Vomment
Tengah malam Seulgi bolak balik kekamar mandi. Dia terus-terusan muntah, kepalanya sungguh pusing
Jimin yang terganggu dengan pergerakan kasur itupun memutuskan bangun.
" kamu gk ppakan Seul?" Tanya Jimin yang melihat Seulgi baru datang dari kamar mandi
" aku gk enak badan Jim" seulgi bersender pada tiang pinggir kasur
" sini aku pijetin" Jimin menarik Seulgi untuk naik keatas kasur dan mulai memijat kepala Seulgi
" Jim perut aku sakit---"
" tadi katanya sakit kepala?"
" iya, sakit kepala sama sakit perut sekarang"
" emang kamu makan apa sih tadi sore?"
" kan kita tadi makan diluar----"
" aku nelpon bang Seokjin ya"
" gk usah. Dia pasti baru balik, cape jugakan"
" yaudah. Besok kita kerumah sakit"
" hm---" seulgi malah memeluk Jimin
" eh gimana aku mau pijet kalau kamu gini"
" gk lagi pusingnya. Aku suka cium badan kamu. Rasa mau muntah aku udah hilang"
" jangan-jangan---" batin Jimin dan membalas pelukan Seulgi dan mengelus punggung Seulgi
" tidur Seul mata mu sudah menghitam"
" hmmm." Sahut Seulgi
.
.
.
" ayahhh----" rengek Sungyoon sambil membawa gulingnya dari kamar sebelah
" hmm---" sahut Suga sih dengan keadaan tidur
Entah dia sadar atau tidak menjawab panggilan anaknya itu
" bundaa. Pagi-pagi dia berisik. Menyuruh ku bangun"
" hmm---" jawab Suga lagi
" ihhhh ayah. Pokoknya aku ikut tidur disini" Sungyoon langsung naik keatas kasur Suga dan memakai selimut yang sama dengan ayahnya gunakan
" tidur yang nyenyak---" ucap Sungyoon dan memeluk Suga. Perlahan-lahan Sungyoon mulai menutupkan matanya kembali
_________________
" yaaa ampun dipanggil dari tadi. Bukannya bangun malah pindah kesini. Bangun. Sungyoon. Ayah juga bangun cepat!" Titah Wendy sambil menyibak gorden agar cahayanya matahari masuk
" wennn tutup hordennya. Aku masih ngantuk"
" gk ada alasan ngantuk. Cepat bangun!! Kalian berdua. Atau kalian tinggal saja dirumah. Aku akan pergi" ancam Wendy
" kemana bun?" Tanya Sungyoon yang segera bangun takut ditinggal sang bunda
" mall-----"
Sungyoon kembali berbaring lagi setelah mendengar jawaban bundanya itu
" pergi saja bunda sendiri. Aku sama ayah dirumah"
" ya sudah. Awas kalian berdua menghubungi ku" wendy benar-benar pergi meninggalkan anak dan ayahnya yang masih terlelap itu
.
.
.
Chaerin sudah menebar pesona kesegala penjuru ruangan.
