"Turun lagi! Bisa push up gak kamu!" teriak seorang senior ekstrakurikuler Paskibra di tengah lapangan basket. Mereka sedang latihan sepulang sekolah ini. Suara-suara lantang sampai terdengar menggelegar ke luar area pagar.
Ana menoleh menukar mata dengan teman-temannya. "Kuat banget ya, yang ikut Paskibra," tuturnya, bergidik ngeri.
Apalagi setelah itu semua orang yang tersisa di sekolah bisa melihat dengan jelas adegan tangan seorang gadis yang diinjak oleh seniornya hanya karena salah postur saat sedang push up. "Aduh, sakit tuh pasti...," keluh Yuhi.
Seorang gadis dengan badan yang kurus dan tinggi di tengah lapangan menoleh ke teman sesama perempuan di sisinya. "Tuh kan, Rin... udah gue bilang gue gak cocok masuk ekskul Paskibra," bisik gadis dengan papan nama bertuliskan Gea di dadanya, selepas seniornya sudah menjauhi barisan dan puas memarahinya.
"Bisa Ge, badan lo kuat meskipun kurus. Tapi yang bikin gue mau minta maaf ngajakin lo masuk Paskibra tuh karena Chenle ternyata masuk Paskibra juga," ucap teman di sebelah Gea, dengan papan nama bertuliskan nama Herin.
"Gea Tritania Anwar!"
Mereka adalah dua gadis yang baru bergabung dengan latihan pertama di ekstrakurikuler Paskibra. Hanya Gea dan Herin saja yang berjenis kelamin perempuan di sana, sisanya laki-laki seluruhnya.
Salah satu senior Paskibra kembali menghampiri Gea di barisan paling akhir. "Kamu saya liat nungging lagi push-upnya... yang saya injek badan kamu nanti, bukan cuma tangan kamu." Setelah menatap sinis Gea yang hanya mengangguk. Senior tersebut kembali berjalan ke depan. "Kalo dikoreksi sama senior tuh jawab, siap iya Teh atau Kang! Bukan cuma ngangguk," teriaknya.
Herin menoleh kembali menatap Gea yang jelas disindir oleh senior. Tatapan takut akhirnya saling mereka tukar satu sama lain. "Paskib serem banget," keluh Gea.
Di sisi lain tempat Gea berbaris ada seorang laki-laki yang ikut menoleh. "Nanti keluar aja Ge, jangan dipaksain. Mumpung belum pelantikan," kata Teuku Chenle, seorang teman spesial Gea sejak lahir karena orang tua Chenle dan Gea sama-sama pensiunan tentara. Mereka sudah dekat bahkan sebelum dilahirkan karena tinggal di satu lingkungan yang sama.
"Apaan sih, Le. Gea harus kuat biar badannya bisa agak berisi nanti. Sekalian olah raga di Paskib," ucap Herin.
"Capek tapi Rin... gue mau keluar aja," bisik Gea, yang langsung agak kecewa dengan pemaksaan dari Herin. "Jangan mentang-mentang mau deket terus, jadi gak ngertiin batas kesanggupan gue. Masa Lele aja ngerti," kata Gea.
Chenle diam hanya mendengarkan perdebatan 2 gadis bersahabat dekat sejak SMP ini, lalu Herin menunduk. "Iya, gue kan cuma pengen bareng terus sama lo."
***
Hari ini berjalan dengan penuh teka-teki kehidupan. Entah dari Maudy yang ternyata sering bertengkar dengan pacarnya sampai Gea yang merasa tidak sanggup masuk ekskul yang berat seperti Paskibra.
Gea berjalan pulang menuju rumahnya. Yuhi yang baru menuruni mobil online pun melangkah ke arah gang yang sama dengan Gea. Lalu mereka sama-sama terdiam saling menukar mata dengan bingung.
Gea tersenyum saja untuk memecah suasana. "Lo anak Blok D sini ya?" tanyanya sambil berjalan mendekati Yuhi.
Yuhi ikut mendekat sambil mengangguk. "Rumah lo di mana? Gang sini juga?" Ia balik bertanya karena seragam SMA yang Gea kenakan sama dan ada dalam satu lingkungan perumahan yang sama pula mereka. Meskipun Yuhi belum sadar kalau Gea adalah gadis yang tangannya diinjak di lapangan tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Romance"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
