"Maria! Tenangkan dirimu, suster! tolong pegangkan dia. " teriak bapa sambil memegangi tubuhku yang berontak. Bagaimanapun caranya aku harus keluar dari kamar ini, gereja ini, desa ini, neraka ini. Para suster datang memegangi tangaku yang memukul bapa. Bapa mengelap air mata yang mengalir di pipinya, beberapa saat kemudian seorang berpakaian putih yang ku anggap sebagai dokter masuk.
"Nona Maria! Tenangkan dirimu ." teriak dokter itu sambil memegangi lenganku, para suster sedang memegangi kakiku agar aku tidak bisa lari. Kepalaku mengeluarkan banyak darah karena aku menghantamnya ke dinding. Dokter itu menyuruh suster memegangi tangaku lalu mengambil jarum suntik dan botol berisi cairan bening.
Panik, aku harus bisa lari sebelum dokter laknat itu menyentuhku dengan suntikannya. Ia memegang lenganku cukup keras hingga aku tidak bisa lari. Lalu menyuntikkan cairan bening itu, lama kelamaan aku mulai melemah. Suster tidak harus memegangi ku lagi dan dengan rasa kantuk yang teramat sangat aku bisa melihat bapa menangis. Masa bodoh.
Saat aku tersadar, ada sensasi aneh yang terasa di pergelangan tangan dan kakiku. Aku diikat! Aku melihat bapa yang sedang duduk di kursi samping tempat tidurku. "Maria, apa kau baik-baik saja? " ucap bapa, ia hendak mengelus kepalaku jika saja aku tidak menghindarinya. Tangan bapa berhenti, lalu ia letakkan di dadanya. Bapa tampaknya seperti merapal doa, tapi aku yakin itu adalah mantra kutukan untukku.
"Siapa kau sebenarnya? " mulutnya berhenti berkomat-kamit lalu menatapku dengan wajah iba. "Kutanya sekali lagi, siapa kau? Dimana michael kau sembunyikan? " tanyaku dengan nada marah, setidaknya bila michael mati dibunuhnya aku harus melihat jasadnya untuk terakhir kali.
"Maria... Ini bapa, bapa john. Siapa michael yang kau maksud selama ini?" jawab bapa sambil meneteskan air matanya. Ia memegangi kepalanya dengan frustasi. "Kumohon maria, sudah kubilang jangan sampai kau jatuh ke jurang dalam karena ilusinya. " lanjutnya, ia mengelap air mata yang mengalir di pipinya.
Aku terdiam, apakah yang berada di depanku ini adalah sosok bapa yang aku rindukan selama ini atau iblis yang sedang mempermainkanku? Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku.
"Bapa, masih ingat waktu aku sakit 7 tahun yang lalu? " bapa menatapku dengan ramah lalu mengangguk. "Tentu saja, kau sakit karena hal yang sama. "
"Benar sekali, " ucapku sambil tertawa. Bapa tersenyum lalu membuka ikatan tangan dan kakiku. Aku duduk berhadapan dengannya. "Bapa ingat donat dengan taburan coklat putih yang akan bapa beli di kota,kan? " tanyaku, bapa mengangguk dengan mantap.
"Waktu itu aku sangat senang karena bapa pergi bersama kakakku. " ucapku, bapa mengangguk. "Tentu saja, bagaimana bapa bisa lupa. " jawabnya sambil mengelus rambutku. Aku menegang, senyum yang terukir di bibirku menghilang.
Bapa berhenti mengelus rambutku dan menatapku dengan wajah bingung. "Tentu saja. " ucapku sambil tersenyum.
"bapa, bisa belikan aku bubur buatan bi ratna, aku rindu dengan rasanya. " bapa menatapku sambil tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya "apa yang tidak untuk malaikat kecilku. " kemudian ia bangkit dan meninggalkanku sendirian dalam kamar.
Aku temukan kesalahannya. Seluruh dunia yang aku tinggali berputar-putar hanya pada diriku. Semuanya berjalan sesuai kehendakku. Bagaimana aku tidak bisa menyadarinya. Aku pergi ke ruangan rahasia yang hanya aku dan michael tahu. Inilah satu-satunya bukti kalau michael adalah manusia nyata yang pernah hidup di dunia ini.
Aku mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yang mengintip dan membeberkannya pada bapa. Aku merangkak di bawah tempat tidurku. Tanganku mengetuk-ngetuk papan mencari ruang kosong dibaliknya.
"Buk.. Buk.. Buk" tanda tidak ada tanah yang berada dibawahnya. Aku membuka papan itu dan melihatnya. Michael memang nyata dan bapa adalah seorang pembohong.
***
Disana, di lobang kecil aku melihat barang-barang pemberian michael dulu. Ada senter, pisau kecil, botol air minum dan sebuah buku biru. Aku mengambil buku itu lalu menutup papan dengan perlahan.
Setelah aku duduk di atas kasur dengan satu hembusan nafas aku membukanya. Ternyata ini adalah buku diari michael.
"Tok.. Tok.. Tok.. " ada suara ketukan di pintuku, aku menyembunyikan buku diari michael di bawah bantal. "TokTokTok. " suara itu semakin keras, awalnya aku akan langsung membukanya tapi aku berhenti. Rasanya ada sesuatu yang jahat dari balik pintu itu.
"MARIA.. BUKA PINTUNYA. " teriakan bapa menggema di seluruh kamar dan otakku. Suara ketukan semakin besar, aku merapal doa yang aku tahu berulang kali berharap apapun itu bisa menghilang. Suara ketukan semakin keras, aku rasa pintu tua ini tak cukup menahan kekuatan makhluk yang mencoba masuk itu.
" SIALAN... " setelah itu semua ketukan kasar dan menakutkan itu lenyap. Hening. Keringat dingin sudah membasahi bajuku.
Aku duduk di tempat tidurku, aku melirik ke arah bantal yang dibawahnya terdapat diari michael. Aku mengambil buku biru yang telah usang itu lalu membuka halaman pertama.
"Maria, bila kau membaca ini artinya aku tidak baik-baik saja. Jangan takut,tuhan akan bersamamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BAPHOMET : "devil inside me" (END)
Horor(Cerita sudah tamat) semua yang kutahu adalah tentang tuhan dan anugerahnya karena sebagai yatim piatu aku bisa hidup bahagia bersama bapa dan gereja di sebuah desa yang menerima kami dengan ramah. walaupun aku bukan penganut agama bapa tapi aku me...
