Nana

2.3K 313 31
                                        

Membalaskan sakit hati tidak cukup kepada pemberi rasa itu. Melihat orang-orang yang disayanginya ikut menderita, selalu jauh lebih menyenangkan.

.

Hoshi terkesiap. Mimpi buruk yang sama, tentang mayat-mayat dalam tabung kaca berisi cairan formalin, kembali mengusik ketenangan tidurnya. Pemuda sipit itu pun terjaga dan spontan terduduk dari posisi berbaring.

Merasakan pergerakan pada orang di sebelahnya, karena mereka tertidur di kasur berbahan busa dan per yang ikut bergerak jika ada yang bergerak, membuat Jihoon ikut terbangun. Pemuda mungil itu langsung menahan tubuh jangkung Hoshi yang hendak beranjak dengan pelukan erat pada pinggangnya.

"Kajima, jebal!" Jihoon membisik. Menahan sang pelayan untuk pergi. Tak peduli pada selimut yang tidak lagi membalut tubuh polosnya. Atau pada bulu halus yang meremang akibat embusan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan.

Juga pada detak jantungnya sendiri yang terasa seperti memburu di dalam dada lantaran teringat kembali apa yang telah mereka lakukan beberapa saat lalu---membayangkan ketika dirinya bergelinjang hebat sambil meracau dan mendesahkan sebuah nama di bawah entakan keperkasaan sang pelayan.

"Maaf, Tuan. Saya harus pergi. Jika mereka menemukan saya di sini, bersama Anda, maka kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi." Jawaban Hoshi mengundang kerutan dramatis pada kening Jihoon. "Saya telah melanggar janji. Mereka pasti tidak akan memaafkan saya," jawab Hoshi, segera, setelah melihat kerutan di kening Jihoon.

Hening menjeda sejenak. Jihoon masih betah memeluk Hoshi yang terduduk di bibir ranjang. Tidak paham dengan apa pun yang dikatakan sang pelayan saat ini.

"Aku tidak mengerti... sebenarnya ada apa?" Jihoon masih memeluk Hoshi dari belakang ketika bertanya sehingga dia bisa merasakan detak jantung pemuda sipit itu. Juga kebimbangan yang terembus dari helaan napasnya. "Sampai kapan kau mau menyembunyikan semua ini dariku? Sampai kapan aku harus menjadi orang bodoh sendiri? Sampai kapan aku--"

"Diamlah! Tetap seperti itu. Tidak tahu apa-apa lebih baik bagi Anda, Tuan. Karena, jika Anda sampai tahu sedikit saja, semua akan jadi sia-sia." Hoshi memejamkan mata.

Merutuk dalam hati apa yang barusan dilakukannya; membentak Jihoon, lantaran terjebak frustrasi dan emosi.

Jihoon seketika bungkam.

Namun, bukannya menyerah untuk mencari tahu, dia justru bergerak seduktif dengan menyumpal mulut Hoshi dengan sebuah ciuman. Sengaja mengambil posisi duduk di atas milik sang pelayan untuk memancingnya kembali brutal seperti semalam. Di sisi lain Hoshi seperti berusaha menyampaikan kekata maaf melalui kuluman dan isapan dalam ciuman panas mereka. Perasaan kesal Jihoon selama ini ditumpahkan melalui bulir-bulir kristal yang berguguran dari ujung-ujung matanya.

Akan tetapi, meski Hoshi sebenarnya menikmati ritme yang diciptakan tuannya, dia tetap mendorong pelan tubuh polos tersebut. Menutupinya selimut dengan hati-hati dan tetap beranjak.

Hoshi mengabaikan seruan disertai rutuk dan rintik tangis Jihoon di belakang sana.

Your Servant

"Apa kau baik-baik saja?"

Jihoon menoleh tanpa minat pada Minghao yang barusan bertanya. Menggeleng seadanya lalu kembali melempar pandangan jauh keluar jendela kaca yang membentang di sisi kirinya sambil bertopang dagu.

Saat ini sedang jam istirahat. Para siswa kelas unggulan biasanya menghabiskan waktu dengan makan di kantin bersama pelayan mereka. Termasuk Minghao.

Pemuda berdarah Tiongkok itu baru saja mengucap terima kasih ketika pelayannya, Junhui, menyodorkan satu nampan berisi semangkuk bubur oat hangat dengan garnish potongan buah-buahan segar seperti strawberry serta kiwi dan sebotol susu.

Usai melakukan basa-basi secukupnya, Junhui pamit undur diri dan bergabung dengan barisan pelayan lain di sudut kantin demi memberikan privasi bagi tuannya. Karena para tuan muda mereka biasanya menghabiskan makanan sambil bercerita tentang banyak hal yang sama sekali bukan urusan bagi para selayan. Sehingga mereka diminta untuk bersiaga saja jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

"Ada apa? Kau belum menyentuh makananmu sama sekali. Padahal mereka terlihat lucu!" Minghao menatap takjub sepotong Red Velvet dengan hiasan ceri merah di bagian puncak teronggok begitu saja. Masih utuh, nyaris tak tersentuh, kalau saja garpunya masih berbaring di sisi piring dan bukannya tertelungkup di dekat kue tersebut. "Jangan bilang kau tidak suka dan pelayanmu tidak tahu itu, tapi tetap menyiapkan untukmu." Minghao masih penasaran. Itulah mengapa dia terus mencecar Jihoon dengan pertanyaan beruntun yang tidak satu pun dijawab.

Jihoon mendesah pelan. Dia teringat sebaris kalimat yang diucapkan Hoshi pagi tadi. Membuang kesal melalui karbon dioksida yang diembuskannya. Kemudian bergerak perlahan meraih garpu untuk mencincang kue di depannya tanpa ampun.

Hal itu tentu saja membuat Minghao terkejut. "Ya! Apa yang kau lakukan?" Spontan berseru hingga mengundang perhatian. "Kenapa kau terlihat begitu kesal?" Minghao kini berbisik setelah menunduk sopan karena mengganggu ketenangan. Dia merebut paksa garpu di tangan Jihoon karena merasa tidak aman---takut kalau sasaran selanjutnya dari garpu itu adalah dirinya sendiri.

"Molla yo...." Jihoon mendesis. Bibirnya terlihat bergetar perlahan. "Aku benar-benar tidak tahu, Hao-ssi. Aku mencintai dia, tapi tidak tahu apa pun tentang dirinya. Rasanya sakit sekali di sini...." Jihoon menepuk kasar dadanya sendiri. Berusaha mengusir sakit yang terasa berdenyut di dalam sana.

Tubuh mungil Jihoon langsung didekap Minghao.

Sebenarnya pemuda bermarga Xu itu tidak paham. Akan tetapi, begitu melihat lelehan air mata Jihoon, sesuatu atau seseorang dalam dirinya seperti memberi perintah agar dia melakukan itu. Dia tampak telaten menenangkan Jihoon yang tahu-tahu sudah terisak dalam pelukannya.

Hoshi memerhatikan dari kejauhan. Kepalan tangannya tergenggam erat menahan sesuatu yang bergejolak dalam dada. Pemuda sipit itu merutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa pun untuk menenangkan tuannya. Padahal, seharusnya, dialah yang berada di posisi Minghao saat ini---menjadi sosok yang bisa diandalkan dan menjadi satu-satunya tempat seorang Lee Jihoon bergantung dalam kondisi apa pun.

Saat Jihoon sibuk mencurahkan isi kepalanya tentang apa yang membuatnya sesedih itu pada Minghao dan Hoshi menahan sesuatu yang buncah dalam dadanya, Seungcheol mulai menyusun rencana dalam kepala. Rencana mahasempurna yang dianggapnya bisa jadi ajang pembalasan dendam atas hukuman cambuk yang diterimanya tempo hari di asrama para pelayan. Seungcheol mengulum senyum ketika membayangkan hasil dari rencana tersebut. Berhasil dengan lancar adalah satu-satunya hasil yang kelak bakal dicapainya.

Membayangkan bagaimana wajah menyedihkan Hoshi jika rencananya benar-benar dijalankan, sudah membuat pelayan dari keluarga Yoon itu tak henti menahan gejolak bahagia dalam dada. Lihat saja bagaimana lesung pipitnya terbentuk ketika dia melemparkan seulas senyum saat pandangannya tak sengaja berada pada satu garis lurus dengan Hoshi yang justru mengabaikannya.

Your Servant
























































(dz_29718)

Your ServantTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang