-11-

100 16 28
                                    

Kau tahu bahwa aku sungguh membenci hatimu, karena terlalu nyaman untuk ditinggali. Sehingga aku enggan untuk pergi.

Alzetta

*****

Malam ini serasa kelam dan sunyi. Mungkin bulan sudah bosan menyinari malam. Ia bosan dengan hiruk pikuk dunia yang fana. Bintang juga enggan berkedip pada bumi. Mungkin ia sedang berhibernasi di alamnya. Ataukah awan hitam penyebabnya? Apakah awan menghalangi bulan dan bintang menyinari gelapnya malam?

Suasana malam yang sesuai dengan suasana hati seorang remaja yang berkutat pada kasur dan cermin. Ia merutuki kebodohannya malam itu. Malam dimana ia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya. Dan juga malam dimana sang sahabat merasakan sakit yang tidak ia ketahui.

Alzetta, remaja yang sedang dilanda kegelisahan. Bukan kegelisahan akan pacarnya. Ia gelisah akan sahabat-sahabatnya.

"Kalo bukan Naufal yang ngomong sih, gue masa bodo! Tapi, ini Naufal. Sahabat gue."

"Gue salah besar ya sama kalian? Aduh gimana cara menebusnya."

"Reina, beritahu aku cara menebusnya. Please, Rei sekali ini aja. Beri aku maaf. Tapi, mungkin kamu lelah maafin aku ya?"

Sedari tadi, sosok Al bercakap dengan dirinya sendiri. Ia sudah seperti orang gila karena sahabatnya. Berkali-kali ia berpindah tempat. Seperti tidur, duduk, berdiri, berjalan, dan telentang.

Untaian kata yang keluar dari bibir seorang Naufal berhasil memporak-porandakan pikiran Al. Ia memang tidak peduli dengan omongan orang lain. Namun, Naufal bukan orang lain baginya. Naufal lebih dari teman dan pacar. Ia adalah sahabatnya.

"Mata, terpejam lah. Ayo kita tenangin pikiran. Ini udah pukul dua dini hari. Besok pagi harus sekolah, okay." Al menasihati matanya sambil berusaha memejamkannya.

"Otak, istirahat dulu yuk." Itulah sedikit dari banyak gerutuan yang keluar dari mulut mungil Al.

Matanya sudah semakin sembab. Air matanya mengalir deras tanpa henti. Al sudah menghabiskan sekotak lebih tisu.

"Okay, sekarang mata, hati, dan otak harus bekerja sama untuk istirahat!"

ɤ Magic of Love ɤ

Di tempat lain, sosok lelaki juga sama gelisahnya. Ia berjalan mondar mandir dengan mulut berkomat-kamit. Layaknya seorang suami yang sedang menunggu istrinya lahiran.

"No money? What!" Itulah salah satu kalimat yang keluar dari bibir lelaki tersebut.

"Gimana cara gue buktiin itu sih. Papa oh Papa, kau sangat kejam pada anakmu ini."

"Jangan-jangan Papa lagi yang cinta sama Al. Kok obsesi banget, gue jadi curiga."

Ia melantunkan beberapa kata indah untuk sang Papa dengan suara yang sedikit keras. Dengan harapan sang Papa mendengarkannya.

Flashback on

Sepulang sekolah, Rio merasa sangat capai. Bagaimana tidak? Kegiatan sekolah yang padat, ditambah dengan bimbingan belajar. Dan juga satu minggu lagi Ujian Nasional harus dihadapinya.

Magic of LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang