Double kill.
Triple kill.
Maniac.
Lili menghela nafas sambil kembali menduduki kursi miliknya. "Pake earphone aja," sarannya, berbisik dengan raut wajah masam. Tidak nyaman mendengar suara game tidak bermanfaat di sampingnya itu.
"Gak bisa. Ini gue di gang-bang, astatang.... Ren, lo ke mana sih anjir?" Jaemin masih fokus pada layar ponselnya tanpa kelihatan mau menoleh sedikit pun.
Sekarang Yuhi dan Renjun sudah bertukar posisi duduk menjadi bersama pasangan masing-masing. "Jaem, jaringan gue mendadak ilang." Renjun yang berada tepat di belakang Jaemin jadi bisa menyahut dengan mudahnya. "Ah, Jeno lu ngapain farming mulu. Bantuin gue... JENO!" Histeris Renjun yang setelah itu akhirnya terbunuh dalam game.
Ana beranjak dari kursinya. "Misi." Ia agak menyenggol kaki Jeno yang menghalangi jalannya. Laki-laki itu masih fokus pada layar ponsel hanya menggeser kaki tanpa melepas mata dari benda elektronik tersebut. "Pak, kalau mau karaoke boleh kan?" Ternyata Ana berjalan ke depan, hanya untuk menanyakan hal tersebut. Rasanya tak adil kalau para gadis terdiam bingung, bosan dan mengantuk di tengah suara game online yang mengganggu.
"Nah, bener. Ayo sini gue yang nyanyi," sahut Sanha.
Ana menyerahkan mikrofon ke arah laki-laki itu, lalu segera memilih lagu yang enak didengar. Sedetik setelah itu, Pak sopir menyalakan lampu kerlap-kerlip seperti layaknya karaoke di tempat bergengsi.
"Anjay!" Semua murid yang sedang tidur karena bosan hingga terbangun menyadari keadaan bis yang mulai berbeda. Lampu warna-warni di atas jajaran bangku bis menyala berkedip-kedip.
"Ah, matiin lampunya. Ganggu aja anjay," omel Renjun dengan dua tangan yang sibuk sekali menekan layar ponsel.
"Yang ada matiin Hpnya lah. Orang lagi karaokean juga." Maudy pun terlihat mulai kesal. Sedangkan Renjun mengangguk tanpa merubah posisi, masih fokus pada layar ponsel dan game online.
Di belakang mereka, ada Haechan yang sedang berjuang mempertahankan ponselnya dari sitaan gadis di sampingnya. "Ini terakhir Seng, sumpah!"
"Nggak... dari tadi bilang terakhir-terakhir mulu. Nyatanya gak ada akhirnya." Tanpa basa-basi lagi tangan Yuhi menekan tombol close, mengeluarkan Haechan dari permainan. "Udah kan, selesai."
"WOY, HAECHAN NGAPAIN LO AFK SIALAN!" sentak Jaemin, dengan mata tak berkedip menatap ponsel. Jari-jemarinya telaten menekan-nekan layar.
"HAECHAN... TOLOL, JADI GAK ADA MAGE!" Renjun mengomel juga karena peran Haechan dalam game rupanya cukup penting untuk kemenangan tim.
Yuhi mengembalikan ponsel di tangannya pada pemiliknya. Haechan menekuk wajah, tak mau menanggapi ucapan Jaemin ataupun Renjun soal dikeluarkannya ia dari permainan oleh gadis tak bertanggungjawab ini.
"Dih, Bar! Ngapain lo nelpon gue!" Renjun beranjak dari kursi menyadari gangguan besar terjadi pada permainannya yang bukan lain bukan tidak adalah munculnya telepon dari seseorang di tengah permainan. Tanpa sadar laki-laki itu bersentak pada gadis di seberang kursinya hanya karena kesal.
Maudy menoleh menyadari Renjun sedang bercakap dengan Bara. Terkejut... bukan hanya dirasakan Maudy tapi Ana dan Lili yang tahu betul akan situasi ini jadi mendadak menghentikan kegiatan.
"Yah... udah. Afk aja semua afk," kata Jeno, menyindir soal istilah keluar atau pemain tidak aktif lagi dalam permainan alias away from keyboard.
Keadaan menjadi canggung, Bara tersenyum ke arah Renjun yang terlihat baru menyadari kelakuannya. Laki-laki itu bersandar di kursi dengan pandangan kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Romance"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
