09 : Romeo Juliet

4.8K 506 6
                                        

Jika ada orang yang menghinamu. Cukup tutup telingamu. Jangan dengarkan omongan orang lain. Karena apa yang mereka bicarakan hanyalah sampah.

Jeslyn Gracia.



Tiada hari tanpa membaca. Itulah Kennant. Hari-harinya hanya disibukkan diperpustakaan. Entah buku keberapa yang dia pegang sekarang. Mungkin, seluruh buku diperpustakaan ini telah dibacanya.

"Nggak capek apa baca buku terus ?" Pria itu mendengus sebal. Pasalnya dia sudah tiga jam menemani Kennant yang masih berkutik dengan buku-buku ditangannya.

Kennant hanya terkekeh mendengar ucapan sabahatnya. Ya, sahabat. Satu-satunya sahabat yang dimiliki Kennant, namanya Steven. Mereka saling mengenal sejak sekolah menengah pertama. Ketika orang-orang menjahui Kennant karena kekurangannya. Steven malah menjadi sahabat Kennant. Steven tidak pernah mempermasalahkan kekurangan Kennant. Menurut Steven, Kennant adalah sabahat yang paling baik. Terbukti dengan mereka yang masih bersahabat sampai sekarang.

"Cewek yang biasanya sama situ siapa sih ? Je...Je...Je siapa gitu."

"Jeslyn."

"Lah itu. Lagian punya pacar kok nggak bilang-bilang." Kennant menyeritkan keningnya. Pacaran dengan Jeslyn ? Sejak kapan. Aneh-aneh saja Steven ini.

"Kita cuma temenan." Sangkal Kennant.

"Tapi suka kan ?" Ucap Steven menggoda Kennant.

"Jangan ngomong sembarangan."

Steven terkekeh melihat ekspresi salah tingkah sabahatnya.

"Kita sahabatan udah bertahun-tahun. Nggak usah ngelak lagi."

Kennant diam tak membalas perkataan Steven. Kennant kembali berkutik pada buku yang dipegangnya tadi untuk menutupi kesalah tingakahannya. Sedangkan Steven kembali terkekeh melihat sikap sahabatnya itu.

Sebenarnya beberapa minggu ini Steven sering sekali melihat kedekatan Kennant dan Jeslyn. Bahkan Steven sempat mengira Jeslyn hanya memanfaatkan Kennant. Karena selama ini gadis yang mendekati Kennant tidak pernah bersungguh-sungguh.

Tapi pikiran buruk itu hilang ketika Kania menceritakan tentang Jeslyn. Jeslyn bukanlah gadis yang berteman dengan Kennant karena ada maunya. Tapi Jeslyn tulus berteman dengan Kennant.

"Nggak ada alasan untuk nggak suka sama Jeslyn. Jeslyn gadis yang baik. Dan sebentar lagi seorang Kennant akan jatuh cinta dengan Jeslyn." Ucap Steven kembali menggoda Kennant.

"Itu kan orangnya ?" Steven menunjuk seorang wanita yang baru masuk ke perpustakaan.

Mata Kennant mengikuti arah tangan Steven. Matanya bertemu dengan mata Jeslyn. Jeslyn tersenyum kearah Kennant. Yang membuat jantung Kennant berpacu sangat cepat.

Jeslyn berjalan kearah Kennant dan Steven. Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Aku Steven sahabatnya Kennant." Steven mengulurkan tangannya.

"Jeslyn." Jeslyn menerima uluran tangan Steven.

"Ken, cabut dulu ya. Kan yang ditunggu udah dateng." Ucapan Steven sukses mendapat tatapan tajam dari Kennant. Steven segera berlari meninggalkan mereka. Sebelum sahabatnya itu marah besar kepadanya.

Jeslyn mendudukan dirinya tepat dihadapan Kennant.

"Apa kabar ?"

Kennant menatap heran kearah Jeslyn. Karena kali ini kata itu terucap bukan dari mulut Jeslyn. Tapi melalui gerakan tangannya.

"Baik." Kennant membalas pertanyaan Jeslyn.

Kemudian keduanya tertawa.

"Terima kasih Kennant. Karena kamu aku belajar banyak hal." Kennant mengangguk.

"Nanti malam mau ikut aku ?"

"Kemana ?"

"Cukup jawab ya atau tidak."

Jeslyn berdecih, kenapa pakai rahasia-rahasian. Tapi beberapa detik kemudian Jeslyn mengangguk.

***

Kennant membawaku ketaman yang mereka kunjungi dulu. Tapi kali ini aku merasa pengunjung ditaman ini jauh lebih banyak dari hari biasanya.

Orang-orang berkumpul pada tempat-tempat tertentu. Aku tidak bisa melihat apa yang mereka kerubungi. Karena terlalu banyaknya orang.

Tiba-tiba Kennant menarik pergelangan tanganku. Kennant membawaku ke air mancur warna-warni. Tempat itu sudah dikerubungi banyak orang. Kennant membawaku menerobos orang-orang itu, agar kita bisa mendapatkan tempat lebih depan. Aku tau pasti orang-orang itu sangat kesal karena kita menerobos sembarangan.

"Tutup mata kamu."

"Ha ?"

"Tutup mata kamu. Dalam hitungan ke tiga buka mata kamu kembali."

Meskipun tidak mengerti apa maksudnya. Tapi aku menuruti perintahnya. Aku menutup kedua mataku. Aku berhitung dalam hati.

1....2.....3

Aku membuka mataku perlahan. Bersamaan dengan suara keras yang ku kenali.

"Waw..." Aku memandang takjub dengan yang kulihat sekarang. Kembang api yang begitu indah sedang menghiasi angkasa. Ditambah air mancur warna-warni dibawahnya. Aku tidak pernah melihat pemandangan sebagus ini.

"Kennant.." Aku menoleh kearahnya. Dia tersenyum menatapku. Tangan kirinya terulur mengusap rambutku. Sedangkan tangan kanannya mengiayaratkanku untuk melihat kembang api lagi.

Aku tidak tau lagi apa yang harus kukatakan. Yang jelas, aku sangat bahagia.

Setelah melihat pertunjukan kembang api. Kennant membawaku melihat pertunjukan drama. Kita duduk ditempat lumayan atas dan bertepatan ditengah. Tempat ini sangat stategis untuk kita. Dari sini kita bisa melihat dengan jelas pertunjukan drama tersebut.

Drama yang dipertontonkan adalah Romeo Juliet. Kisah yang digadang-gadang sebagai kisah romantis sepanjang masa.

"Romeo dan juliet itu romantis ya." Kennant menggeleng.

"Kennapa tidak ? Juliet rela mati demi Romeo."

"Itu namanya tidak menghargai kehidupan."

"Jadi bagaimana seharusnya ?"

"Kita tidak perlu mati hanya karena seseorang meninggalkan kita. Kita tidak tau bagaimana sedihnya ketika orang yang dicintai memilih mengakhiri hidupnya hanya demi dia. Bahkan belum tentu juga diakhirat dipertemukan."

"Ck, dasar tidak romantis." Aku menyenderkan kepalaku dibahu Kennannt."Terimakasih, aku nggak tau bagaimana kehidupanku kalo aku nggak ketemu kamu."

Kennant meraih tanganku dan menggenggamnya. Dengan posisi aku yang masih bersandar dibahunya.

Setelah keluar dari tempat pertunjukan drama. Banyak orang yang membicarakan aku dengan Kennant.

"Kok mau sih sama cowok kayak gitu."

"Ganteng sih ganteng tapi kalo bisu ya percuma."

"Cantik-cantik kok dapet cowok nggak bisa ngomong."

Kennant terlihat murung setelah mendengar celotehan-celotehan dari mereka.

Aku menutup kedua telinganya dengan telapak tanganku. "Kamu nggak perlu dengerin omongan orang lain. Semua yang mereka ucapin itu cuma sampah. Kamu sempurna dimataku." Kennant menurunkan tangaku kemudian menggenggamnya. Dia tersenyum kearahku. Kali ini senyumnya lebih manis dari biasanya. Senyum itu lagi-lagi membuat jantung Jeslyn berpacu lebih cepat.





Tbc

I Can Hear Your VoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang