Jarum jam nyaris menyentuh angka sembilan. Suasana kelas yang semula hening mencekam, perlahan berubah riuh rendah. Ketegangan memuncak karena waktu pengumpulan lembar jawaban tes Fisika hanya tersisa sepuluh menit lagi.
Di tengah kegaduhan itu, sosok seorang cowok berambut cokelat dengan iris mata hitam pekat tetap menjadi pusat perhatian. Ia adalah wakil ketua OSIS sekaligus kapten tim basket SMA Adiyaksa—sosok yang dikenal dingin, cuek, dan menduduki puncak daftar most wanted di sekolah. Namun, di menit-menit terakhir yang kritis ini, karisma sang kapten basket mendadak luntur. Ia menoleh ke kanan, menatap penuh harap pada seorang gadis berkacamata yang duduk di sebelahnya.
"Eh, Na! Jawaban nomor 5 sama 7 apaan?" bisiknya setengah putus asa.
"Belum semuanya," jawab gadis itu singkat tanpa menoleh.
Tak menyerah, ia pun berbalik ke arah belakang. "Eh, Ki, nomor 5 sama 7 apa jawabannya?" tanyanya lagi dengan suara ditekan pelan.
"Nomor 5 A, nomor 7 kagak tahu," balas cowok di belakangnya tak kalah pelan.
Begitu waktu habis, ia segera mengumpulkan lembar tesnya kepada guru pengampu mata pelajaran Fisika. Wajah pasrah terlihat jelas dari gurat wajahnya; benar atau salah bukan lagi prioritas. Baginya, yang penting siksaan ujian Fisika ini sudah berakhir.
***
Saat bel istirahat berbunyi, cowok itu langsung menghampiri si gadis berkacamata tadi.
"Eh, Riana! Main pergi aja lo!" serunya menghadang langkah gadis itu. "Lo tuh sumpah pelit amat ya sama sepupu sendiri. Gue cuma minta dua nomor doang padahal, tapi nggak dikasih."
Riana menghentikan langkah dan memutar bola matanya jengah. "Astaga, Nando... suudzon amat sama gue. Kan tadi gue udah bilang kalau gue emang belum selesai dan nggak tahu jawabannya. Hmm, udah dicatat dosa suudzon lo sama malaikat," balas Riana santai.
Nando mendengus, menyugar rambut cokelatnya dengan kasar. "Terserah deh. Kali ini gue nggak yakin bisa dapat nilai tinggi."
"Yee, salah lo sendiri yang sibuk main basket terus padahal tahu ada ujian," cibir Riana.
Dia adalah Nando Alaric Louis. Meskipun statusnya sebagai idola sekolah menjadikannya incaran banyak siswi, Nando justru dikenal sangat antipati terhadap perempuan yang banyak gaya atau mendekatinya hanya karena tampang. Satu-satunya gadis yang bisa dekat dengannya hanyalah Riana, sepupunya sendiri. Kedekatan mereka yang konstan tak jarang membuat warga sekolah salah paham dan mengira mereka berpacaran.
Namun, bagi Nando, jatuh cinta adalah daftar terakhir dalam agendanya. Ia belum ingin menjalin hubungan, sebab baginya, sebuah perpisahan hanya akan menciptakan lubang baru di hatinya.
Karena baginya, cinta yang ada di dunia ini bersifat semu; tidak ada yang abadi, apalagi yang namanya cinta kebetulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alessia (ON GOING)
RomanceAlessia, siswi SMA tingkat akhir yang dalam satu waktu menghadapi banyak masalah. Pertama, dia dijodohkan papanya dengan seorang CEO muda. Kedua, dia mendapat teror dari seseorang yang merupakan masa lalunya. Ketiga, hubungan keluarga papa Alessia y...
