Putih Abu #Delapan

2.8K 145 7
                                        

"Nah, ini kan jadi rada terang." Barak para gadis Colorguard dipindahkan ke depan, tepat berada di lorong yang sama dengan barak Paskibra, mungkin jaraknya hanya berbeda tiga ruangan saja. Tapi anehnya Sanha dan Haechan yang tadi melewati barak mereka malah tidak sadar akan hal tersebut.

"Yuhi, nih pindahin aja barang-barang lo kesini." Maudy yang membawa banyak camilan di tas lainnya, segera mengeluarkan semua isi dari tasnya lalu memberikannya kepada Yuhi.

"Loh, bawa tas dua, Dy?" Sedangkan Yuhi masih kebingungan, pasalnya tasnya begitu kotor karena kejatuhan bangkai tikus. Sekarang jadi menjewer tasnya sendiri dengan jijik.

"Iya, satunya buat ciki-ciki. Tapi gue lupa malah gue taro pojok. Baru sadar pas tadi pindahan," kata Maudy.

"Yah... udah sini-sini gue laper," sambar Bara, seraya mengambil beberapa camilan ringan yang berhamburan di hadapannya.

"Ya udah makan aja gih. Biar tasnya bisa dipake sama Yuhi." Maudy menyetujui, berhubung sudah dikeluarkan semua pasokan camilannya.

"Thankyou, Dy."

Di tengah hangatnya suasana barak, tiba-tiba listrik padam lagi. "Astaghfirullah... lagi?" Bukan hanya Ana yang terkejut, tapi seisi barak juga refleks berteriak.

Selain teriakan normal, ada teriakan lain yang agak aneh terdengar seperti kesurupan lagi. "Sebelah kita siapa sih?" tanya Lili, agak heran kenapa banyak sekali peserta pelantikan yang kerasukan makhluk halus.

Teriakan dari satu ruangan tentu akan terdengar ke seluruh ruangan yang ada di satu lorong yang sama. "Shit.... Anak basket gandeng banget dah." Celetuk Chenle yang padahal tadi sudah lelap tertidur.

Siapa sangka barak Paskibra dan barak Marching Band Colorguard hanya dipisahkan oleh barak ekskul Basket. Tentu saja kedua belah pihak sama-sama merasa terganggu terhadap sumber yang sama.

"Mati lampu mulu lagi.... Nih gedung emang udah bener-bener tua kayaknya," gerutu Jaemin sambil mulai menyalakan senter yang mudah dijangkau.

Tak lama lampu kembali menyala dan suara teriakan orang-orang yang terkejut bercampur kesurupan kembali terdengar. "Ada yang kemasukan lagi?" tanya Jeno, heran sekali.

Benar sekali... kali ini di barak Marching Band seorang teman dari para gadis ternyata tiba-tiba diam, lalu menangis tidak jelas bahkan sampai menjerit lantang seperti kesakitan setelah itu.

"Luna, istighfar Lun." Untung saja ada seorang guru agama yang punya beberapa ilmu mujarab datang untuk mengatasi masalah ini.

Ana dan teman-temannya yang melihat kejadian kesurupan secara langsung di depan mata mereka merasa semakin ketakutan. "Pak, Luna udah gapapa?" tanya Gina, sang ketua barak yang khawatir melihat temannya tergeletak pingsan.

"Gapapa, dia ini mungkin ngelamun pas mati lampu tadi. Makanya yang lain jangan ngelamun ya. Kalo bisa mendingan banyak-banyak ngaji bareng, supaya yang lagi halangan bisa terlindungi juga," kata Pak Guru.

Pukul 01:30 tengah malam. Saat seisi barak terpukul dan tidak bisa tidur karena kejadian kesurupan tadi, akhirnya memilih mengambil juz'ama atau buku surat pendek lalu bersama-sama membaca lantunannya.

Jeno yang juga masih terjaga hanya bisa tersenyum mendengar suara-suara merdu para gadis yang sedang melafalkan ayat suci Al-Quran. Suasana seketika jadi tenang. "Kenapa anak basket jadi serajin ini?" Dalam benak Jeno, tiba-tiba berpikiran negatif. Padahal bukan anak basket yang melantunkannya.

Perlahan sepasang mata Jeno tertutup setelah sempat ikut melafalkan ayat suci Al-Quran di dalam hati. Semua peserta tertidur dengan lelap... sampai azan subuh berkumandang pada pukul 04:21 pagi.

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang