bab 7

100 13 0
                                        

Entah apa yang terjadi, aku terbangun di kasurku dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku. Seketika itu tanganku memegangi kepalaku yang terasa sakit, sakit sekali hingga rasanya ingin ku hantamkan kepala ini saat itu.

Kemudian aku merasakan sensansi aneh di lengan kananku. Dengan wajah penuh ketakutan di bawah sinar temaram rembulan aku melihat darah yang mengalir dari luka yang cukup besar di tanganku. Tampak seperti luka cakaran.

Dengan wajah panik aku mendengar suara langkah kaki yang semakin cepat mendekati kamarku. Aku berusaha sembunyi di balik selimut, berharap apapun itu ia akan berlalu melewati pintu kamarku. Jantungku berdegup kencang, apakah ini hanya mimpi buruk lainnya? 

Lalu, selimutku ditarik. Bapa ada disana dengan wajah khawatir, tangannya memegang lentera yang menerangi seluruh kamarku. Aku langsung memeluk bapa dan menangis sejadi-jadinya. Aku akan menunjukkan lenganku yang berdarah ke bapa namun saat aku melihatnya tak ada lagi darah yang mengalir. Bahkan tidak ada bekas luka cakaran disana.

Bapa mengelus rambutku dan mengatakan bahwa semuanya hanya mimpi buruk dan aku akan baik-baik saja. Gadis kecil bapa akan baik-baik saja.

Tentu saja aku percaya pada ucapan bapa bahwa aku akan baik-baik saja karena bapa menemaniku malam itu. Bapa membaca buku di kursi dekat meja belajarku dan berjanji tidak akan pergi sampai esok hari. Malam itu saat bapa menemaniku dengan lentera yang ia bawa aku tidur dengan nyenyak.

***

"Maria".. Panggil michael dengan suara yang agak keras. Ia menatapku seolah olah pikiranku sempat melenggang pergi dari otak di dalam kepalaku. "Apa? " tanyaku, kami sedang duduk  di bawah pohon dekat sungai. Michael menatapku kemudian matanya menyorot riak air yang biru.

"Maria, terkadang ilusi akan terasa sangat nyata jika kita percaya dengannya. " ucap michael, tangannya yang kasar memainkan bunga liar yang tumbuh di bawah pohon. Aku hanya menatapnya bingung, apa itu sebuah kutipan buku?  Atau peringatan untukku?

"Karena itu, jika ingin keluar dari perangkap ilusi orang itu harus mencari letak kesalahannya. " lanjut michael, bunga yang puas ia mainkan dilemparkannya begitu saja. "Michael...sebenarnya maksudmu apa? " tanyaku dengan raut bingung. Michael memandangku sambil tersenyum " tak ada, aku hanya bercanda. " jawabnya.

Kata-kata michael selalu terngiang di telingaku. Sehingga tanpa sadar aku berjalan menuju pintu yang dulu membuatku sakit berhari-hari. Aku heran dengan kakiku, apa ia mau tuannya mati muda karena ketakutan?

"Letak kesalahannya. " gumamku, jari jemariku terangkat. Pintu itu begitu menggoda untuk dibuka walau aku tahu ada gembok besar yang menguncinya ,tanganku berusaha meraih gagang pintu. "Maria, sedang apa? " bapa sedang berdiri di belakang ku sambil membawa kitabnya. Aku berbalik dan menundukkan kepala, berusaha memikirkan jawaban yang tepat agar aku tidak dimarahi.

"Ah... Aku hanya ingin lewat. " jawabku, itu jawaban terbaik saat itu. "Pergi ke pasar bersama michael, bapa butuh beberapa barang. " ucap bapa sambil menyodorkan uang. Aku menerima uang itu dan hendak pergi jika saja otakku tidak memikirkan pertanyaan bodoh itu.

"Bapa, sebenarnya apa yang ada di dalam sana? " tanyaku sambil menunjuk pintu dengan gembok besar itu. Bapa menatapku kaget, ia menghembuskan nafas berat seakan jawabannya bukan lah sesuatu yang bisa ia katakan dengan mudah.

"Maria, dengarkan bapa.. " ucapnya sambil memegang bahuku. " terkadang ilusi akan menjadi nyata jika kita percaya. Tapi jangan sampai lengah jika tidak ingin tertarik lebih dalam. " lanjutnya. Mataku melebar dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa ucapan yang sama keluar dari mulut orang yang berbeda?

Bapa dan michael, sebenarnya rahasia apa yang mereka coba katakan dengan kata-kata itu?
Apa salah satu dari kalian adalah ilusi?  Atau keduanya?  Atau akulah ilusinya?

BAPHOMET : "devil inside me" (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang