ponsel di genggamannya.
"Kamu ini yah," Ucap pak Amar seraya menarik paksa ponsel di genggaman putranya.
"Ahh, papa apaan sih," Dafa berdesis seraya mengambil ponsel di tangan papanya, "Dafa dengerin papa kok," Lanjutnya setelah berhasil mengambil ponselnya.
"Kebiasaan kalo orang tua ngomong gak pernah di denger,"
"Lagian, papa kan udah ngomelin Dafa di rumah sakit, double gitu masih aja di bahas di jalan mau balik," Dafa merajuk seraya cemberut.
Pak Amar hanya mampu geleng-geleng kepala atas tingkah anaknya yang masih saja manja, padahal usia Dafa sudah menginjak 27 tahun. Rasanya tak pantas pria dewasa berumur seperti itu merajuk. Terasa aneh!
"Lagian udah kehandle ini sama Dafa, operasi juga lancar.."
"Jangan sombong seperti itu, kalo tadi hanya keberuntungan kamu, gimana?"
Dafa tak menjawab, ia hanya berdecak tak bersuara kemudian turun dari mobil yang ditumpanginya karena kebetulan sudah sampai di area kediamannya, ia merasa kesal terhadap ayahnya. Di rumah sakit saja sudah panas kuping nya mendengar wejangan dari Om Yudha, disini di tambah lagi dengan ocehan ayahnya. Membuatnya lelah saja. Padahal Dafa hanya telat ke rumah sakit dua menit saja.
Memang yah menjadi dokter ganteng banyak banget cobaanya.
"Assalamualaikum..," Salam Dafa seraya membuka pintu utama rumahnya dan langsung disambut oleh bidadari surga yang begitu cantik di matanya. Sang ibu pastinya.
"Waalaikumsalam wr.wb.," Jawab sang ibu dan Dafa langsung mengalaminya. "Eh, ada apa ini?" Lanjutnya karena Dafa tiba-tiba memeluknya.
Kumat deh manjanaya.
"Ngadu deh tuh sama Mama," Pak Amar bersuara setelah masuk ke dalam rumah dan melihat si bungsu dan istrinya sedang peluk-pelukan.
"Kenapa sih, Pa?" Tanya bu Ratna bingung seraya mengelus rambut Dafa sayang.
"Kawinin Dafa aja lah Ma, biar dia lebih tanggung jawab.,"
"Dikira Dafa kucing kali main di kawin-kawinin aja," Jawab Dafa kesal dan masih memeluk sang bunda.
"Iya ih, si papa sembarangan main ngawinin aja.," Dafa tersenyum dalam pelukan mendengar sang bunda selalu membelanya.
"Udah tua woy!!" Dafa sontak mengangkat kepalanya karena mendengar suara yang begitu ia kenal.
David!!
"Eh, kapan kesini lo??" Dafa mengurai pelukannya dari sang bunda dan langsung menghampiri sang kakak untuk menyalaminya. Sementara sang bunda menghampiri sang suami yang terlihat lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anyelir
Romance"Seolah terus di genggam, tapi tak bisa dimiliki" Itulah yang dirasakan Dafa yang setia mencintai wanita bernama Anyelir.
