Shi

2.4K 407 33
                                        

Jihoon membekap mulutnya sendiri. Berusaha keras menahan suara sekecil apa pun lolos. Demi keselamatannya, juga Hoshi.

Saat ini pemuda mungil itu sedang bersembunyi di salah satu pohon rimbun yang banyak berjejer di luar gedung asrama pelayan. Meski bersembunyi, ekor matanya tetap awas mengikuti siluet tiga orang tadi yang terlihat jelas dari jendela-jendela kaca yang banyak berjejer di dinding.

Pemuda mungil itu berhasil menyusup diam-diam ke lingkungan asrama pelayan dan tak sengaja melihat semua yang terjadi. Termasuk mendengar obrolan antara Hoshi dan Seungcheol sebelum mereka terlibat perkelahian di ruang makan.

Setelah merasa cukup aman, Jihoon kembali membawa langkahnya menyusuri semak-semak demi bisa menemukan kembali ketiga pria tadi.

Your Servant

Suara tapak sepatu bertemu lantai marmer terdengar nyaring di koridor yang lengang. Milik tiga orang pria hampir sama tinggi yang berjalan membentuk segitiga sama sisi---di mana Tuan Jeon berjalan paling depan sebagai tumpuan dan dua pelayan yang terlibat perkelahian mengekor di belakangnya.

Tuan Jeon menahan langkah. Merogoh saku celana dan mengeluarkan anak-anak kunci lantas berkata, "Aku rasa kalian sudah tahu apa yang akan kalian dapatkan sebagai balasan atas perbuatan kalian tadi." Kemudian berusaha membuka sebuah pintu jati ukir di sisi kanannya. Tanpa menoleh pada dua orang pelayan yang tadi mengekor. "Saranku, sebaiknya, berpikirlah baik-baik sebelum benar-benar berkata atau bertindak. Penyesalan tidak akan pernah datang di depan."

Usai berkata demikian, pintu jati ukir pun terkuak sebelah. Tuan Jeon menggeser tubuh untuk memberi akses masuk bagi dua pelayan tersebut. Hoshi langsung melenggang masuk tanpa kata-kata. Kontras dengan Seungcheol yang terlihat semakin pucat dan seperti enggan untuk masuk.

Hoshi sudah hilang ditelan pintu jati ukir tadi ketika Seungcheol menghampiri Tuan Jeon dengan wajah pias. Berkata lirih setengah berbisik sambil memainkan jemarinya di bawah sana, "Aku... bisa memberikan apa pun yang kau pinta." Melirik sekitar beberapa jenak. Lalu kembali fokus pada Tuan Jeon. Masih dengan suara lirih yang sama melanjutkan, "Apa pun tapi--"

"Masuklah." Tuan Jeon memotong dengan tegas. Mengabaikan decak sebal Seungcheol juga tawaran dari pelayan keluarga Yoon tersebut. "Tuan Kim sudah menunggu di dalam." Seulas senyum terbit samar di wajah baby face Tuan Jeon. Di mana sepasang gigi kelincinya akan ikut mengintip dari celah-celah bibir yang membuka.

Menggemaskan. Tetapi mengerikan bagi Seungcehol.

Jakun pemuda berbulu mata lentik itu tampak bergerak-gerak teratur. Tubuhnya bergetar pelan. Bayangan enam bulan lalu, ketika dia terpaksa masuk ke ruang ini karena ketahuan menggerayangi tuannya, berkelebat dalam kepalanya yang bersurai abu-abu. Menyisakan jejak kenangan buruk berupa rasa sakit campur perih yang tidak akan pernah bisa dilupakannya.

Dia tahu benar siapa Tuan Kim yang dimaksud; Kim Taehyung, pria gila tukang pecut di dalam sana tidak pernah sungkan menjalankan tugasnya.

Pintu jati ukir berdebam pelan tak lama setelah Seungcheol, akhirnya, masuk juga. Suara pecutan cambut menghantam kulit disusul erangan tertahan terdengar memekak telinga, seolah baku susul dengan derap langkah Tuan Jeon yang juga berlalu, kembali ke ruangannya.

Your Servant

Matahari sudah tumbang dan semburat jingga khas senja membungkus langit Seoul di luar sana ketika Jihoon keluar dari kelas. Hoshi menyambut di depan pintu kelas dengan senyum khas yang langsung menciptakan gemuruh halus dalam dada pemuda mungil di depannya.

"Bagaimana harimu, Tuan Muda?" Hoshi mengulurkan tangannya, bermaksud membawakan ransel Jihoon. Hening sempat menjeda sejenak sebelum pemuda mungil itu mengangsurkan ranselnya.

Jihoon menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Seperti biasa. Tidak ada yang berubah."

Kemudian melanjutkan langkah di depan Hoshi, kembali ke asrama. Seulas senyum diterbitkan Hoshi. Samar saja. Tetapi cukup menambah sekian persen ketampanannya.

"Malam ini Tuan Muda ingin makan apa?" Hoshi berusaha menyamakan langkah di belakang Jihoon.

Meski dalam kepalanya ada banyak sekali pertanyaan yang berjubel mengenai perubahan signifikan pada sikap Jihoon padanya, tapi berusaha ditahan. Atau lebih tepatnya enggan dipikirkan lagi. Sebab dia tahu tuannya ini tidak suka diinterogasi. Lagipula, dia cukup sadar diri akan posisinya.

Jihoon mau menerima bantuan yang ditawarkan dan menjawab pertanyaan yang diajukannya saja sudah cukup. Ya, sudah cukup bagi Hoshi.

Setidaknya untuk saat ini.

Ketika Hoshi sibuk menahan diri dengan segala pertanyaan dalam kepala, Jihoon sendiri sibuk menahan gejolak tak nyaman yang berusaha menjebol pertahanan di pelupuk matanya. Gejolak itu semakin hebat saja ketika bayangan wajah Hoshi yang mendapat hukuman cambuk, pagi tadi, berkelebatan dalam kepalanya bak pemutaran film dokumenter.

Your Servant





























(dz_23518)

Your ServantTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang