Rest area sore itu ramai seperti biasa. Para peserta pelantikan berhamburan mencari makan, oleh-oleh, dan toilet, sementara beberapa yang kalah kuat melawan kantuk memilih tertidur pulas di dalam bis.
Di antara mereka ada seorang laki-laki yang tertidur dengan damainya, tanpa tahu bahwa jaket merah kesayangannya sedang menjalani kehidupan baru yang jauh dari kata layak.
"Ren, Chan, kalian boleh turun buat beli oleh-oleh, istirahat, toilet. Kita kumpul berangkat lagi abis sholat ashar," kata Mark, mengulangi informasi.
Renjun dan Haechan yang baru bangun dari tidur langsung mengangguk. "Oke Kang, makasi udah dibangunin," kata Haechan lalu meregangkan tubuh.
Saat teman sebangkunya meregangkan tubuh, Renjun menyadari ada sesuatu yang hilang dari pangkuannya. "Chan, lo liat jaket gue gak?" tanyanya seraya mencari ke kolong kursi, ke jalan di sisi kursi, ke depan tas dan seluruh sudut sekitarnya... jaket itu tidak ditemukan.
Kenangan terakhirnya soal jaket itu, terlipat rapi di pangkuannya, tepat sebelum matanya menutup di jalanan pegunungan. Sekarang pangkuannya kosong. Sama seperti perut Renjun yang ikutan kosong.
"Jaket lu yang merah?"
"Iya."
"Yang ada kepala Spiderman-nya?"
"IYA!"
Haechan menggelengkan kepala sambil merapihkan rambutnya sebelum ikut mencari. "Gak ketinggalan di barak?"
Mata Renjun masih mencari ke sana ke mari. "Nggak, mana itu gue beli di Official Marvel," keluhnya.
"Wah, mahal dong?"
"Menurut lo aja gimana."
***
Sedangkan di kedai bakso dan mie ayam Ana mulai menceritakan perihal jaket tersebut kepada yang lainnya. "Hahaha...." Mereka menertawakan kelakuan Yuhi yang begitu mudah menyerah dalam mencari kantong plastik.
"Makanya lo tanya dulu ke seisi bis. Jangan asal main comot-comot aja!" ledek Bara, tak bisa menghentikan tawanya.
Maudy ingin sekali tertawa kencang tapi sayangnya mulutnya sedang penuh dengan mie ayam. Dan... orang yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba datang ke sana bersama dengan gerombolannya.
"Mampus Hi, itu Renjun ke sini. Hahaha...." Ana meledek lagi sambil sedikit tertawa.
"Dy, lo liat jaket gue gak?" tanya Renjun langsung saja, pertanyaan yang sinkron dengan masalah yang tadi ditertawakan para gadis. Sedangkan para laki-laki Paskibra yang lain mulai menghampiri meja kasir untuk segera memesan makanan.
Sebentar mata Maudy melirik ke arah Yuhi sebelum menjawab. Temannya itu sibuk sekali memberi kode gelengan kepala, meminta agar tak usah mengatakan kejadian yang sebenarnya. Raut wajah Yuhi sangat menyedihkan membuat Maudy malah ingin tertawa lagi. "Iya ada di gue," kata Maudy, yang akhirnya membuat Yuhi bisa bernafas lega.
"Oh... kenapa bisa di lo? Mau dipake?" tanya Renjun lagi. Kali ini para gadis ingin sekali menertawakan Yuhi yang sungguh malang.
"Em, mau...." Maudy mempermainkan perkataannya untuk menjawab. Sengaja agar Yuhi semakin gelisah.
Plak! Baru saja Maudy akan melanjutkan jawaban, seluruh mata tertuju pada sumber suara yang nyaring. Seorang laki-laki baru saja ditampar pipinya oleh wanita di salah satu sudut kedai bakso. Antrian kasir sampai seantero meja makan pun menoleh ke satu titik yang sama karena terkejut.
"Brengsek! Jadi selama ini DIA yang kamu jadiin alesan terus!"
"Dengerin aku dulu!"
Bara terbatuk-batuk mendengar teriakan perempuan yang sedang mengamuk ini. Sepasang mata Ana tak bisa lepas dari gadis yang satu itu. "Kalo sampe lo gerak lebih jauh lagi bisa-bisa lo yang digampar kayak gitu sama Maudy, Bar." Benak Ana menggerutu, padahal ingin bisa menyampaikan semua emosi itu langsung pada Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Любовные романы"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
