Putih Abu #Prolog

22K 588 24
                                        

Seluruh murid taman kanak-kanak di pinggir jalan berhamburan keluar setelah bunyi bel pulang. Mereka lari tergesa menuju kendaraan yang menjemput karena kepulangan makhluk kecil menggemaskan ini tentu sangat dinantikan oleh orang tua mereka.

Kecuali sepasang anak sebaya dengan seragam berwarna hijau melekat di tubuh, malah memilih duduk di bangku bawah pohon sambil membuka tempat makan berisi camilan manis. "Ana, mau kue gak?" Tanya anak laki-laki bertopi hijau menawarkan kue di dalam tempat makan.

"Aku bawa kok, rasa stroberi lagi kesukaan aku."

Mereka saling menawarkan, berbagi macam rasa sejak dini. "Kalo ada susu jadi lebih enak pasti." Anak laki-laki yang punya mata tajam nan tipis ini adalah Jeno ... nama lengkapnya tertera di seragam TK berwarna hijau itu, Rajeno Putra Aditya. Setiap sedang bicara, sepasang matanya ikut membentuk senyum manis yang senada-kompak dengan bibirnya.

"Aku bawa susu!" Di sebelah Jeno ada gadis kecil yang dipanggil Ana. Ia sering menghias kuncir rambutnya menggunakan pita hijau. Paramitha Anandhin, tulisan nama di seragamnya.

Alasan kenapa Ana duduk berdua bersama Jeno di sana karena jemputan mereka belum datang. Rumah Jeno dan Ana sebelahan alias tetangga, jadi orang tua siapa pun yang datang lebih dulu, tetap bisa pulang sama-sama karena satu arah membuat mereka selalu berdekatan.

"Ibu kok belum dateng-dateng sih?" Ana sendiri adalah gadis yang pendiam sebenarnya. Tidak banyak bicara jika sedang bersama orang lain.

Orang lain yang dimaksud adalah teman yang tidak dekat. Kecuali anak laki-laki bernama Jeno ini yang selalu mengajak Ana bermain dan tidak pernah bosan memunculkan topik pembicaraan. Kalau boleh dikatakan, Jeno bukan cuma sekadar tetangga saja, tapi adalah teman pertama yang bisa diajak berkomunikasi dengan baik oleh Ana. Teman yang selalu menghampiri Ana di saat keadaan apa pun atau sedang di mana pun.

"Oh... itu Mama ku!" Jeno beranjak dari kursi tiba-tiba. Semangatnya tertular kepada Ana yang buru-buru bergerak memasukkan kotak makan ke dalam tas ransel. "Ayo! Na," ajak Jeno.

Tanpa sadar karena tidak mau Ana ketinggalan, Jeno menarik tangan Ana sebelum memutuskan berlari kencang. Dua anak-anak berseragam hijau itu saling berpegangan tangan. Kompak sekali menyamakan langkah kaki menuju kendaraan orang tua yang menjemput mereka.

Betapa manisnya masa kecil dua anak ini hingga membuat seorang Ibu tersenyum lebar melihat dari motor yang ia duduki. "Aduh... udah nunggu lama ya? Maaf Mama tadi kena macet di jalan," tutur Mama Jeno.

~ ~ ~

Sembilan Tahun Berlalu.

Ana dijemput oleh ibunya di depan sekolah ... namun kali ini tidak ada Jeno yang menggandeng tangannya seperti saat TK dulu.

"Maaf ya Na, nunggu lama," kata Ibu.

"Gak lama kok, Ana juga baru aja keluar Bu." Dahulu kala Ana masih terlihat muat memakai seragam TK berukuran kecil berwarna hijau itu. Sekarang anak gadis ini telah tumbuh dewasa dengan seragam SMP dan rok biru selututnya.

Sembilan tahun sudah berlalu ... rasanya terlalu cepat bagi mereka yang hanya melihat dengan mata kepala saja. Namun bagi Ana yang menjalaninya sendiri, terasa berjalan sangat lambat karena harus berpisah-temu dengan Jeno semenjak masuk SD.

Anak laki-laki itu melanjutkan ke sekolah swasta sedangkan Ana harus masuk negri. Perbedaan pilihan membuat sepasang anak bertetangga ini jadi berbeda sejak dini.

Jeno tak pernah sekali menyapa Ana padahal rumah mereka menempel. Suatu sore waktu Ana SD ... Ibu sedang menyiram tanaman di depan rumah dan Ana duduk di tangga, menemani. Lalu pagar rumah Jeno terbuka. "Itu Jeno, Na. Sapa dong," bisik Ibu.

Ana menggeleng pelan, tapi diam-diam menatap anak laki-laki itu dan tersenyum, berharap Jeno menoleh duluan. Detik berikutnya, Jeno naik ke mobil jemputan tanpa sekali pun melirik. Ibu tidak komentar apa-apa, hanya mengelus pucuk kepala Ana pelan, lalu kembali menyiram tanaman. Tapi justru karena Ibu diam itulah Ana merasa ini kejadian penting. Sesuatu yang bahkan Ibu tidak bisa perbaiki. Senyum yang tidak terbalas. Sampai sekarang, setiap pagar itu terbuka, dada Ana masih ikut mengetat.

Lalu, tiba kabar kalau laki-laki itu melanjutkan sekolah swasta lagi untuk pendidikan SMP. Dan tidak terasa waktu kelulusan bangku SMP pun sekarang sudah tiba di depan mata. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Apa kabar Jeno? Ana tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Terakhir kali melihat Jeno saja mungkin saat SD. Bagaimana bisa mengetahui kabar? Seorang Ana sedang beranjak dari masa kanak-kanak menuju remaja. Ingatan soal Jeno dahulu kala terlalu manis untuk terus terbayang dalam pikiran. Perasaan yang awalnya dicap teman, sekarang sedang perlahan berubah jadi rasa ketertarikan yang berbeda, terasa agak aneh tapi nyata.

Tidak banyak ingatan Ana tentang Jeno. Intinya mereka pernah bahagia dan sering menghabiskan waktu di TK bersama. Satu yang paling Ana ingat mengenai Jeno adalah rupawan dan baik hatinya laki-laki itu. Wajahnya tampan, kulitnya putih, matanya selalu ikut tersenyum jika bibirnya sedang menampakkan senyuman. Jeno terlalu sempurna untuk digambarkan dengan kata-kata.

Dahulu masa TK yang menyenangkan berlalu secepat hembusan angin. Di SD pun tidak terlalu indah seperti apa yang ada di ekspektasi. Meski di bangku SMP ini agak mengesankan karena Ana bertemu beberapa sahabat-sahabat terbaiknya. Dan entah pula dengan SMA nanti ... apa mungkin sekolah tingkat selanjutnya itu akan mempertemukan Ana dan Jeno kembali? Mungkin saja, kalau takdir menyetujui.

Sekarang ini Ana malah melamun menatapi jalanan. Laju kendaraan roda dua yang dikuasai Ibu terlalu lambat membuat angin perlahan mempersilakan para pelintas untuk menikmati sejuknya.

Di tengah kegiatan menghirup angin sejuk ini, kepala Ana memikirkan soal ujian nasional yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

"Na, udah kepikiran mau SMA di mana?" tanya Ibu tiba-tiba, memecah lamunan Ana.

Pertanyaan itu membajak pikiran Ana. SMA? Jeno bakal SMA di mana? Masih sama kayak dulu swasta? Atau jangan-jangan...

"Na ... kamu udah makan belum?" Ibu bertanya lagi karena tidak sadar baru saja memindahkan isi kepala putrinya dari UN ke anak tetangga sebelah. Sepasang mata fokus menatap jalanan tapi hati dan pikiran hanya mencemaskan kondisi putri bungsunya.

Lamunan Ana terpecah. "Udah pagi tadi sih, Bu," jawabnya bersama angin kembali menerbangkan helai surai Ana.

"Loh... sekarang kan udah siang gini berarti otomatis kamu belum makan siang?"

"Biarin, Ana diet, Bu." Kaca spion di bagian sebelah kiri setang kemudi sengaja Ibu belokkan agar bisa menatap wajah Ana dari sana. Kerutan dahi yang ditunjukkan Ibu lewat spion berhasil sekali membuat Ana mendecak. "Ck, serius!"

Ibu geleng-geleng. "Tapi tumben, Na... kamu kan paling anti sama diet-diet katanya love yourself."

"Ih... iya lah. Bentar lagi kan Ana SMA, siapa tau satu sekolah sama Jeno. Harus keliatan lebih bagus dari pada pas kecil terakhir kali dia liat itu." Ana terang-terangan mengakui perasaannya membuat semua orang jadi tahu kalau itulah kelemahan seorang Paramitha Anandhin.

Sang Ibu yang paham hanya diam tidak berkomentar. Dari kaca spion hanya mengangguk saja. "Padahal nih ya, kalo kangen tinggal nongol depan pintu ... ngapain pake berharap satu sekolah segala? Dasar ABG ... katanya suka, tapi kalo papasan malah ngumpet. Jadi asing deh."

Ana tahu betul Ibu sedang komat-kamit meledeknya. Apalagi sekarang sembunyi-sembunyi menahan senyum yang tampak jelas dari kaca spion. "IH... IBU MAH!"

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang