Nineteen (Ending)

8.7K 513 50
                                        

Itachi mempersilahkannya masuk, rumah besar milik keluarga Uchiha begitu menganggumkan. Akan tetapi tujuannya datang jauh-jauh kesini bukanlah untuk menganggumi keindahan rumah itu, melainkan bertemu dengan orang yang dulu pernah menjalin hubungan baik dengannya.

"Kau ingin minum terlebih dahulu?" Itachi memberikan pelayan yang baik sebagai tuan rumah. Hanya saja Naruto merasa bila dia tidak bisa berlama-lama. Dia harus kembali ke jepang dengan segera, karena dia meninggalkan anaknya disana.

"Tidak, aku ingin langsung bertemu dengannya."

Itachi mengangguk setuju dan langsung menuntun Naruto menuju sebuah kamar yang pintunya masih tertutup. Naruto berdiri di depan pintu itu dengan rasa gugup, tangannya mengepal dan membuka.

Itachi sudah menceritakan perihal Sasuke yang mencoba bunuh diri padanya, bukanlah percobaan yang pertama dan Sasuke pun sudah terlalu sering sekarat. Hanya saja kata Itachi ini yang keadaanya paling mengkhawatirkan.

Pintu terbuka saat Itachi memutar knop dan mendorong daun pintu dengan sebelah tangan. Iris biru Naruto langsung dapat melihat keadaan kamar yang luas tapi begitu sepi dan hening. Hanya suara detak mesin yang terdengar lemah.

"Masuklah!" Itachi mempersilahkannya, Naruto berjalan selangkah demi langkah mendekati sebuah ranjang yang diatasnya terdapat Sasuke, tidur dengan masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya. Naruto terus berjalan agar lebih dekat, hingga dapat dilihatnya, seberapa menyedihkannya keadaan bungsu Uchiha saat ini, tidak ada dari bagian tubuhnya yang tidak dililiti perban. Naruto langsung jatuh berlutut,  hilang kata-kata. Ingatannya memutar kembali pertemuannya dengan Sasuke setelah bertahun-tahun tidak lagi bertemu dan berkomunikasi. Dimana dia selalu berusaha membuat Sasuke pergi atau pun untuk tidak lagi menemuinya, mengatakan agar Sasuke tidak lagi menampakkan diri didepannya.

Apakah dia kejam? awalnya Saat mendengar cerita Itachi saat di pesawat, dia tidak terlalu peduli, juga tidak merasakan emosi apapun, tapi kenapa sekarang dia merasa seperti seorang penjahat. Mengapa ia berpikir jika dia sama brengseknya dengan Sasuke yang dulu yang setiap hari dia maki, bukankah sekarang dia terlihat sama.

Dia bahkan jauh lebih kejam dan brengsek dari Sasuke.

"Sasuke sudah mengatakannya kepadaku, alasan mengapa dia membulimu dulu dan juga menghajar  Sabaku Gaara. Mendengar alasannya itu aku pun tak habis pikir, dan bertanya-tanya mengapa adikku begitu bodoh. Mengapa dia menjadi seorang laki-laki yang pengecut."

Naruto tidak mengubris Itachi yang bercerita dengan tubuh gemetar disisi lain tempat tidur.

"Semua itu terjadi hanya karena dia mencintai orang yang menurutnya tidak tepat. Dia ingin membuang cinta yang dia miliki tapi dia terjebak dalam kecemburuan. Dia berpikir jika dia membenci orang itu, sangat membencinya. Namun  kenyataan mengatakan jika bencinya adalah bohong. Lalu seseorang datang padanya, dan menyulut kebenciannya hingga menjadi kenyataan. Saat itulah adikku berpikir jika dia memanglah iblis. Kepalanya dipenuhi oleh rasa benci karena cinta. Setelah bertahun-tahun aku berpikir jika dia sudah mulai berubah. Aku menyarankannnya untuk mulai mencari hal lain seperti seorang calon adik ipar untukku dan dia menolak, dia mengatakan jika cintanya saat itu sedang hilang dan dia akan mencarinya sampai dapat terlebih dahulu, meski hal itu akan memakan waktu lama. Setelahnya dia pergi,"

Naruto mengangkat kepalanya saat tidak lagi mendengar Itachi bercerita.

Menatap Itachi yang juga menatapnya tepat dimata. Naruto bisa melihat kesedihan di mata si Sulung Uchiba. Air matanya jatuh setelah berkedip beberapa kali.

"Suatu malam dia menelponku. Mengatakan jika dia sudah menemukan cintanya yang hilang. Dia memintaku untuk berbohong jika ada yang menanyakan perihal tentangnya, karena dia tidak akan kembali saat itu. Dia terdengar sangat bahagia. Setelah berminggu-minggu, aku mendengar kabar darinya, dia bilang semuanya sudah berakhir dan dia akan segera pulang."

Itachi menatap Naruto tepat dimata.

"Dia kembali kerumah untuk beberapa hari sebelum akhirnya dia pamit untuk pergi. Dia hanya mengatakan jika sudah waktunya dia berubah. Dan menerima saran dariku. Tentu saja aku senang mendengar—"

Itachi berhenti bicara saat mendengar Naruto memanggil nama Sasuke begitu kencang.

Sasuke membuka matanya?

"Na...Na..ru..to.."

Itachi bergerak cepat, mengambil telphone genggamnya lalu menghubungi seseorang.

Sedang Naruto tetap berada diposisinya menggenggam tangan bungsu Uchiha.

"Sasuke maafkan aku.." lirih Naruto. Iris birunya bertemu pandang dengan onix hitam Sasuke yang mulai tertutup lagi setelah bibirnya mengulas senyum lemah.

Lalu suara detik pada mesin diruangan itu berubah mendengung. Naruto juga Itachi terkejut bukan main. Keduanya memanggil nama Sasuke bersama-sama. Namun tidak lagi ada reaksi yang berarti dari sipemilik nama.
.
.
.
.
.
.

Itachi tersenyum pahit memandang ke sebuah nama yang tertulis rapi dengan rangkaian bunga mengelilingi nama itu.

Bibirnya bergerak lemah. "Jadi selama ini kau hanya menunggu untuk kedatangannya?"

"...Sasuke?" raut kesedihan menghiasi wajah tampannya.
.
.
.
.
Naruto mengeluarkan sebuah handycam kecil dari saku jaketnya. Itachi mengatakan jika handycam itu milik Sasuke.

Sebuah rekaman diputar dan memperlihatkan sosok Sasuke yang masih terlihat sehat. Sepertinya rekaman itu diambil sudah sejak lama.

Sasuke duduk diatas sebuah kursi kayu ditengah ruangan. Dia hanya diam sembari menatap pada kamera.

Selang beberapa menit rekaman itu berjalan Sasuke menyebut namanya.

"Naruto, jika aku tahu mencintaimu akan menjadi sesakit ini. Mungkin aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu." dimata Naruto, Sasuke terlihat seperti akan menangis, " hanya saja untuk menyesal sekarang tidak terbesit dalam pikiranmu. Kau boleh saja membenciku, kau boleh saja tidak menginginkan kehadiranku."

"...tapi ketahuilah, perasaanku ini bukanlah bentuk penyesalan karena telah memyakitimu. Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan 'Aku mencintaimu'"

"...Naruto, lihatlah aku untuk yang terakhir kalinya. Aku begitu merindukan lembutnya tatapan matamu."

'Hanya tetesan air mata, yang menjadi pengantar kepergianmu' Naruto menangis tanpa suara, sama sekali tak mempedulikan orang-orang yang menatap heran kearahnya. 
.
.
.
.

(Natchan Chanie)

Chap terakhirnya.. Emang sih maksa tp ini emang udah direncanain.. Pasti udah ketebak kan.. 😂😂😂 oke.. Aku ucapkan terimakasih banyak buat udah ninggalin jejak di fic ini.. Terimalasih juga buat vomentnya.. Dan maaf, jika typo berserakan juga alur yg cepat. Sampai jumpa dic fic sn lainnya..

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 09, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love Is You ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang