bab 19

101 7 1
                                        

Matanya yang menampilkan manik-manik coklat kini berubah menjadi lautan hitam. Tangan Sarah melemah, tubuhnya berdiri tegap diantara tarian orang-orang yang bersemangat. Tangan pria itu terjulur meminta Sarah mengikutinya dan Sarah menggapainya!

Mereka berjalan melewati orang-orang yang menari menuju bawah pohon di dekat sana. Pria itu mengelus lembut rambut Sarah, kemudian bergerak perlahan hingga menyentuh pipinya. Pria itu tersenyum, menatap Sarah yang kini dalam kendalinya.

Pria itu mendekati tubuh Sarah, memojokkannya ke batang pohon yang besar. Balon hitam itu masih digenggamnya erat, seakan balon itu adalah benda berharga miliknya. Tangan Sarah terangkat, menggapai wajah pucat milik pria itu.

"Kau sudah kalah. " Buket mawar putih yang tadi terjatuh kini sudah kembali berada di genggaman Sarah. Mawar putih itu perlahan-lahan berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan mata.

Kini mereka berada di dalam ruangan putih. Sarah memegangi kepalanya yang sakit dan terkejut melihat pria pemegang balon itu kini telah kehilangan balonnya dan terantai di udara. Pria itu masih tersenyum, matanya masih menghitam dan penuh jebakan.

"Hanya kamu yang bisa melakukannya. " Michael muncul dengan jas putihnya, ia memegang setangkai mawar putih dan memberikannya kepada Sarah.

"Bagaimana?  Cara membenarkannya? " Sarah menatap Michael dengan penuh pertanyaan. Michael berbalik, memandang iblis yang telah memenjarakan Sarah sangat lama.

"Sarah, aku hanya bisa membantu sampai sini. Bila ingin bebas kau harus tahu nama iblis yang memenjarakanmu. " Michael menggenggam tangan Sarah, cahaya mulai keluar dari tubuh Michael. Bersamaan dengan cahaya yang mulai menyilaukan, buku biru lusuh tersisa.

Sarah mengambil buku itu dan menggenggamnya erat. Air mata menetes menuruni pipinya. Sarah membuka halaman demi halaman berisi catatan harian Michael yang selalu berputar-putar tentang Sarah.

Ia membuka halaman terakhir, ada tulisan baru yang lain dari buku harian Michael yang lama. Ia menutup buku itu kemudian berjalan mendekati iblis yang masih terantai itu.

"Siapa namamu?  Katakan sebelum aku melakukannya dengan kekerasan. " Iblis itu tertawa, suara tawanya yang menggema di ruangan dan gendang telinga sarah terdengar melengking dan menakutkan.

"Aku tidak takut padamu!  Karena Allah akan selalu melindungiku. " Suara tawa berhenti, iblis itu menatap Sarah dengan mata hitam yang berubah menjadi merah. Sarah tersenyum, setangkai mawar putih yang ia pegang kini berubah menjadi Al-quran berlapis emas.

"Jadi, IBLIS!  DEMI ALLAH, KATAKAN NAMAMU! " Iblis itu batuk darah dan menjadi lemah. Rantai yang mengikatnya kini semakin banyak mengekangnya.

"aku tidak akan menyerah. Karena kau hanya iblis rendahan yang jauh lebih lemah. " Iblis itu tertawa, melihat Al-quran yang di ayunkan di depan wajahnya.

Angin kencang datang entah darimana, sehingga Sarah tidak menjadi fokus. Saat Sarah melihat tempat dimana iblis itu terikat, yang tersisa hanya rantai. Saat Sarah berbalik, sebuah tangan pucat mencekik lehernya.

Tubuh Sarah terangkat keudara seiring senyuman iblis yang makin membesar. Udara yang seharusnya masuk ke dalam paru-parunya kini tertahan oleh tangan dingin sang iblis.

"Manusia lemah sepertimu hanya menjadi mainan bagi-Nya. Aku sudah memberikanmu semua yang kamu harapkan. Tapi?  Kamu malah memilih untuk melenyapkanku? " Iblis itu tertawa, Sarah meronta berharap ada seseorang yang menolongnya.

Iblis itu menurunkan Sarah dan memberinya ruang untuk bernapas. Kemudian ia berlutut, memegang dagu Sarah dan memaksa Sarah untuk melihat dirinya.

"Aku tidak ingin kamu mati. Aku hanya ingin kita bersama...Selamanya." iblis itu mengelus wajah Sarah lembut, dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Sarah.

"Kamu harus memilih. Menjadi Maria dan hidup bahagia denganku atau... Tetap menjadi Sarah dan hidup menderita. " Sarah menunduk, mencoba memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan jebakan dari iblis di hadapannya.

"Aku.. Aku.. "

***
Sarah membuka matanya yang masih terasa berat, ia merasakan rasa sakit luar biasa pada tubuhnya. Sakit sekali hingga ia hanya bisa menggerakkan jarinya. Seseorang yang duduk disampingnya berdiri menatap Sarah dengan tatapan terkejut lalu berlari keluar ruangan putih.

Sarah menutup matanya seiring kesadarannya yang menghilang. Sayup ia mendengar suara tangisan dan bunyi nyaring dari alat yang menunjukkan sebuah garis lurus.

***

Sarah kini berada di depan gereja, semuanya terulang kembali dari awal. Semua penderitaan dan tipuan busuk yang pernah ia lalui berputar bagai sinema di dalam otaknya. Kini ia merasa semakin lemah, rasa menyerah kini memaksa masuk dalam jiwanya. Ia hanya bisa meneteskan air mata.

"Kenapa?  Kenapa memilihku diantara miliaran manusia di bumi ini? " Sarah berbalik mendapati iblis yang memegang buket mawar merah. Sarah menatapnya sedih.

"Hmm.. Karena kau orang baik. Dan aku benci melihat orang tidak berdosa. " Iblis itu memberikan buket bunga pada Sarah namun Sarah hanya menatap buket itu tanpa mengambilnya.

"Kau Baphomet, kan? " Buket mawar merah itu terjatuh ke tanah dan berubah menjadi genangan darah. Sarah berjalan mendekati iblis yang sedang berlutut.

"Saatnya pulang. "

BAPHOMET : "devil inside me" (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang