SMA 5 Kusuma Jaya.
"HA— TCHIM!"
Jam menunjukkan pukul 06:55 pagi. Lima menit sebelum bel upacara berbunyi, Yuhi baru sampai di sekolah. Gadis itu memasuki kelas sambil bersin-bersin membuat teman-temannya menoleh ke arahnya. Selain Ana, ada Lili, Angel, Maudy juga yang menunggu bel masuk di kelas 10 Bahasa 1.
"Kok lu bersin-bersin sih, Hi. Sakit?" tanya Lili, yang masih ingat semalam Yuhi baik-baik saja dan keadaan gadis itu belum memprihatinkan seperti sekarang ini.
"Ketularan Haechan kali. Kemaren kan selimutan pake satu jaket berdua," celetuk Ana, seisi kelas menjadi ribut bergemuruh menyoraki perkataannya. Yuhi bahkan geleng-geleng, malu sendiri kalau mengingat momen di bis kemarin.
"Iya-iya gue liat. Tidurnya saling senderan lagi," kata Lili, malah menambahkan bumbu-bumbu sedap.
"WADUH!" sentak anak-anak 10 Bahasa 1.
"Bacot lo semua ya, diem," protes Yuhi, menaruh tas di kursi sambil mengambil topi dari dalam sana.
Sebenarnya ada satu hal yang Ana simpan sendiri sejak akhir pekan, satu notifikasi dari Jeno yang belum ia buka. Bukan tidak sempat— lebih ke sengaja. Setiap kali jempolnya mau menyentuh nama itu di layar, suasana bis malam Sabtu terngiang duluan, dan Ana buru-buru berpindah ke aplikasi lain seperti orang kabur dari tanggung jawab. Ah, sudah. Urusan besar hari Senin ini kan cuma satu, menyaksikan Yuhi yang bersin-bersin mengejutkan seperti petir di siang bolong.
Seperti tradisi di setiap sekolah pada umumnya setiap hari Senin, semua murid berbaris di lapangan untuk melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Kali ini barisan anak-anak angkatan kelas 10 sungguh sedikit karena sepertinya banyak yang tidak masuk sekolah akibat kelelahan dari acara pelantikan kemarin.
Kelas 10 Bahasa 1 selalu berbaris di paling pojok dan mayoritas muridnya adalah perempuan. Mereka hanya memiliki sembilan orang murid laki-laki, termasuk Jeno dan Renjun yang selalu berdiri paling awal saat upacara.
Biasanya yang berdiri di sebelah barisan kelas 10 Bahasa 1 adalah kelas 10 Bahasa 2, tapi karena kelas itu bertugas untuk menjadi petugas upacara, maka sekarang yang mengisi barisan samping mereka adalah 10 Mipa 1 di mana kelas tersebut adalah kelas dari Bara, Maudy, Haechan dan Jaemin.
Ana terkekeh saja melihat Lili, si anak 10 Bahasa 2 jadi ikut berbaris dengan anak kelasnya karena tidak kebagian peran menjadi salah satu petugas upacara. Tak lama, gadis itu menoleh pada Ana yang bersebelahan.
"Samping kita anak Mipa ya jadinya?" tanya Lili.
Ana mengangguk saja. "Iya, kan anak kelas lo pada jadi petugas upacara, Lil."
"Tuker dong Na, lo sebelah sini," pinta Lili, tiba-tiba saja berfirasat tidak enak. Tentu saja Ana menggeleng keras membuatnya jadi melirik ke barisan di samping Ana. Akhirnya ia menemukan jawaban kenapa Ana tidak mau bertukar posisi karena di samping sana adalah barisan anak laki-laki bahkan sekarang Ana sejajar dengan Jeno. "Hm, pantesan," kata benak Lili.
Ana tersenyum sambil menautkan alis, memberi kode rahasia pada Lili. "Ah, lo mah. Kalo nanti gue jadi sebelahan sama Jaemin gimana? Males disindir anak kelas sebelah," keluh Lili, namun Ana tetap kukuh menggelengkan kepala.
Paling tidak, berdiri sejajar dengan Jeno hari ini tidak semenyedihkan momen malam magrib di bis. Mereka sudah sepakat tidak membahas apa pun soal itu— atau setidaknya Ana yang sepakat sendirian. Sesekali barisan dirapatkan dan bahu mereka nyaris bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, Ana langsung sibuk memerhatikan rumput lapangan seperti sedang mencari kesibukan.
"Lili...." Dan benar sekali apa yang baru saja Lili takutkan. Jaemin muncul berdiri di sampingnya sambil tersenyum manis.
"Ngapain lo di sini? Yang tinggi di depan kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Romansa"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
