Di kantor Hokage, malam semakin larut, tapi ketegangan belum juga mereda. Tsunade berdiri di dekat jendela, pandangannya jauh ke luar. Bayangan Jiraiya, sahabat lamanya, masih menyelimuti pikirannya.
“Sekarang Jiraiya dapat beristirahat dengan tenang,” ucap Tsunade pelan, namun suaranya mantap. Matanya sedikit berkabut, tetapi ia segera mengalihkan perasaannya, kembali memfokuskan diri pada situasi yang ada.
Kakashi yang berdiri di sebelahnya, memecah kesunyian. “Lalu, ayo siapkan pasukan kita! Kita harus segera melawan pria bertopeng itu!” Seruan semangat terdengar jelas dalam nadanya. Ia menatap Tsunade dengan penuh keyakinan, berharap ada aksi yang bisa segera dilakukan.
Guy, di belakang Kakashi, hanya menggaruk kepalanya, seolah setuju namun ragu. “Kakashi, mungkin ini sedikit terlalu terburu-buru…”
Namun Tsunade menggeleng pelan, nada suaranya penuh pertimbangan. “Tidak, kita harus menunggu adanya kesempatan,” tolaknya tegas, namun tetap tenang.
“K-Kesempatan?” tanya Kakashi, bingung.
Tsunade menunduk, matanya tertuju pada meja di depannya. “Ramalan belum berakhir. Ada kalimat selanjutnya dalam ramalan itu,” ucapnya dengan berat hati. “Disebutkan bahwa gulungan Bulan Merah akan terbuka saat bulan merah keluar. Aku akan menyimpannya sampai saat itu tiba.”
Tsunade dengan hati-hati meletakkan gulungan itu ke dalam brankas di sudut ruangan, suara besi yang berderak menandakan seberapa penting benda itu bagi mereka. Setelah pintu brankas tertutup, suasana hening kembali menyelimuti ruangan.
…
Di luar, malam terasa tenang. Angin dingin menghembus lembut saat Naruto dan Sakura berjalan beriringan pulang dari kantor Hokage. Cahaya bulan samar-samar menerangi jalan desa, memberikan suasana yang agak melankolis.
“Walaupun kita sudah mendapatkan gulungan Bulan Merah, nampaknya kita harus menunggu lagi,” kata Sakura memecah keheningan, membuka pembicaraan sambil menatap langit, mencoba mengusir perasaan cemas yang menggantung.
“Yah…” Naruto hanya menggumam pelan. Langkah kakinya sedikit lesu, pikirannya mengembara, tidak sepenuhnya mendengarkan.
“Kapan bulan menjadi merah? Kita harus bertanya pada Tsunade-sama besok untuk—”
“Sa-Sakura, maaf,” potong Naruto tiba-tiba. Nada suaranya mendadak penuh semangat yang baru saja muncul entah dari mana. “Tapi aku harus pergi sekarang.”
Sebelum Sakura bisa merespons, Naruto sudah mulai mempercepat langkahnya, meninggalkan Sakura yang hanya bisa terdiam. Langkah kakinya semakin cepat, semakin mantap, seolah ada sesuatu yang sangat ingin dikejarnya. Ada senyum tipis di bibirnya, sesuatu yang belum pernah Sakura lihat sebelumnya. Apakah ini semangat, atau ada hal lain yang lebih dalam yang mendorongnya?
Naruto terus berlari, hatinya berdebar semakin cepat. Hatinya bergejolak antara kebahagiaan dan keraguan. Apa yang ia cari? Apa yang ia kejar?
Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu rumahnya, tubuhnya berhenti sejenak. Ada keraguan yang terlintas di wajahnya, sesuatu yang membuatnya ragu untuk membuka pintu. Naruto menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia mengangkat tangannya perlahan, membuka pintu rumahnya dengan hati-hati.
Saat pintu terbuka, ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam. Pemandangan yang tak pernah dia bayangkan akan dilihatnya lagi.
Di sana, di ruang tengah, bukan kamar kosong yang dingin yang menyambutnya. Tidak lagi kesendirian yang membuatnya merasa hampa. Di sana, di depannya, berdiri dua sosok yang sangat ia rindukan. Ayahnya, Minato, menurunkan koran yang dibacanya sambil tersenyum tenang. Sementara ibunya, Kushina, tampak sibuk meletakkan panci yang berisi masakan di atas meja makan, aroma makanan hangat menguar di udara.
“Kau pulang lebih cepat,” ucap Minato dengan senyum hangat yang menenangkan hati.
“A-Ayah… I-Ibu…” Naruto terdiam. Suaranya tercekat di tenggorokan, seolah kata-kata tak mampu keluar.
Kushina menoleh sambil tersenyum, “Selamat datang di rumah, Menma,” ucapnya lembut, penuh kasih sayang. Tatapan matanya hangat, seperti setiap kali seorang ibu menyambut anaknya pulang dari perjalanan panjang.
Naruto menahan air matanya yang hampir menetes. Rasa hangat menyelimuti hatinya. Ia mencoba tersenyum, meskipun sulit menahan emosinya.
Dengan suara bergetar, Naruto akhirnya mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin ia katakan, “AKU PULANG.”
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Naruto merasa benar-benar pulang ke rumah.
