Putih Abu #Duapuluh

2.5K 118 7
                                        

Sebenarnya Yuhi tidak tega bicara begitu, tapi Renjun harus berhenti berharap sekarang. "Ren, gue bukannya bikin lo tambah potek nih, tapi Maudy kan udah deket sama yang lain."

"Hah?" Sudah sebelumnya dapat kalimat tegas tentang perasaan Maudy, sekarang harus dapat kabar mengejutkan juga. "Siapa?" tanya Renjun.

Yuhi sedikit ragu untuk buka suara. Memang bukan termasuk rahasia informasi itu, apalagi kalau nanti Maudy sudah jadian. Jadi, setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya mengatakan kepada Renjun. "Kak Lucas," kata Yuhi.

Mendengarnya tidak begitu terkejut karena Renjun sudah tahu orang-orang yang menunggu momen kesendirian mantan pacarnya itu. Ia hanya mengangguk pelan bersama rasa yang sedikit sakit di hati, membuatnya tersenyum karena baru sadar ternyata move on itu sulit.

"Coba deh, kalo masih penasaran chat aja Maudy. Kalo dibales syukur, kalo enggak ya udah ... gak ada harapan lagi," kata Yuhi.

"Gue masih kontakan kok sama Maudy. Kemaren dia mau ngobrol ... balesin chat gue kayak biasa," kata Renjun sambil tersenyum bangga.

Sekarang giliran Yuhi yang  hanya diam sambil mengangguk-angguk paham. Tidak tahu harus berkata apa, kalau boleh membandingkan kakak kelas yang sedang dekat dengan Maudy atau Renjun? Mungkin keduanya punya keunggulan berbeda dan tidak ada yang lebih buruk.

"Maudy, cabe-cabean. Awas aja kalo ampe php ke dua cowok sekaligus!" Yuhi menggerutu di dalam hati karena jadi punya firasat buruk.

Saat jam istirahat tiba, Yuhi membahasnya lagi di kantin. Tentang Renjun yang bertanya soal perasaan Maudy dan juga posisi Kak Lucas.

Namun, gadis itu nampaknya tidak peduli. "Yah terserah gue lah, lagian siapa suruh ngedeketin lagi." Maudy hanya bercanda tetapi malah dapat respons serius dari teman-temannya.

Refleks Yuhi yang geram memukul kepala Maudy dengan sumpit kayu yang akan digunakan untuk makan mie ayam. "Aduh!" Maudy jadi memegang kepalanya sambil pasang wajah kaget.

"Gue siram kuah baso juga nih, Dy." Angel pun ikut kesal.

Makanan di meja mereka semakin lama mulai semakin dingin. Bukannya maka siang malah sibuk bergosip, sampai seseorang tiba-tiba duduk di bangku kosong sebelah Maudy tanpa izin.

"Maudy."

Laki-laki itu memanggil, tentu Maudy menoleh. "Eh, Kak Lucas—kenapa Kak?"

Para gadis hanya bisa saling melirik sinis karena tidak saling kenal dengan Lucas. "Pulang sekolah nanti, liat sparing basket bisa gak?" Alih-alih sibuk mengunyah makan siang, mata dan telinga tetap fokus mengawal gerak-gerik laki-laki yang sedang basa-basi di meja mereka ini.

"Loh, katanya Kak Lucas lombanya baru besok?"

"Iya, hari ini mau latihan bareng lawan. Kayak itung-itung pemanasan sebelum besok tanding beneran di turnamen," jelas laki-laki dengan sebotol minuman di tangannya itu.

"Oh gitu, iya deh, inshaAllah aku nonton."

"Uhuk!" Mendengar nada bicara Maudy yang sok manis sampai pemilihan katanya yang lembut sekali, Ana tak sengaja merusak suasana dengan tersedak tenggorokannya akibat pedasnya sambal racikan kuah bakso.

"Jangan insyaAllah Dek, harus nonton. Aku kan jadi semangat kalo kamu nonton." Lucas pun terus tersenyum di sepanjang kalimatnya, tidak mempedulikan keberadaan para gadis yang lain. Jarak duduknya dengan Maudy terpaut sangat dekat, sampai hampir mepet.

Karena geram, Gea menarik napas menyiapkan sesuatu untuk dikatakan. "Katanya mau kerja kelompok, Dy. Jangan sampe lo gak dateng—entar dicoret dari kelompok." Ia bicara sambil tetap menunduk, makan, seperti tidak mau menontoni Maudy dengan Lucas sama sekali.

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang