SEBELAS

513 25 2
                                        

Sore ini masih dengan earphone di telinganya, Tasya menatap ke arah jendela kamar yang dipenuhi stiker bintang-bintang kecil transparan. Rintihan air hujan masih terlihat begitu deras seakan-akan alam ikut bahagia seperti keadaan hatinya saat ini.

Oh, Tuhan! Ada apa dengannya? Kenapa ia jadi senyam-senyum sendirian terus sejak mendengar penuturan Arga di kelas. Arga itu memang aneh, banyak yang bilang kalau dia itu jago meramal dari gerak-gerik seseorang. Dan Tasya percaya omongan orang itu ketika Arga mulai merapalkan kata-katanya.

"Tenang aja, Tas. Besok juga dia masuk sekolah, nggak akan hilang kok Reyhannya." Tembak Arga sambil memandangi wajah Tasya yang kini memerah akibat kata-kata ajaibnya itu. Kan? Arga itu bukan cuma aneh, juga...  serem.

"Nah, gue demen deh kalo si idiot ini mulai ngeluarin ramalan recehnya," ucap Aldi semangat empat lima dan mulai mengendus-endus ke arah Tasya ".... gue mencium benih-benih seharian rindu, nih!"

Saat itu Tasya hanya merespon dengan tawa kecilnya, jujur saja ia bingung menghadapi kedua makhluk di depannya itu.

"Aduuh, lo itu gemesinnya kelewatan, Tasya! Kenapa Reyhan duluan sih yang nemuin model beginian?!" Arga dengan serentetan ocehannya seperti anak baru yang menyesal nggak bawa topi pada hari senin.

Kruuyuuk kruuk~

Ah iya! Mikirin Reyhan terus-terusan sampai lupa kalo makhluk di perutnya itu juga butuh asupan gizi.

Tasya keluar dari kamarnya lalu menuju dapur dan hendak menyiapkan makanan.

"Neng!"

"Ya Tuhan, bi! Bibi masih di sini, ngagetin aja deh." Hampir saja piring beling yang baru ia ambil itu gelinding dari tangannya.

"He-he maafin, Neng. Habisan Neng bengong terus bibi liatin dari tadi, capek ya?" Tanya Bi Asih sembari membantu Tasya membawa hidangan makanan ke ruang makan.

"Bibi duduk dulu aja sini, temenin aku makan."

Bi Asih pun duduk dan memandangi Tasya yang sedang menikmati makanannya, ia sedikit bingung. Tumben-tumbenan Tasya makan minta ditemani, biasanya juga makan sendiri.

Hening ....

Sampai terdengar Tasya menuangkan air putih ke gelas lalu minum, belum ada yang bersuara. Karena memang ia di didik oleh orang tuanya untuk tidak pernah berbicara hal yang tidak penting ketika sedang makan.

"Bibi itu kan berpengalaman, aku mau tanya sesuatu sama bibi," ucap Tasya yang sudah diketahui bi Asih pasti nona mudanya ini sedang ada masalah.

Memang setiap Tasya sedang sumpek dengan dirinya sendiri, ia selalu memulai obrolan dengan bi Asih. Apapun obrolannya minumnya tetap teh botol sos--- eh kok malah iklan. Apapun obrolannya Tasya menjadi lebih tenang dan tidak merasa kesepian.

Bagaimana tidak? Ia sendirian dirumah dan itu bukan keinginannya, ia bahkan ingin mempunyai saudara, baik laki-laki atau perempuan yang bisa menemaninya ketika ia sedang merasa sendirian di negeri yang terbilang milliaran penduduknya.

Betapa malang kehidupannya, saudara sekandung tidak punya. Sekalipun ada saudara, sangat jauh di negeri Arab. Ibunya meninggal dunia karena insiden kecelakaan. Papanya sibuk mencari nafkah untuknya. Tuhan memang Maha Segala Atas Sesuatunya.

"Mau tanya apa Neng? Sok, atuh."

"Kalo bedanya suka sama cinta itu gimana menurut bibi?" Oh... soal cinta, ini sih bi Asih pakarnya kalo soal beginian.

"Begini Neng, kalo suka itu kita perlu melihat dulu apa yang kita sukai dan kenapa kita bisa suka.. jawabannya karena kita memandang dan mengagumi apa yang kita lihat."

"..... Tapi, kalo cinta itu pakai rasa, dirasakan, dipahami tanpa memandang atau menilai sesuatu itu. Wah kalo soal cinta itu lebih luas dan dalem deh, Neng. Kalo bibi bikinin novel tuh nggak akan cukup ratusan halaman."

Helaan nafas bi Asih terdengar seperti akan melanjutkan perkataannya yang menjadi kunci dari jawaban Tasya seharian ini.

Ia bingung, sangat bingung. Apa benar ia mulai mencintai Reyhan? Atas sebab apa ia mencintai Reyhan? Bahkan cinta pada lelaki asing itu bagai tabu baginya. Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya, perasaan yang bahkan melebihi kekhawatiran yang dahsyat.

"Contohnya gini deh Neng yang gampang, Neng kan suka banget nih sama bunga Melati, alesannya pasti karena bunga itu cantik dipandang, harum, indah dan sejuk di hati ketika kita pandang.....

".... Jawabannya udah jelas kan Neng tentang suka?" Tanya Bi Asih yang didapati anggukan oleh Tasya.

"Jadi, suka itu tergantung dengan cara apa kita memandang nya kan, Bi?"

"Betul! Karena nggak semua orang itu suka sama apa yang kita sukai, beda sama cinta... Kalo cinta itu melebihi kata indah, Neng. duh bibi jadi malu nyerocos terus, kayak pakar percintaan gitu deh, Neng."

"Lanjut bi..." Pinta Tasya yang masih menunggu penjelasan pakar cinta di hadapannya.

"Bibi ambil contoh dari seorang ibu yang hamil deh, Neng. Kalau ibu yang hamil, apa dia pernah melihat wujud sang janin?"

"Nggak, bi. Paling kalo udah bisa USG doang kan, bi?"

"Bener. Tapi, walaupun begitu. Sang ibu langsung merasakan cinta yang amat dahsyat ketika ia tahu bahwa ia sedang mengandung buah hatinya. Bahkan nyawa pun rela jadi taruhannya agar seseorang yang ia cintai di dalam rahimnya bisa selamat ketika proses melahirkan...

"... Jadi itulah cinta Neng, kalo suka itu belum tentu kita mencintai apa yang kita sukai. Tapi, kalau cinta beuh kata orang dulu sih jigong aja rasa coklat, Neng." Jelas bi Asih yang langsung mengundang tawa Tasya. Asli, ngakak.

"Terus kalo bedanya rindu sama kangen apa, bi?"

"Aduh, Neng dari tadi obrolan kita begini amat sih, bibi jadi inget masa-masa abege..."

"Bi, perut aku sakit, bi. Bibi ngelawak terus. Aku jadi penasaran sama masa abege nya bibi," ucap Tasya diiringi tawa menggelar bi Asih. Loh? Bi Asih kalo ketawa serem banget! Mirip ganderuwo gitu. Ngeri.

"Kalo di inget-inget bibi suka geli-geli jijik gitu, Neng. Apalagi kalo di ceritain, takutnya Neng muntah-muntah. Enek." Tasya tak kuasa menahan tawanya, bi Asih ini kalo udah kena ngobrol.... Kang Sule? Lewat!

"Tapi, Neng. Menurut bibi, kangen itu masih dalam batas wajar. Sedangkan rindu itu duh udah gak ada obatnya, Neng. Cuman satu, obat dari segala obat rindu. Yaitu, bertemu..."

"Bibi udah pantes jadi penasehat percintaan belom nih, Neng?" Tanya Bi Asih menaik turunkan alisnya. Ha-Ha

"Pantes kok, bi. Lebih pantes lagi bibi jangan ngayal, bi," ucap Tasya terkekeh sembari meninggalkan bi Asih yang sudah memanyunkan bibirnya.

"Ohya! Makasih bi Asih sang pakar cinta," godanya pada bi Asih lalu menaiki tangga hendak masuk ke singgasananya."

Tasya merutuki pikirannya yang masih saja berkecamuk, seakan-akan ada peri yang beterbangan di bahu kanan dan kirinya.

Peri bahu sebelah kanan bilang, "telpon aja Reyhannya, tanyain kabar dan kalo perlu besok langsung jenguk kalo dia nggak masuk lagi..."

Peri sebelah kiri pun menyahut, "telpon? Nomernya aja lu nggak megang, lagian gengsi dong kalo harus cewek duluan yang hubungin."

Sudahlah! Batin dan otaknya terlalu banyak berpikir hari ini, sekarang yang harus dilakukan hanyalah. Berhenti.

Berhenti memikirkan apa yang tidak seharusnya dipikirkan oleh seorang Tasya Aira Winata. 

.

.

.

Love, Nur Intan.

Apa kabar kalian semuaa? Semoga masih berkenan bacanya hehee.

InsyaAllah setelah ini aku akan update 2minggu sekali paling lambat. Gak akan berbulan-bulan, janji!

Oh iya, aku bakalan private secara acak ya cerita-cerita selanjutnya. Jadi, kalau kalian nemuin cerita yang ganjal, oh berarti harus follow dulu😉 maafin yaaa❤

Boleh kali ya minta vote 30 aja untuk lanjut chapter 12? Komennya jangan lupa, komen kalian seru-seru😂

CANDUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang