10 : Calon Menantu.

4.7K 484 9
                                        

Bahagia itu sederhana. Cukup membuat orang yang kau sayangi tertawa karenamu.

Kennant Jevon Rahardian.

Jeslyn POV.

Setelah Kennant mengantarku pulang kerumah, aku tidak berhenti tersenyum. Senyum ini masih setia menghiasi wajahku. Aku tidak peduli orang akan menganggapku gila karena senyum-senyum sendiri.

"Assalamuaikum." Ucapku sambil membuka knop pintu.

"Waalaikumsalam." Jawab Papa dan Kak Jason bersamaan. Kini mereka sedang menikmati acara televisi diruang tamu.

Bicara soal Papa. Setelah mengetahui Kak Jason pulang ke Indonesia. Papa yang harusnya pulang minggu depan terpaksa membatalkan pekerjaannya dan pulang menemui anak sulungnya.

Aku mendorong mereka kearah yang berlawanan. Mencari celah agar bisa duduk diantara mereka.

"Aduh yang habis kencan kayaknya seneng banget nih." Goda Kak Jason.

"Kencan apaan sih orang cuma temen." Aku melepaskan tangan Kak Jason yang mencubiti pipiku.

"Kapan-kapan diajak mampir. Papa pengen ngobrol sama cowok yang udah bikin anak Papa senyum-senyum terus."

"Dia nggak bisa bicara, Pah." Ucapku pelan tapi terdengar oleh Papa dan Kak Jason.

"Papa nggak akan ngelarang aku temenan sama Kennant kan karena dia bisu ?" Jujur aku khawatir jika Papa tidak bisa menerima kekurangan Kennant. Meskipun aku tau Papa bukan orang yang seperti itu, aku tetap saja khawatir.

"Oh jadi namanya Kennant. Je, Papa nggak akan ngelarang kamu berteman sama siapapun. Mau dia bisu atau punya kekurangan lain. Itu bukan alasan untuk menjahui dia."

"Yang penting dia bisa bawa pengaruh positif buat kamu." Tambah Kak Jason.

"Kalo jadi pacar ?" Tanyaku asal.

Papa dan Kak Jason tampak terkejut dengan pertanyaan ku. Namun beberapa detik kemudian mereka malah tertawa. Aku berfikir, apa ada yang lucu dengan pertanyaanku.

"Jeslyn." Papa mengusap rambutku. "Papa nggak bisa menentukan siapa laki-laki yang pantas buat kamu. Yang bisa menentukan itu cuma kamu sendiri. Papa nggak mau ngebatasi kamu dekat dengan siapapun. Kamu sudah besar, Papa yakin kamu bisa menetukan mana yang terbaik buat kamu. Papa nggak mau maksa kamu soal hubungan. Karena papa nggak mau nasib kamu seperti Papa sama Mama. Ini juga berlaku untuk kamu Jason."

Aku dan Kak Jason saling pandang. Seolah mengerti keadaan ini.

Bukankah Papaku ini sangat baik ? Bahkan dia tidak membatasi anak-anaknya dalam menentukan pilihan. Tapi kenapa Mama bisa meninggalkan laki-laki sebaik Papa.

Mengingat itu membuat darahku mendidih. Mengingat penderitaan Papa selama ini membuatku susah untuk memaafkan Mama.

Ting tong

"Biar Jeslyn aja yang buka." Aku bangkit dari dudukku kemudian berlari kearah pintu.

Aku memutar knop pintu dan terkejut dengan siapa yang datang. Pangeranku datang.

"Kennant kok balik lagi, ada apa ?" Tanyaku heran.

Kennant memberikan sling bag warna Royal Blue. Ya Tuhan, itu kan milikku. Kenapa bisa tertinggal dimobil Kennant. Dan yang lebih parah aku tidak sadar kalau sling bag ku tertinggal.

"Siapa yang dateng Je ?" Tanya Papa di belakangku. Kemudian Papa menghampiri aku dan Kennant.

"Ini Pa, Sling bag Jeslyn ketinggalan dimobilnya Kennant."

"Oh calon menantu. Ayo masuk dulu." Tawar Papa.

Mataku membulat sempurna mendengar ucapan Papa. Untung saja Kennant tidak terlalu menanggapi ucapan Papa.

Kennant terlihat ingin menolak tawaran Papa. Tapi Papa bersikukuh memaksa Kennant mampir. Akhirnya Kennantpun mau.

Ketika aku membuatkan minum untuk Kennant. Papa dan Kennant sedang asik bicara diruang tamu. Mereka terlihat memiliki pembicaraan yang menarik. Ditambah Papa yang menguasai bahasa isyarat. Karena beberapa rekan bisnisnya ada yang tunarungu dan tunawicara.

"Diminum Ken." Aku meletakkan segelah teh dimeja. Kemudian mendudukkan diriku disamping Papa.

"Kamu ngobrol sama Kennant ya. Papa keatas dulu." Jeslyn mengangguk.

"Ken, lama-lamain ya disini. Katanya Jeslyn masih kangen tadi." Ucap Papa sebelum kabur meninggalkan aku dan Kennant.

Aku menganga tak percaya. Bisa-bisanya Papa berucap seperti itu didepan Kennant. Aku yakin mukaku pasti merah karena menahan malu. Oh God. Mau ditaruh dimana mukaku ini.

Aku menatap Kennant sekilas yang sedang menahan tawanya. Ih, apanya yang lucu dari mempermalukan orang lain.

"Nggak usah ketawa deh." Aku mencebik kesal.

"Emang seharian sama aku nggak cukup ? Sampe masih kangen." Kennant terkikik geli.

Aku diam tak menanggapi ucapan Kennant. Bisa-bisanya dia menggodaku seperti itu.

Kennant bangkit dari duduknya dan duduk disampingku. Aku menggeser tubuhku memberikan jarak diantara kami. Sebenarnya bukan masalah jaraknya. Tapi masalah jantungku yang tidak bisa diajak kompromi jika dekat-dekat dengan Kennant.

"Jadi kangen nggak nih ?" Kennant kembali menggodaku.

"Apaan sih." Aku mengalihkan pandanganku. Menutupi rasa maluku.

"Kalo nggak jadi kangen, aku pulang."

"KENANNTTT."

Kennant malah tertawa. Puas sekali dia. Sedangkan aku masih mencebik kesal dengan ulanya.

***

Author POV.

Ditempat lain Jason mencoba menghubungi gadisnya. Wanita yang menjadi sumber kebahagiaan Jason. Tapi sayang, Jason pernah menyakiti gadisnya.

Jason memang bodoh. Dia meninggalkan gadisnya tanpa hubungan yang jelas. Kini karena keogoisannya dia kehilangan gadis itu.

Jason tidak bisa lagi berpura-pura tidak apa-apa. Karena memang hatinya kenapa-kenapa. Luka yang muncul karena ulahnya sendiri.

"Siapa?"

"Maaf, tapi aku kangen kamu lice."

Tbc

I Can Hear Your VoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang