-17-

153 10 12
                                    

Los Angeles

19 Agustus  2020

Alzetta sudah terkapar lemah di brankar ICU. Tubuhnya telah menolak untuk diberi cairan yang akan melawan sel kankernya untuk tumbuh. Tubuhnya seakan lelah disiksa cairan tersebut.

"Al, lo cepet sadar. Gue kangen lo, kita udah kepisah tiga tahun. Dan sekarang gue udah jadi dokter Al. Dulu lo pengen liat gue pakek jas putih ini kan? Gue udah pakek jas putih ini, Al. Gue di depan lo." ucap seorang dokter muda berkacamata.

Tak ada pergerakan dari sang pasien. Pasien tersayangnya sedang berjuang melawan sel kanker yang terus berkembang di tubuhnya.

"Gue akan berusaha, jadi dokter yang bisa nylamatin lo. Seperti lo yang nylamatin Mama gue." dokter itu keluar ruangan dengan rasa kecewa.

*****

Los Angeles
03 Januari 2018

Sudah setahun ini Al berada di kota Los Angeles. Dia sudah masuk menjadi salah satu mahasiswa di salah satu universitas ternama di Los Angeles. Keadaan sudah sangat membaik. Kankernya masih hinggap di tubuhnya dengan stadium satu.

Sekarang, hidup seorang Alzetta bergantung pada obat dan pengobatan pengobatan. Ia selalu meneguk sepuluh kapsul lebih obat setiap harinya.

Tetapi hidup Al sekarang sudah mulai membaik. Ia sudah memiliki teman dekat bernama Ali. Mereka se-tanah air, jadi tidak heran mereka bisa akrab.
"Sugeng injing, Al."  [Selamat pagi, Al] ucap seorang lelaki berkulit sawo matang dan tinggi yang lumayan.

"Sugeng injing, Ali." [Selamat pagi, Ali] jawab Al.

"Piye kabarmu?" [Bagaimana kabarmu?]

"Alhamdulillah, aku apik-apik wae." [Alhamdulillah, baik-baik saja.]

Ali, dia adalah teman sekaligus sahabat Al di LA. Dia adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa dan kebetulan satu universitas bersama Al.

"Lo ada kelas siang nggak, Li?" tanya Al.

"Aku kelas pagi aja. Kenapa?"

Ahahaha, persis kayak Rio dulu deh Ali. Jadi kangen Rio. batin Al.

"Loh, kamu kenapa, Al?"  Ali bingung atas perubahan ekspresi Al. Kenapa Al senyum-senyum sendiri?

"Nggak apa-apa. Nanti siang ke rumah aku, yuk!"

"Emm, tapi aku malu. Tidak ah kapan-kapan saja."

"Ngapain malu sih, Li. Ya ampun, wong jowo ngunu iku yo. Isinan." [Orang Jawa seperti itu ya. Suka malu] ucap Al sambil terkekeh.

"Hehehe, nggak juga sih." Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Suasananya sangat canggung.

"Yaudah, gue duluan Li."

Al pun meninggalkan Ali. Ia ada kelas pagi sekarang. Jiwa Al sepenuhnya di LA, namun separuh raganya ada di Indonesia.

Benar kata orang, seenak-enaknya di negara orang lebih enak di negara sendiri. Batin Al

"Andai handphone gue kagak tertinggal di rumah sakit pagi itu. Pasti gue bisa telepon Naufal, Reina, dan Rio. Sekarang mereka bagaimana ya? Apa mereka lupa aku?"

"Terus Rio udah punya pacar baru mungkin, ya. Dia kan gak mungkin nunggu gue yang gak pasti."

Al bermonolog sambil menaiki anak tangga menuju fakultasnya. Al mengambil jurusan fakultas hukum. Seperti cita-citanya saat kecil, membantu mencari keadilan bagi mereka yang tertindas.

- Magic of Love -

Massachussets, USA.

Naufal sedang tergopoh-gopoh menghadiri seminar di sebuah ball room hotel yang akan membahas masalah penyakit kanker. Jam tangan yang ia kenakan sudah menunjukkan pukul 03.50 PM waktu setempat. Dan sepuluh menit lagi seminar itu akan dimulai.

Saking terburu-burunya, mata minusnya tak bisa menangkap sebuah batu menghalangi jalannya. Alhasil, kakinya tersandung dan ada sebuah benda jatuh dari dalam saku jasnya.

Naufal pun menunduk untuk mengambil barang tersebut.

Reina, gue kangen ke-konyolan lo.

Ternyata, sebuah boneka kurcaci dengan bahan karet jatuh dari saku jasnya. Sebuah boneka kecil pemberian Reina yang baru kemarin sampai di apartemennya. Boneka yang ditemani sebuah jam tangan hitam yang tergeletak di depan pintu apartemennya kemarin.

Naufal menatap nanar ke arah boneka itu. Dengan cepat ia kembalikan boneka itu pada saku jasnya. Ia sangat terburu-buru oleh seminar yang sangat penting kali ini.

Setelah lima menit berjalan, akhirnya Naufal bisa duduk tenang di bangku terdepan di ballroom hotel ini.

Al, gue akan berjuang dan belajar. Semoga suatu saat gue ditakdirkan bisa nyembuhin lo.

******

Happy Reading!!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 21, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Magic of LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang