Kami saling berhadapan, aku dan michael saling memandang mata satu sama lain. Aku melihat kehangatan di dalam matanya, begitu juga rasa dingin yang menusuk. Aku berusaha untuk tersenyum tapi sudut bibirku tidak ingin terangkat dan malah bergerak jatuh. Michael menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. Seharusnya aku bahagia.
Kemudian aku menatap bapa yang memandangku penuh haru. Hari ini ia menjadi pendeta sekaligus waliku, menjadi ayah yang mendampingi putrinya berjalan menuju hidup baru. Jasanya tidak akan pernah kulupakan, membesarkan aku yang senakal ini dan masih tetap sabar. Aku berusaha untuk tersenyum, walau hatiku terasa pedih.
Lalu aku menatap para undangan, mereka tersenyum. Tapi tak ada kebahagiaan disana, bibir mereka hanya membentuk bulan sabit namun tatapan mata mereka kosong menatap lurus kedepan. Aku tidak mengenal para undangan ini, mungkin mereka datang dari pihak keluarga michael. Namun tatapan hangat michael tak terpancar dari bola mata mereka.
Pandanganku teralihkan saat bapa memulai upacara pernikahan. Aku tak fokus mendengar karena kepalaku terasa sakit. Demi apapun, di pernikahan ku sendiri, aku tidak boleh mengeluh sakit. Aku mencoba menahannya dengan memandang dua manik coklat milik michael. Bukannya merasa lebih tenang, kepalaku malah terasa ingin meledak.
"Ahh. " suara kecil yang memecah suasana sakral ini. Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit. Michael mencoba menahan tubuhku yang semakin melemah. Tatapan matanya penuh pertanyaan dan kekhawatiran. Bapa berhenti bicara dan semua undangan menatapku dengan tatapan yang masih dingin.
"Maria, apa kita istirahat dulu? Sampai kau pulih? " michael menggendongku keluar dari upacara pernikahan kami sendiri. Bapa dan ayah michael mengikuti kami dan para suster menenangkan semua undangan yang tampaknya hanya akan diam di tempat mereka.
Michael mendudukkan ku di bawah pohon besar. Tangannya menyentuh dahiku. Dingin. Tangan michael yang dingin akhirnya turun diikuti raut wajahnya yang khawatir. "Ayah, apa maria baik-baik saja? " michael menggenggam tanganku dengan erat seakan aku akan pergi ke tempat asing nan jauh. Baru aku ingat, selama ini dokter yang mengurusku adalah ayahnya michael. Pantas saja, bapa memikirkan perjodohan ini.
Dokter memeriksaku tanpa alat-alatnya karena ia hadir saat ini untuk menghadiri pernikahan bukan untuk mengobati pasien. Ayah michael tersenyum "apakah kau gugup maria? " ia memandang bapa kemudian mereka tertawa. Aku dan michael menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Tampaknya pengantin perempuan kita sangat gugup hingga tekanan darahnya menjadi rendah. " michael memandangku masih dengan tatapan khawatir. Ayah michael pun menenangkan kami berdua agar kami tidak panik dan aku menjadi tambah pusing.
Setelah setengah jam menunda upacara pernikahan, kami kembali ke altar untuk melanjutkan. Para undangan itu masih di tempat duduk mereka masing-masing, menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong dan senyuman.
Kali ini kepalaku tidak lagi sakit tapi suntuk dengan pikiran-pikiran aneh. Saat aku lemas tadi, diantara kebingungan sayup aku mendengar Bisikan yang lembut menggoda tulang pendengaran dalam telingaku.
"Jangan percaya"
***
"Michael van bingham, bersediakah anda menjadi suami sah dari maria belphegor baik dalam keadaan senang maupun susah, sehat maupun sakit, hingga kematian memisahkan kalian? " michael menatapku hangat, ia menggenggam tanganku dengan erat.
"Saya terima" bapa dan ayah michael tampak bahagia dengan jawaban dari orang yang sedang berdiri dihadapanku.
"Maria belphegor, bersediakah anda menjadi istri yang sah dari michael van bingham, baik dalam keadaan senang maupun sudah, sehat maupun sakit, hingga kematian memisahkan kalian? "
Ada sesuatu di balik pohon besar di belakang punggung michael! Awalnya aku kira ia hanyalah bagian pohon yang tak terkena cahaya, tapi setelah aku perhatikan ia adalah seseorang!
Seseorang yang tinggi itu memakai setelan jas berwarna hitam. Yang bisa membuatku melihatnya adalah balon hitam yang sedang ia pegang.
"Maria? " bisik michael, aku menatap michael dan bapa. "Sa.. Saya terima. " wajah keduanya menjadi bahagia begitu juga ayah dan ibu michael yang hadir di pernikahan ini.
"Sekarang, kedua mempelai dipersilahkan untuk mencium satu sama lain. " ucap bapa dengan senyum yang sangat besar.
Michael mendekati wajahku, ia menunduk karena ia memang lebih tinggi dariku. Tapi aku tak bisa fokus padanya, balon hitam yang dipegang orang asing itu terlalu menarik perhatianku. Kenapa tidak ada yang memperhatikannya.
Wajah kami semakin mendekat, pria asing itu tampak ingin menerbangkan balonnya. Tinggal dua centi lagi, bibir kami akan saling bertemu dalam ikatan yang sah ini.
Aku menutup mataku, menyerah dengan pikiran yang membabi buta memberikan pertanyaan untuk hatiku. Satu centimeter lagi.
Aku membuka mataku, air mata yang sedari tadi aku tahan mengalir. Aku berhenti saat bibir kami tinggal satu centimeter lagi.
"Kau bukan michael! "
KAMU SEDANG MEMBACA
BAPHOMET : "devil inside me" (END)
Horor(Cerita sudah tamat) semua yang kutahu adalah tentang tuhan dan anugerahnya karena sebagai yatim piatu aku bisa hidup bahagia bersama bapa dan gereja di sebuah desa yang menerima kami dengan ramah. walaupun aku bukan penganut agama bapa tapi aku me...
