Putih Abu #Duasatu

2.4K 117 42
                                        

Hari mulai larut ... setelah salat Magrib, Ana melangkah menuju ke rumah Jeno untuk mengerjakan tugas kelompok.

Sesuai seperti intruksi guru Biologi yang disuruh membeli tanaman bunga untuk dijadikan bahan laporan proses fotosintesis. Secara mudah Ana dan Jeno memilih bunga sepatu berwarna kuning yang kebetulan orang tua Jeno memilikinya di rumah.

"Fotonya dari pas sebelum tumbuh berarti ya?" Jeno bertanya dengan tangan sudah siap memegang kamera.

"Iya, kan dari tahap pertama," sahut Ana.

Jepret—cahaya lensa kamera menyala terang menangkap foto, Ana refleks memejamkan mata karena masih terkejut oleh cahayanya. "Langsung aja beli bunga sepatu yang bunganya banyak kan? Terus beli yang kuncup juga, yang tunas, sama bijinya, terus nanti fotoin satu-satu. Gurunya gak bakal tau kita beneran ngamatin atau enggak?"

Jeno sejenak merenung sambil menurunkan kamera. "Kayaknya Bu Sopa emang bilang gitu deh kemaren, suruh beli yang udah jadi karena jangka waktunya sebentar," gerutunya.

"Nah, ya udah sekarang kita tinggal jalan cari toko taneman yang masih buka," kata Ana.

"Emang masih ada ya jam segini tukang bunga yang buka? Besok pagi aja atau gak hari Sabtu, kan waktunya dua minggu," saran Jeno.

Ana mengangguk paham sambil memandangi satu bunga sepatu di pot. "Dua mingguan lagi bagi rapot ya padahal?" tanyanya, baru ingat.

"Iya—aneh kan Bu Sopa masih ngasih tugas kelompok di detik-detik terakhir mau kenaikan kelas. Dikira dia guru yang ngerti muridnya."

"Kenapa ya?" Ana juga tidak paham. Seiring matanya menoleh menemukan Jeno sedang mengarahkan kamera kepadanya.

Laki-laki itu seperti ingin mengambil gambar tapi sebelumnya tersenyum dengan sebelah mata jadi fokus utama untuk menatap lensa. "Mungkin aja Bu Sopa kekurangan satu nilai. Tapi dia baru sadar pas ngisi rapot anak-anak—jadi gini." Jeno bicara sambil terus memainkan kamera, tapi tidak kunjung di potret sudut mana pun.

"Ya udah, gue balik deh ya." Akhirnya Ana ingin undur diri saja dari kerja kelompok tak jelas ini.

"Oke." Jeno mengangguk-angguk pun bersama kamera di depan wajahnya. Masih menatap oleh sebelah mata lalu jari telunjuk tangan kanannya akhirnya menekan tombol potret juga.

Cekrek—"Heh!" sentak Ana, terkejut.

Jeno tersenyum sambil menurunkan kamera yang sudah punya jepretan bagus. Ia menunduk memeriksa hasil fotonya di lensa tanpa senyuman yang kunjung pudar. "Udah selesai foto bunga. Sana, tidur yang nyenyak ya," kata Jeno.

Sepasang pipi Ana entah mengapa terasa panas, mungkin saja kelihatannya sedang merona. Kalau benar, ia malu sekali—buru-buru berjalan kabur, tangannya membuka pagar rumah dengan cepat dan tujuannya lurus berlari sampai ke kamar. Wajah seperti kepiting rebus ini harus segera disembunyikan karena sungguh memalukan.

Sedangkan Jeno di depan teras rumahnya hanya terkekeh kecil, mengingat ekspresi panik Ana yang natural. Sejenak ia jadi sadar bahwa sifat perempuan yang satu ini memang hanya bisa ditemukan di dalam diri Ana—belum pernah ia lihat ada di perempuan-perempuan lainnya.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang