Putih Abu #Tujuhbelas

2.3K 112 26
                                        

"Lili belom balik juga nih. Padahal udah gue tandain dispen tadi ke guru," gerutu Gina.

Di sisi lain lapangan, Marching Band Colorguard juga memulai latihan. Waktu mereka tinggal dua hari sebelum lomba haru Jum'at, jadi semua anggota harus izin pada jam pelajaran.

"Langsung aja deh mulai, Lili kayaknya sibuk." Gina memberi kode, disambut senyuman penuh makna dari teman-temannya.

Lapangan basket dipenuhi dua ekskul yang fokus berlatih. Lomba besar itu berlangsung di hari Jumat, otomatis hari Rabu dan Kamis menjadi kesempatan terakhir mereka untuk menyatukan gerakan. Dua ekstrakurikuler yang punya nama besar di sekolah, yaitu Paskibra dengan Marching Band, citranya sudah sangat baik jadi tidak boleh dirusak hanya karena waktu latihan singkat ini.

Latihan berjalan lancar selama 30 menit sampai Yuhi tak sengaja melempar Colorguard dengan cara yang salah. Bendera warna-warni itu jatuh mengenai wajahnya. Dahinya terasa perih, tetapi ia tetap melanjutkan gerakan.

"Yuhi, jidat lo bengkak." Ana langsung panik menemukan gemuknya jidat Yuhi.

"Sakit sih," keluhnya.

"Ya udah obatin dulu ih."

"Tanggung ah, nanti aja."

Setelah menyelesaikan serangkaian gerakan, Yuhi berlari ke arah tas ranselnya dan mengambil cermin. Benjolan besar tampak di dahinya. Di tengah memar itu ada robekan tipis yang mengeluarkan darah.

Angel, yang memiliki jam kosong, sedang menonton latihan. Matanya membelalak kaget melihat dahi Yuhi. "IH LO KENAPA, HI?"

"Biasa aja woy, gak usah tereak-tereak." Pasukan sebelah protes terganggu, Angel pun bangkit dari pinggir lapangan.

"Cewek lo luka tuh anj-." Baru akan mengumpat, pembina ekskul Paskibra datang ke tengah pasukan. "Anjay Bu Yonta ... untung gue gak jadi ngomong anjing," bisik Angel, ditertawai para gadis Marching Band yang mulai beristirahat.

***

"Ayo, keluar." Lili yang mulai menyadari Jaemin sudah pulih, mengajak laki-laki itu meninggalkan UKS. Mereka sudah hampir berjam-jam berada di sana, sementara beberapa orang yang hendak masuk jadi mengurungkan niat.

"Lemes sayang...," keluh Jaemin.

"Haduh, untung jantung gue masih kuat," gumam benak Lili sambil menghela napas. "Gue bantuin... yang penting keluar dulu dari sini. Gak enak sama kakak kelas."

Lili membereskan obat-obatan, gelas, dan kotak makan yang sudah kosong. Ia menatap Jaemin yang masih bersandar dengan senyum aneh. "Ayo kenapa malah diem?"

"Bantuin turunnya dong. Sini tangannya."

"Astaghfirullah, emang lo balita apa? Turun dari ranjang aja harus dibantuin, badan tinggi gitu juga ih... Pramudya Jaemin Nababan." Omel Lili.

"Kan masih lemes sayang, nanti kalo jatuh gimana?"

"Jatuhnya kan ke pelukan aku, sayang...."

"Asik... ya udah, mau jatuh aja ah," kata Jaemin.

Jaemin dan Lili keluar dari UKS akhirnya. Gestur manja Jaemin yang terus menggenggam tangan Lili membuat satu lapangan menoleh.

"Liat... gue bilang juga apa. Jaemin cuma modus doang, pura-pura sakit itu." Haechan menggerutu, disusul tersedaknya Jeno yang sedang meneguk air.

"Tai, manusia kurang belaian." Chenle ikut kesal.

Semua sudah dibuat khawatir karena lomba tinggal dua hari, tetapi ternyata Jaemin memanfaatkan sakitnya sebagai taktik.

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang