02 : Bertemu (Lagi)

6.4K 641 9
                                        

Tidak selamanya apa yang kau inginkan akan terwujud. Jika keinginanmu tidak terwujud hanya satu yang harus kau lakukan. Bersyukur.

Kennant Jevon Hardian.

Akhirnya sampai juga di rumah. Setelah berjam-jam aku menghabiskan waktu di kampus. Aku mulai memasuki pekarangan rumah. Aku melihat sesuatu yang janggal. Mobil bwm hitam terparkir dihalaman rumahku. Aku jelas tau siapa pemilik mobil itu.

Aku segera berlari memasuki rumah. Disana kulihat lelaki paruh baya sedang duduk di ruang tamu.

"PAPA." Aku langsung menghambur kepelukan papaku.

"Bukannya papa pulangnya masih minggu depan ?" Aku melepaskan pelukanku.

"Emang kamu nggak seneng kalo Papa pulang cepet ?" Ucap Papa sambil mengusap kepalaku.

"Seneng lah, Pa. Seneng banget malahan. Oh ya, gimana kabar kak Jason ?"

Ngomong-ngomong soal Kak Jason. Semenjak kuliah di Belanda aku jarang sekali bertemu dengannya. Terakhir kita bertemu lebaran tahun kemarin.

"Kakak kamu baik. Katanya baru bulan depan dia bisa pulang."

"Ih, Kak Jason itu ya, sok sibuk banget. Masak iya pulang hampir satu tahun sekali." Aku mencebik kesal. Jujur saja aku kangen dengan Kak Jason.

"Gimana tadi kuliah kamu, Je ?"

"Ya gitu lah Pa, nggak jauh beda sama di Jogja." Ucapku sambil mengambil beberapa camilan di atas meja.

"Soal mama kamu--"

Belum sempat Papa melanjutkan ucapannya aku langsung berdiri. "Pah Jesslyn kekamar dulu ya mau istirahat." Papa hanya mengangguk menanggapi ucapan ku.

Sesampainya di kamar aku mendudukkan diriku diranjang. Ku usap kepalaku dengan kasar. Jujur setiap berbicara soal mama aku tidak sanggup. Aku tau aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh membenci seseorang yang telah melahirkanku. Tapi kejadian itu masih teringat jelas di kepalaku. Kejadian yang membuat semuanya berantakan. Membuat kehidulan Jesslyn Gracia hancur.

Mungkin di hadapan orang aku menjadi sosok yang ceria dan tidak punya masalah. Tapi jika aku sendiri seperti ini aku merasa hidupku menyedihkan.

Aku mengusap air mataku kasar. Tidak ada yang boleh tau aku menangis, apalagi Papa. Aku tidak ingin Papa sedih melihatku menangis.

***

Malam ini aku memutuskan pergi ke toko buku dekat sini. Mungkin itu bisa mengurangi beban pikiranku.

"Pah, Jesslyn pergi ke toko buku bentar ya. Deket sini kok."

"Tapi pulangnya jangan malem-malem ya, Je." Aku mengangguk kemudian mencium punggung tangan Papa.

Sesampainya disana aku mencari beberapa buku yang sekiranya cocok untukku. Sebenarnya aku menyukai semua genre. Asalkan ceritanya bagus, genre apapun tidak akan jadi masalah. Tapi akhir-akhir ini aku sering membaca cerita romance. Aku sudah membeli empat buku dengan genre romance di bulan ini.

Aku menyipitkan mataku ketika seseorang yang sedang bersandar dirak. Untuk ketiga kalinya aku bertemu dengannya. Aku tersenyum tipis kemudian menghampirinya.

"Hai Ken, kita ketemu lagi." Aku mengembangkan senyumku. Namun dia hanya membalas dengan anggukan kepala tanpa ekspresi.

"Itu karya Michael Bergfahl kan ?" Aku melirik sekilas ke arah buku yang di pegangnya. "Aku suka banget sama karya Michael Bergfahl, bukunya menginspirasi banget." Lagi-lagi dia hanya menganggukkan kepala.

"Hei, kan tadi dihalte kan kamu bilang kita temenan. Aku udah ngomong panjang lebar tapi kamu malah diem aja."

Oh God. Apa yang baru saja kukatakan. Dia kan tidak bisa bicara. Kenapa kamu selalu membuat masalah Jesslyn.

"Em..maksudku kita kan bisa bicara lewat kertas. Seperti yang kamu bilang tadi." Aku segera memperbaiki ucapanku.

Dia menunjuk bangku di dekat cendela. Mengisyaratkan mengajak duduk disana. Senyumku mengembang. Segera aku mengikutinya dari belakang.

Kita duduk berhadapan tapi masih saling bungkam. Sampai akhirnya dia mengeluarkan note yang ditunjukan kepadaku dihalte tadi. Dia mulai menulisakan suatu disana.

Dia menyobek satu halaman pada note itu kemudian memberikannya kepadaku.

'Kesini mau cari buku apa ?'

"Sebenernya aku kesini iseng aja. Siapa tau ada yang cocok. Eh ternyata bener ada yang cocok." Ucapku sambil melihat ke arahnya.

'Jadi kamu udah nemu buku yang kamu cari ?' Aku menggeleng.

Dia menyerit binggung. Sepertinya dia tidak mengerti dengan 'cocok' yang ku maksud.

"Tadi pagi kita ketemu di perpustakaan. Sekarang kita ketemu di toko buku. Aku ramal pasti kamu suka baca buku." Ucapku sok tau.

Dia tertawa mendengar ucapanku. Tawa tanpa suara. Kemudian mengangguk mengiyakan perkataanku.

"Siapa penulis favorit kamu ?"

'Rhonda Byrne.'

Aku cukup mengetahui tentang Rhonda Byrne. Rhonda Byrne adalah penulis yang berasal dari Australia. Dia banyak menerbitkan buku-buku tentang motivasi. Aku pernah membaca salah satu buku yang berjudul "The Secret" yang menyajikan Rahasia Uang, Rahasia Relasi, Rahasia Kesehatan, Rahasia Dunia, Rahasia manusia, Rahasia Kehidupan.

'Aku paling menyukai karyanya yang berjudul The Magic.'

"Kenapa dari banyak buku kamu paling suka itu ?"

Dia tampak lama membalas perkataanku. Mungkin dia akan menulis kalimat panjang pada kertas itu.

'Karena di dalam buku itu mengajarkan kita untuk bersyukur dan percaya keajaiban itu ada. Hanya dalam wakth 28 hari akan banyak keajaiban yang datang. Jika keajaiban itu datang lagkah pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur.'

Entah kenapa setelah membaca kalimat dari Kennant aku merasa harus banyak bersyukur mulai sekarang. Meskipun dengan retaknya rumah tangga kedua orang tuaku.

"Udah malem Ken, pulang yuk." Kennant mengangguk.

Aku dan Kennant keluar dari toko buku sambil membawa beberapa buku yang kami beli tadi.

Tapi sepertinya kita harus lebih lama lagi ditempat ini. Karena hujan yang cukup deras.

"Yah hujan." Aku mendengus sebal.

Aku dan Kennant masih berdiri di depan toko.

'Gaboleh ngeluh.'

"Ya gimana, aku kan pengen cepet pulang. Malah hujan gini. Pasti Papa khawatir deh."

'Bersyukur Jesslyn. Hujan itu anugrah. Kamu belum pernah liat aja betapa sempurnanya hujan.'

Aku hanya bisa bungkam membaca tulisan ini. Bagaimana bisa dia berkata seindah itu.

Kennant menyodorkan payung biru yang tadi dibawanya.

"Kalo aku pakek ini terus kamu pulangnya gimana ?"

Tanpa membalas ucapanku Kennant berlari menerobos hujan dan memakaikan penutup hodie ke kepalanya.

Aku tersenyum. "Laki-laki yang manis."


Tbc







Untuk sekedar info. Kalo ada tulisan miring didalam satu tanda petik artinya Kennant berbicara lewat kertas

I Can Hear Your VoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang