Biar kuceritakan padamu, pasar di desa kami sebenarnya cukup ramai namun tentu tidak seramai di kota karena di sanalah semua barang yang tidak ada di desa ada. Tapi yang menyenangkan dari kegiatan pergi ke pasar adalah mencicipi jajanan rumahan yang tidak hanya lezat tapi juga gratis. Ya.. Gratis untukku karena aku adalah anak bapa dan bapa adalah pahlawan desa kami.
Namun kali ini aku merasa tidak ingin mencicipi jajan apapun. Pikiranku masih mencoba memecahkan teka-teki yang di berikan bapa dan michael. Michael menatapku bingung kemudian menyenggol lenganku.
"Hmm? " jawabku menatap michael, tampaknya ia agak khawatir karena aku biasanya selalu tersenyum dan senang mendapatkan makanan gratis tapi sekarang aku malah terus jalan dengan tatapan kosong hingga kami sampai di ujung pasar. "Apa kau tidak apa? " tanyanya, aku mengangguk berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Demi mengalihkan tatapan bingungnya aku pergi ke salah satu kedai yang menjual roti. "Ah... Bapa nitip barang ya? " gumamku pada diriku sendiri. Saat aku berbalik betapa terkejutnya aku, michael ada disana lalu menarik tubuhku hingga kami berpelukan. "Jangan takut, kau pasti bisa menemukannya. " ucapnya kemudian melepaskan pelukan begitu saja lalu melenggang keluar.
Setelah membeli barang titipan bapa, aku dan michael memutuskan untuk pulang. Ia mengajakku melewati padang ilalang yang merupakan jalan pintas ke gereja. Aku hanya mengiyakan dan mengikutinya, lagi pula memandang ilalang yang tertiup angin bisa meredakan pikiran negatif yang menghantui kepalaku.
Ilalang menggelitik tanganku yang berusaha menyentuhnya. Angin semilir menerbangkan rambutku dan memberikan kesejukan tidak hanya di kulit tapi juga jiwaku. Setidaknya ini bisa menjadi pelarian ku dari semua kejadian mengerikan belakangan ini.
Michael berjalan di depanku, punggungnya terlihat tegak seperti karang yang akan menahan serangan jahat untukku. Ia berbalik kemudian tersenyum, namun matanya sorot akan kesedihan. Ia memandangku sebentar kemudian berbalik memandang hamparan ilalang.
"Michael. " panggilku, ia berbalik lagi dengan tatapan meneduhkan. " sebenarnya letak kesalahannya dimana? " tanyaku, seketika ia menegang, senyuman yang tertengger di bibirnya menghilang. "Kau pasti sadar karena kesalahan itu selalu ada di dekatmu. " jawabnya, ia kemudian berbalik dan berjalan. Setelah itu antara kami tak ada lagi perbincangan, yang terdengar hanya angin semilir nakal yang menggoda ilalang.
***
Jawaban michael membuat teka-teki yang kuharap mulai terpecahkan malah semakin rumit. Aku memandang langit-langit kamarku, lentera sudah dimatikan dan hanya sinar bulan yang malu-malu masuk melalui celah gorden. Aku menatap ke pojokan, kini aku sudah terbiasa dengan makhluk menyeramkan itu dan hanya bisa berdoa semoga ia bisa tenang dan pergi ke alamnya.
Saat itu aku mendengar sayup suara langkah kaki yang berlari. Suara itu semakin terdengar yang menandakan pemilik kaki itu semakin dekat pula menuju tempatku. tiba-tiba aku teringat kalau pintu belum dikunci. Dengan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhku aku bangkit dan berlari ke pintu untuk menguncinya.
"Cklek" pintu itu terbuka, sedetik sebelum aku menggapainya. Kini aku berhadapan dengan pemilik kaki itu. "Michael? " ucapku, ia sedang berdiri sambil membawa lentera. Dengan raut wajah khawatir ia menarikku. Awalnya aku berontak namun ia berhenti dan memegang bahuku. "Apa kau tidak ingin bebas? " tanyanya dengan sorot mata khawatir. Aku mengangguk dan mengikutinya.
Aku harus berlari tanpa alas kaki karena tertinggal di kamar. Ia membawaku ke ujung desa dimana hutan gelap dan berbahaya yang pernah hampir membunuhku berada. Ia berlari sambil terus memegang tanganku.
Sayup aku mendengar teriakan warga dan itu...BAPA....ada suara bapa juga. Dari kejauhan aku melihat cahaya terang yang berasal dari obor. Aku menatap michael yang tak henti berlari. Di bawah pohon besar, dimana tidak terdengar lagi suara memanggil namaku kami berhenti.
"Kau harus terus lari dan jangan berhenti. Jangan dengarkan apapun yang memanggilmu. "Ucapnya sambil menyerahkan lentera. Sebelum ia pergi, ia berbalik menatapku "dan.. Jangan percaya bapa itu. " kemudian ia berlari ke arah suara yang semakin dekat.
Tak ada lagi apa-apa di pikiranku, aku terus berlari tanpa menggubris ranting tajam dan batu yang menggores kaki dan kulitku. Daerah sini berkabut sehingga aku tidak bisa melihat terlalu jauh, tapi masa bodoh, aku harus lari dan menjauh dari sini.
"Sarah... " tubuhku menegang saat mendegar suara itu. Kata michael aku harus terus berlari dan tidak menggubris perkataan itu. Aku kembali tertegun saat perlahan kabut menghilang dan di depanku jurang besar dan dalam berada. Aku mendengar suara warga dan bapa yang memanggil namaku. Aku harus ke mereka atau aku harus loncat?
Satu tarikan nafas dan keputusan yang membawaku jatuh ke dalam perangkap. "AKU HARUS BEBAS... "
KAMU SEDANG MEMBACA
BAPHOMET : "devil inside me" (END)
Horor(Cerita sudah tamat) semua yang kutahu adalah tentang tuhan dan anugerahnya karena sebagai yatim piatu aku bisa hidup bahagia bersama bapa dan gereja di sebuah desa yang menerima kami dengan ramah. walaupun aku bukan penganut agama bapa tapi aku me...
