10. Back home

217 21 0
                                        

😘😘😘


Hey there!
This part written by me


So,

Happy reading


"Ini gawat Ara.."

Elish mengejutkan Laura yang tengah menikmati malam ke dua di Las Vegas, wanita dengan rambut bruntte itu sangat terkejut dengan teriakan temanya yang seperti petir di siang bolong. Kadang Laura merasa meyesal berteman dengan Elish, gadis pirang itu terlalu berisik dan Laura tipe gadis pecinta keheningan.

Laura hanya menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, mencoba untuk tidak berteriak kembali di hadapan wajah genit teman rambut pirangnya. Si Elish cempreng itu.

Laura kembali melanjutkan memandang kota Las Vegas yang di penuhi dengan kerlap kerlip lampu dari berbagai macam sumber seperti gedung pencakar langit, taman, plang-plang yang berada di depan bangunan, kendaraan dan masih banyak lagi.

Laura hanya ingin menikmati suasana malam kota Las Vegas yang begitu indah baginya. Sehingga gadis berambut bruntte itu menghiraukan temanya yang semakin brutal berteriak karena di hiraukan oleh Laura.

Elish geram dengan keacuhan Laura. Gadis itu melangkah mendekati Laura dengan hati yang gemas sekaligus kesal, terbukti dengan kaki yang di hentaknya cukup kencang karena efek gemas tadi.

"ini sungguh sangat serius Ara.. dan mungkin ini berita yang akan menghancurkan liburan kita."

Elish mencoba menarik perhatian Laura yang masih asik memperhatikan pemandangan indah di hadapanya. Gadis pirang itu sekali lagi menggerutu karena masih tidak mendapat balasan dari Laura teman apatisnya.

Kadang kala juga, Elish memikirkan bagaimana bisa gadis berambut pirang itu bisa berteman dengan Laura yang super apatis itu?

"Dasar Apatis"

Elish berdialog dengan dewi batinya,

"Bodoh bukanya kamu yang ngotot ingin berteman dengan si apatis itu?"

Elish mendapat jawaban dari dewi batinya, sehingga membuat gadis berambut pirang itu meringgis mendengar jawabanya yang sedikit pedas.

"Shit!"

Umpat Elish sedikit keras sehingga membuat Laura mengalihkan perhatian dari pemandangan di depanya.

Bukannya Laura merasa penasaran dengan umpatan yang di lontarkan oleh teman pirangnya itu, hanya saja Laura lagi dan lagi merasa terganggu dengan suara yang di hasilkan oleh Elish.

"Ayolah Laura, apa kamu tidak penasaran dengan informasi yang aku bawa? Bisa di bilang informasi ini akan sangat merugikan kita"

Elish kini sudah duduk di samping Laura dan akan bersiap memberi tahu informasi yang akan membuat Liburanya sangat terganggu bahkan bisa jadi batal. Laura kembali mengalihkan perhatian ke pemandangan di depanya.

"Ceritalah Elish! Meski aku Apatis tapi, aku ini pendengar yang baik."

Laura masih memperhatikan pemandangan di depanya, baginya sangat malas berbicara sembari bersitatap muka. Walau Laura tahu berbicara dengan saling tidak menatap itu tidak sopan, tapi siapa yang mau melewatkan pemandangan yang sangat indah di depanya. Laura akan merasa rugi dan menyesal nantinya.

"Derek sialanmu itu menginginkan kita untuk secepatnya kembali ke Paris."

Elish sudah kehilangan kesabaran memperhatikan keapatisan Laura, sehingga gadis pirang itu langsung mengatakannya dengan nada yang sedikit kesal, dan itu membuat Laura terkekeh. sedetik kemudian mengumpat dengan sangat brutal.

"Shit! Adakah hal yang paling menyebalkan di dunia ini selain di paksa untuk berhenti berlibur lalu kembali bekerja?"

Laura mengumpat, gadis itu tidak habis pikir dengan General Manager-nya. Bagaimana bisa Si derek sialan itu bisa menghancurkan liburanya? Iiburan yang seharusnya Laura dapat, karena sudah enam bulan lebih gadis itu bekerja keras di kantor tanpa liburan.

Jika Laura bisa mematikan Derek si sialan, maka gadis bruntte itu pasti dengan senang hati akan langsung melakukanya.

"Kamu tahu Elish? Ini sangat menjengkelkan, aku baru saja menikmati liburanku tapi si sialan itu malah meminta kita untuk pulang lalu bekerja seperti robot."

Runtuk Laura dengan perasaan kesalnya yang meluap. Gadis bruntte itu memang merasakan sesuatu yang ganjal, masalahnya Laura tidak bisa merasakan kebahagiaan saat menerima gaji. Beda halnya dengan perasaan orang lain saat menerima gaji, mereka akan sangat bahagia dan langsung berpoya-poya.

Sedang Laura sendiri, gadis itu akan kembali bekerja dan menyimpan uangnya tanpa bisa di pakai untuk bersenang-senang. Laura merasa dia tidak bahagia dengan pekerjaanya, dia merasa menjual dirinya kepada perusahaan, dan itu lebih rendah dari seorang pelacur.

"Aku tahu Laura dan aku rasanya ingin menghancurkan wajah si derek menyebalkan itu, bagaimana kamu bisa menyukai dia?"

"Itu dulu Elish, sebelum dia menolak aku dan untuk sekarang aku sangat membencinya. Lelaki itu sungguh sangat menjijikan"

Papar Laura sembari membayangkan adegan menjijikan yang di lakukan Derek dengan pacar murahanya, Laura seketika ingin muntah. Harus Laura akui, gadis bruntte itu sangat bersyukur karena si Derek itu telah menolaknya. Sehingga Laura bisa tahu sifat bajingan General Manager-nya tanpa harus terlibat.

"Itu bagus, memang pria bajingan seperti itu pantas dibenci. Hmm.. Bay the way? siapa pria yang membelikanmu banyak barang itu?"

Tanya Elish sembari menunjuk tumpukan Paper bag yang berisi belanjaan Laura tadi sore. Laura mengalihkan perhatianya ke arah yang di tunjuk oleh Elish.

"Pria itu bernama Nicolas carrare, dan sejujurnya aku baru kenal tadi pagi."

Jawab Laura dengan malas, tentu tanpa memikirkan reaksi atau pertanyaan yang lebih mendalam dari Elish.

"Wah.. kamu hebat di hari pertama sudah mendapat buruan yang besar."

Elish mengeluarkan ekspresi berlebihanya, gadis itu sangat senang melihat Laura sudah bisa move on dari si derek sialan itu.

"Apa pria itu bisa membuatmu lemas?"

Tanya Elish dengan pertanyan yang bermaksud untuk menjahili temanya. Kapan lagi coba bisa menjahili Laura yang terkenal dengan kejudesanya.

Pertanyaan yang langsung bisa di mengerti oleh Laura, seketika membuat Laura merona.

"Shit"

Umpat Laura di dalam hatinya.

"Kamu apaan sih Elish? Pertanyaan macam apa itu. Kita itu baru kenal tadi pagi."

Oh ayolah Laura terpaksa berbohong tentang Nic, gadis berambut bruntte itu tidak mungkin menceritakan tentang Nic yang dengan seenak jidatnya berani tidur seranjang dengan Laura tadi malam. Dirinya terlalu malu dan...

arghh

Laura baru menyadari bahwa pria itu sangatlah tampan, dengan netra biru campur hijau yang bisa menghipnotis Laura untuk terus memikirkan pria bernama Nic itu. Ya walau sedikit tidak banyak bicara, tapi pria itu masih sangat tampan.

"Ayo ngaku saja, aku tidak percaya kalian tidak melewatkan malam yang panas."

"Yatuhan Elish.. terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku tidak perduli,"

Ucap Laura sembari beranjak meninggalkan Elish dengan kekehanya yang menyebalkan. Hanya dengan menjauh dari Elish Laura bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh bin menyebalkan dari Elish si gadis berisik itu.

Please jangan panggil Elish si brisik itu gadis lagi, karena Laura yakin Elish sudah tidak gadis lagi. Alias dia sudah di tusuk, tapi entah di tusuk pakai apa.😂

so, cerita ini adalah cerita kolaborasi aku dengan temanku feni_cempaka , cerita ini ada di dua akun yang berbeda dengan judul yang berbeda pula. Tapi, isi sama.

Luxurious Guy ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang