bab 2

157 17 0
                                        

Saat itu aku hidup dalam dunia kecil yang menyenangkan. Semua hal terasa sederhana, semua pertikaian bisa diselesaikan dengan mudah dan tidak ada kejahatan di duniaku. Satu-satunya kejahatan di desaku hanyalah lupa mengembalikan pinjaman barang tetangga dan itu pun masalah sepele yang tak akan dibawa ke arah perkelahian.

Lalu ada gereja tempatku tinggal,tempat paling aman dan tenang untukku. Satu-satunya masalah digereja hanyalah tikus-tikus nakal yang suka mencuri roti. Biasanya para suster ingin menyingkirkan tikus, namun bapa akan berdiri didekat pintu sambil menceramahi  mereka tentang menyayangi makhluk hidup.

Kemudian ada tempat rahasia kesukaan ku. Dibawah pohon yang ku tak tahu namanya, diantara akar-akar besar yang mencuat dari atas tanah dan hembusan angin yang membawa ketenangan dan kedamaian disitulah biasanya aku duduk menghabiskan sore sebelum maghrib.letaknya dekat dengan sungai yang jernih, biasanya banyak anak kecil yang mandi disana. Tempat kesukaan ku untuk melukis dan membaca buku pemberian bapa.

Aku ingin sekali duduk dan membaca buku disana namun saat itu aku sedang sakit karena kejadian didalam hutan. Walau aku tidak terlalu ingat dan mengenal bagian itu, aku tetap akan menceritakannya pada kalian.

Saat itu antara sadar dan tidak sadar, antara dingin dan panas dan antara gelap dan terang aku masih melihat bapa yang merawatku dengan sabar. Biasanya setelah menyuapiku bubur dan obat bapa akan berdoa disampingku, memohon kepada tuhan untuk kesembuhanku.

Namun bapa adalah pendeta utama desa kami, ia harus melaksanakan kewajibannya untuk memberikan pencerahan pada anak tuhan yang tersesat. Saat malam, walau beberapa jam bapa akan pergi dari kamarku sambil tersenyum dan berkata bahwa ia hanya akan pergi sebentar saja. Kata-kata bapa saat itu, mampu membuat jiwaku yang bergejolak menjadi tenang.

Setelah bapa pergi, bagaimanapun aku berusaha untuk tidur mataku tetap ingin terbuka mencari sinar dan penjelasan atas sakit yang ku alami. Tanpa bapa rasanya ruangan tempatku tidur sangat sunyi dan berbahaya sama seperti dihutan. Kadang walau hanya sebentar, aku bisa melihat makhluk itu memandangiku sambil mencakar tembok disekelilingnya. Ia menyeringai dan melotot hingga kukira mata merahnya adalah gerbang neraka bagiku.

Aku biasanya membaca doa yang kutahu dan ajaib, makhluk itu pergi. Namun tidak berapa lama ia akan kembali disudut ruangan menatapku dengan mata merahnya. Aku tidak bisa teriak dan tidak bisa bicara kepada siapapun, bapa akan berbisik padaku bahwa aku akan baik-baik saja. Bapa juga memanggil dokter dari kota untuk merawatku dan memberikan obat-obatan untuk kesembuhanku.

Saat itu, perasaan kagum dan sayangku kepada bapa semakin bertambah. Bapa yang biasanya sangat tenang menghadapi masalah  mengkhawatirkan ku seakan aku adalah putri yang paling berharga didunia. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan bapa?  Pertanyaan itu terus berputar di pikiran dan hatiku.

Aku sakit selama dua minggu, dokter bilang aku terkena tifus dan berhasil melewati masa krisis. Aku bersyukur kepada tuhan dan kepada bapa yang merawatku dengan sepenuh hati. Bapa juga menepati janjinya untuk membelikan ku donat dengan coklat putih yang banyak, khusus bapa pesankan dari toko roti terkenal di kota.

Setelah aku pulih sepenuhnya, saat itu aku pergi ke pinggir sungai dan memetik bunga-bunga yang kurangkai seindah mungkin. Aku membuat dua buket bunga, satu untuk bapa dan satunya lagi untuk suster yang menghukumku. Suster itu mengatakan kepada ku untuk cepat pulang namun aku tidak menggubris dan malah tersesat karena kesalahan ku sendiri. Ia pasti dimarahi oleh bapa padahal ini adalah hasil keegoisan ku sendiri.

Aku memberikan satu buket kepada bapa, ia tersenyum dan membelai rambutku "anak yang baik" ucapnya. Aku tersenyum pada bapa dan bertanya keberadaan suster itu. Bapa terdiam dan memegang bahuku. "Biar bapa yang berikan, mana? " ucap bapa. Baru kali ini aku melihat bapa diam dan bicara dengan nada serius padaku.

Aku memberikan buket bunga itu pada bapa sambil berusaha untuk tersenyum sealami mungkin. Bapa menerima buket bunga sambil tersenyum dan mengelus rambutku. Ia bangkit dan pergi berjalan menjauh dariku menuju ruangannya.

Aku memegang rambut yang dibelai bapa tadi. Rasanya sangat beda, terasa dingin dan aneh. Seperti bukan bapa yang berada dihadapanku tadi tapi orang asing yang berbahaya. Saat itu aku tidak tahu bahwa pilihan yang kubuat salah dan membawaku ke jurang neraka yang sebenarnya.

BAPHOMET : "devil inside me" (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang