Putih Abu #Dua

4.9K 229 23
                                        

Kegiatan MOS hari terakhir selesai pukul 5 sore. Ana berjalan pulang bersama teman-temannya seperti biasa. "Tumben lo gak dijemput, Bar?" tanya Ana. Karena biasanya hanya Bara yang rutin diantar-jemput oleh ibunya yang mahir naik motor. Lebih tepatnya maksud Ana kalau jalan pulang ini tidak ada sosok Bara bisa jadi lebih menyenangkan.

Bara mendongak karena sedari tadi sedang menatap layar ponsel sambil berjalan. "Gak tau, Ibu gue gak bales," jawabnya, lalu kembali memandang ponsel.

"Katanya kelas kita diacak lagi ya nanti pembagian kelas 10," kata Yuhi, mengubah topik pembicaraan.

"Iya ih...! Potensi gue sekelas sama kalian jadi lebih tinggi," sahut Angel. Seperti biasa dengan teriakan kencang dan suara cempreng merusak pendengaran.

"Tapi, kayaknya gak mungkin semuanya sekelas." Lili membuat para gadis menoleh. "Soalnya kan kita nilai tesnya beda-beda.... Ada yang tinggi di IPA, ada yang IPS, atau mungkin Bahasa malah."

"Iya juga ya...." Ana langsung melamun mendengar opini Lili. Entah bagaimana kalau tidak sekelas dengan mereka, para gadis dari SMP yang sama ini. Pasti canggung karena Ana tidak mudah membuka diri dengan orang-orang baru.

***

Selepas 3 hari MOS dilaksanakan, akhirnya bertemu juga dengan akhir pekan. Malam di hari Jumat ini mungkin akan menjadi waktu istirahat yang pas untuk menebus kegiatan melelahkan selama 3 hari mengenali lingkungan sekolah yang baru.

Ana keluar dari rumah karena bosan, untuk sekadar cari angin saja di malam yang terang bulan. Tapi, lebih dari itu niat Ana sebenarnya adalah melihat apa yang sedang tetangganya lakukan.

"Ana."

Seketika Ana berbalik mendengar ada yang memanggil entah dari mana asalnya. "Siapa tuh?" tanyanya pada diri sendiri. Celingak-celinguk namun tidak ada perawakan siapa pun selain dirinya, kursi dan pagar rumah.

"Ana, ini gue." Saat sekali lagi suara tersebut muncul, Ana baru paham kalau itu suara seorang Jeno.

"Kalo jodoh mah gini nih," kata benak Ana, lalu menoleh ke arah rumah Jeno di samping rumahnya. "Lagi ngapain lo malem-malem nongol?" tanya Ana, akhirnya mulai beradaptasi dengan teman lama sekaligus teman pertama di dalam seumur hidupnya ini.

Jeno yang berada di balik pagar rumahnya berjalan keluar sambil membuka pagar besi itu agak lebar. "Gak ngapa-ngapain sih... duduk di teras aja. Lo ngapain?" tanya Jeno, berdiri di ambang gerbang.

Ana kembali memandang ke depan, tangannya ditaruh di sisi badan bertumpu pada kursi kayu. "Cari angin, bosen di dalem rumah," jawab Ana dengan jujur tanpa banyak dramatisasi.

Brum... di tengah perbincangan ini, suara kendaraan roda dua terdengar muncul memasuki gang dan berakhir berhenti di depan rumah Jeno. "Loh... ini dua anak muda. Ngobrolnya bukan di dalem malah ngalangin pager," kata Mama Jeno.

Jeno menggeser badan agar sang Mama bisa masuk bersama motornya ke dalam halaman rumah. "Bosen lah di dalem rumah terus, Mah," jawab Jeno, hampir sama seperti kalimat yang sebelumnya Ana ucapkan.

Laki-laki itu menatap Ana lalu menautkan kedua alis, tapi Ana malah menggeleng. "Plagiat," kata gadis itu saat Mama Jeno sudah melajukan kendaraan masuk ke dalam pagar lalu parkir.

Putih Abu! The Origin 2018Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang